Orang Tua Wajib Tahu, PAUD Bukan Sekadar Tempat Bermain, tapi Pondasi Belajar
Senin, 30 Juni 2025 - 19:25 WIB
loading...
A
A
A
Maklum saja, banyak orang tua belum memahami prinsip-prinsip stimulasi pada anak usia dini. Hal ini bahkan mesti diberikan sejak anak dalam kandungan saat indera-inderanya mulai terbentuk. Misalnya mulai mengajak bayi berbicara untuk merangsang indera pendengarannya.
Setelah bayi lahir, stimulasi indera penglihatan dan perabaan dapat dilakukan dengan mengenalkan warna dan bentuk. Anak juga dikenalkan makanan yang sehat untuk melatih indera pengecap.
Merujuk pada sebuah riset, Fasli mengungkap banyak-sedikitnya kosakata yang dikuasai seorang anak dengan rentang 3.000 hingga 30.000 kata tergantung dari stimulasi orang tuanya yang mengajak si anak berbicara.
“Otak anak seperti gabus. Kalau gabus asli, air seember pun akan terserap. Kalau gabusnya KW (palsu), segelas saja sudah tumpah. Jika bagus gizi, pendidikan , perlindungan, dan pengisian pengetahuannya, otak anak bisa cemerlang. Tak ada istilah cukup untuk menstimulasi anak,” ujarnya.
Prinsip-prinsip stimulasi tersebut menjadi landasan pendidikan anak usia dini (PAUD) sekaligus upaya pemenuhan hak anak secara ideal.
Fitriana Herarti, ECED Ecosystem Development Lead Tanoto Foundation, menekankan, pemenuhan hak anak, terutama dalam pendidikan, merupakan tugas semua pihak, dari orang tua, masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan, seperti lembaga filantropi Tanoto Foundation.
“Dengan panduan jelas dari pemerintah, kita harus memastikan semua pihak berkomitmen dalam tumbuh kembang anak usia dini. Seperti pepatah dari Afrika Selatan, butuh satu kampung untuk membesarkan satu orang anak,” ujarnya.
Untuk itu, ia mendorong setiap keluarga berperan aktif dalam memberikan stimulasi dan pendidikan bagi anak usia dini. Ia berharap tak ada orang tua memberikan pola asuh yang keliru atas nama cinta pada anaknya. Sebagai contoh, orang tua terus memberi bubur pada anak usia satu tahun. Padahal anak sudah bisa mengonsumsi makanan lainnya seperti nasi untuk melatih lidah dan rahangnya.
Ada pula orang tua yang tak mengajak anaknya bicara karena dianggap si bocah masih terlalu kecil untuk berbincang. Padahal sejak usia satu tahun seorang bayi sudah mulai menyerap kata-kata yang ia dengar.
“Itu hal-hal dasar dan bagian dari stimulasi yang harus dipahami, sambil terus mendorong akses gizi dan kesehatan. Kita terus mengedukasi peran keluarga pada anak usia dini,” kata Fitriana.
Setelah bayi lahir, stimulasi indera penglihatan dan perabaan dapat dilakukan dengan mengenalkan warna dan bentuk. Anak juga dikenalkan makanan yang sehat untuk melatih indera pengecap.
Merujuk pada sebuah riset, Fasli mengungkap banyak-sedikitnya kosakata yang dikuasai seorang anak dengan rentang 3.000 hingga 30.000 kata tergantung dari stimulasi orang tuanya yang mengajak si anak berbicara.
“Otak anak seperti gabus. Kalau gabus asli, air seember pun akan terserap. Kalau gabusnya KW (palsu), segelas saja sudah tumpah. Jika bagus gizi, pendidikan , perlindungan, dan pengisian pengetahuannya, otak anak bisa cemerlang. Tak ada istilah cukup untuk menstimulasi anak,” ujarnya.
PAUD Ideal Tak Harus Mahal
Prinsip-prinsip stimulasi tersebut menjadi landasan pendidikan anak usia dini (PAUD) sekaligus upaya pemenuhan hak anak secara ideal.
Fitriana Herarti, ECED Ecosystem Development Lead Tanoto Foundation, menekankan, pemenuhan hak anak, terutama dalam pendidikan, merupakan tugas semua pihak, dari orang tua, masyarakat, pemerintah, dan mitra pembangunan, seperti lembaga filantropi Tanoto Foundation.
“Dengan panduan jelas dari pemerintah, kita harus memastikan semua pihak berkomitmen dalam tumbuh kembang anak usia dini. Seperti pepatah dari Afrika Selatan, butuh satu kampung untuk membesarkan satu orang anak,” ujarnya.
Untuk itu, ia mendorong setiap keluarga berperan aktif dalam memberikan stimulasi dan pendidikan bagi anak usia dini. Ia berharap tak ada orang tua memberikan pola asuh yang keliru atas nama cinta pada anaknya. Sebagai contoh, orang tua terus memberi bubur pada anak usia satu tahun. Padahal anak sudah bisa mengonsumsi makanan lainnya seperti nasi untuk melatih lidah dan rahangnya.
Ada pula orang tua yang tak mengajak anaknya bicara karena dianggap si bocah masih terlalu kecil untuk berbincang. Padahal sejak usia satu tahun seorang bayi sudah mulai menyerap kata-kata yang ia dengar.
“Itu hal-hal dasar dan bagian dari stimulasi yang harus dipahami, sambil terus mendorong akses gizi dan kesehatan. Kita terus mengedukasi peran keluarga pada anak usia dini,” kata Fitriana.
Lihat Juga :