Inspiratif, Kisah SMPN 7 Muara Kaman Menembus Batas, Kini Jadi Google Reference School
Kamis, 19 Juni 2025 - 21:31 WIB
loading...
A
A
A
Suwito mengisahkan, predikat ini tak lepas dari semangat untuk berubah dan beradaptasi dengan teknologi yang dilakukan para guru dan siswa. Medio 2021-2022, Suwito mendapatkan tawaran untuk mengikuti sertifikasi Google Level 1. Sebanyak 10 guru SMPN 7 Muara Kaman mengikuti bootcamp selama tiga hari dan mengikuti tes. Saat itu, tak ada satu pun guru yang lulus. Hal ini tak membuat Suwito dan para guru lainnya putus asa.
![Inspiratif, Kisah SMPN 7 Muara Kaman Menembus Batas, Kini Jadi Google Reference School]()
“Kami jadi tertantang, ternyata selama ini kami belum ada apa-apa. Kami belajar lagi, kemudian dengan dukungan Dinas Pendidikan, kami ikut lagi ujian Level 1 dan lulus. Artinya, kami sudah mengenal alat-alat atau fitur-fitur Google, yang kemudian kami kembangkan untuk pembelajaran di sekolah,” kata Suwito.
Tak berhenti dan berpuas diri, para guru SMPN 7 Muara Kaman kembali mengikuti ujian Level 2 pada 2023. Kala itu, ia dan para guru mencoba menerapkan pembelajaran digital sepenuhnya dengan memanfaatkan fitur-fitur Google dan menggunakan Chromebook.
“Benar-benar tidak ada kertas, pulpen, pensil. Jadi kami hanya menggunakan Chromebook dan Google Workspace. Kami pun mulai berani berbagi dengan sekolah-sekolah lain soal transformasi digital yang kami lakukan,” papar Suwito.
Selanjutnya, Suwito dan beberapa guru mengikuti tes berupa Trainer Skill Assessment untuk mendapatkan sertifikasi sebagai Google Certified Trainer. Dari 10 orang guru yang mengikuti tes itu, hanya Suwito yang dinyatakan lulus. Pada 2023, SMPN 7 Muara Kaman terpilih menjadi Kandidat Google Reference School.
Dua tahun menjadi kandidat, pada tahun ini, SMPN 7 Muara Kaman diminta mendaftarkan diri untuk menjadi Google Reference School karena dinilai sudah memenuhi sejumlah persyaratan.
Saat penilaian, tim yang berkunjung melihat sendiri bagaimana pembelajaran digital diterapkan di SMPN 7 Muara Kaman. Pola pembelajaran di sekolah ini juga mengkombinasikan antara alam dan teknologi. Menurut Suwito, hal ini menjadi salah satu keunggulan, mengubah keterbatasan menjadi sebuah keunggulan.
“Pembeda kami yang tidak dimiliki daerah lain, kami kombinasikan alam dengan teknologi, kami belajar di bawah pohon. Kami menjadikan objek alam di sekitar kami sebagai media belajar. Kami pandu siswa mencari tahu melalui perangkat digitalnya, misalnya bagaimana mengolah kelapa sawit yang banyak di sekitar kami menjadi minyak. Siswa mencari tahu menggunakan alat Google, mereka olah, dan dipresentasikan,” kata Suwito.

“Kami jadi tertantang, ternyata selama ini kami belum ada apa-apa. Kami belajar lagi, kemudian dengan dukungan Dinas Pendidikan, kami ikut lagi ujian Level 1 dan lulus. Artinya, kami sudah mengenal alat-alat atau fitur-fitur Google, yang kemudian kami kembangkan untuk pembelajaran di sekolah,” kata Suwito.
Tak berhenti dan berpuas diri, para guru SMPN 7 Muara Kaman kembali mengikuti ujian Level 2 pada 2023. Kala itu, ia dan para guru mencoba menerapkan pembelajaran digital sepenuhnya dengan memanfaatkan fitur-fitur Google dan menggunakan Chromebook.
“Benar-benar tidak ada kertas, pulpen, pensil. Jadi kami hanya menggunakan Chromebook dan Google Workspace. Kami pun mulai berani berbagi dengan sekolah-sekolah lain soal transformasi digital yang kami lakukan,” papar Suwito.
Selanjutnya, Suwito dan beberapa guru mengikuti tes berupa Trainer Skill Assessment untuk mendapatkan sertifikasi sebagai Google Certified Trainer. Dari 10 orang guru yang mengikuti tes itu, hanya Suwito yang dinyatakan lulus. Pada 2023, SMPN 7 Muara Kaman terpilih menjadi Kandidat Google Reference School.
Dua tahun menjadi kandidat, pada tahun ini, SMPN 7 Muara Kaman diminta mendaftarkan diri untuk menjadi Google Reference School karena dinilai sudah memenuhi sejumlah persyaratan.
Saat penilaian, tim yang berkunjung melihat sendiri bagaimana pembelajaran digital diterapkan di SMPN 7 Muara Kaman. Pola pembelajaran di sekolah ini juga mengkombinasikan antara alam dan teknologi. Menurut Suwito, hal ini menjadi salah satu keunggulan, mengubah keterbatasan menjadi sebuah keunggulan.
“Pembeda kami yang tidak dimiliki daerah lain, kami kombinasikan alam dengan teknologi, kami belajar di bawah pohon. Kami menjadikan objek alam di sekitar kami sebagai media belajar. Kami pandu siswa mencari tahu melalui perangkat digitalnya, misalnya bagaimana mengolah kelapa sawit yang banyak di sekitar kami menjadi minyak. Siswa mencari tahu menggunakan alat Google, mereka olah, dan dipresentasikan,” kata Suwito.
Lihat Juga :