Kisah Perjuangan Frida, Lulusan Terbaik UNY dengan IPK Tertinggi
Sabtu, 07 Juni 2025 - 16:33 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Cerita Brian Arianto Lulus Cumlaude Kedokteran UGM: Jadi Dokter adalah Panggilan Jiwa
Di sana, Frida belajar mengelola waktu dan tanggung jawab dengan lebih baik. “Pada semester 4 dan 5, saya mulai mencari pengalaman kerja. Saya menjadi admin part time di sebuah online shop. Meskipun lelah dan memiliki rasa takut apabila IPK turun, saya tetap melawan rasa takut untuk mendapatkan banyak pengalaman dalam satu kesempatan,” katanya.
Baginya, IPK adalah harga diri dan tanggung jawab, sehingga Frida terus berusaha menyeimbangkan antara studi dan pekerjaan. Pada semester 6, ia lolos seleksi Program Kampus Mengajar dan ditempatkan di SDN Nyaen 2 Pandowoharjo, Sleman.
Baca juga: Kisah Maria Khelli, Lulus Cumlaude dengan IPK Tertinggi di ITB
“Salah satu kebahagiaan terbesar saya saat itu adalah ketika bisa memberi sesuatu untuk ibu saya dari uang saku yang diperoleh melalui Program Kampus Mengajar. Meskipun sederhana, saya merasa bangga bisa membuat ibu tersenyum,” ujar Frida haru.
Tak berhenti di situ, Frida mencoba Program Magang dan Studi Independen (MSIB) namun belum berhasil lolos. Ia tak menyerah dan memilih jalur mandiri dengan magang di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (DIKPORA) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di sana, Frida belajar mengelola waktu dan tanggung jawab dengan lebih baik. “Pada semester 4 dan 5, saya mulai mencari pengalaman kerja. Saya menjadi admin part time di sebuah online shop. Meskipun lelah dan memiliki rasa takut apabila IPK turun, saya tetap melawan rasa takut untuk mendapatkan banyak pengalaman dalam satu kesempatan,” katanya.
Baginya, IPK adalah harga diri dan tanggung jawab, sehingga Frida terus berusaha menyeimbangkan antara studi dan pekerjaan. Pada semester 6, ia lolos seleksi Program Kampus Mengajar dan ditempatkan di SDN Nyaen 2 Pandowoharjo, Sleman.
Baca juga: Kisah Maria Khelli, Lulus Cumlaude dengan IPK Tertinggi di ITB
“Salah satu kebahagiaan terbesar saya saat itu adalah ketika bisa memberi sesuatu untuk ibu saya dari uang saku yang diperoleh melalui Program Kampus Mengajar. Meskipun sederhana, saya merasa bangga bisa membuat ibu tersenyum,” ujar Frida haru.
Tak berhenti di situ, Frida mencoba Program Magang dan Studi Independen (MSIB) namun belum berhasil lolos. Ia tak menyerah dan memilih jalur mandiri dengan magang di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (DIKPORA) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lihat Juga :