Profil Devit Febriansyah, Anak Kuli Angkut Kayu dari Sumbar yang Lolos ITB Tanpa Tes
Jum'at, 13 Juni 2025 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Namun, di balik prestasi itu, Devit berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi yang sangat sederhana. Ayahnya, Dony Afrijal, bekerja sebagai kuli angkut kayu manis, sementara ibunya, Julimar, mencari nafkah dengan menyisir kulit kayu manis dari hutan di sekitar lereng Gunung Singgalang.
Baca juga: 5 Menteri Kabinet Prabowo Lulusan ITB, Nomor 1 Masuk Daftar Ilmuwan Berpengaruh Dunia
Mengetahui keterbatasan ekonomi Devit, warga Kampung Malalak pun ikut bergotong royong memberikan dukungan. Mereka menginisiasi patungan dana sukarela, dengan sumbangan mulai dari Rp50 ribu hingga jutaan rupiah, sebagai bentuk kepedulian atas perjuangan Devit untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Bandung.
Atas latar belakang tersebut, Devit juga ditetapkan sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, yang akan membantunya menempuh studi di ITB tanpa harus memikirkan biaya pendidikan.
Kisah Devit semakin menggugah ketika Rektor ITB , Prof. Tatacipta Dirgantara, secara langsung datang menjemputnya ke kampung halaman. Dengan menempuh perjalanan darat ke daerah pelosok, rektor ITB ingin menunjukkan bahwa kampus ini terbuka untuk siapa saja yang berprestasi, tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun lokasi geografis.
Baca juga: 5 Menteri Kabinet Prabowo Lulusan ITB, Nomor 1 Masuk Daftar Ilmuwan Berpengaruh Dunia
Mengetahui keterbatasan ekonomi Devit, warga Kampung Malalak pun ikut bergotong royong memberikan dukungan. Mereka menginisiasi patungan dana sukarela, dengan sumbangan mulai dari Rp50 ribu hingga jutaan rupiah, sebagai bentuk kepedulian atas perjuangan Devit untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Bandung.
Atas latar belakang tersebut, Devit juga ditetapkan sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, yang akan membantunya menempuh studi di ITB tanpa harus memikirkan biaya pendidikan.
Kisah Devit semakin menggugah ketika Rektor ITB , Prof. Tatacipta Dirgantara, secara langsung datang menjemputnya ke kampung halaman. Dengan menempuh perjalanan darat ke daerah pelosok, rektor ITB ingin menunjukkan bahwa kampus ini terbuka untuk siapa saja yang berprestasi, tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun lokasi geografis.
(nnz)
Lihat Juga :