Kisah Nitya, Doktor Termuda IPB yang Ciptakan Inovasi Deteksi Kerusakan Lingkungan

Kamis, 10 Juli 2025 - 15:00 WIB
loading...
Kisah Nitya, Doktor...
Nitya Ade Santi, doktor termuda IPB University mengembangkan metode baru untuk mendeteksi dampak kebakaran hutan dan lahan secara lebih akurat. Foto/Tanoto Foundation.
A A A
JAKARTA - Nitya Ade Santi, perempuan kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, yang mencatat sejarah sebagai doktor termuda IPB University . Lewat disertasinya dengan judul “Pengembangan Metode Pengukuran Tingkat Keparahan Kebakaran dan Regenerasi Vegetasi Menggunakan Analisis Multi-Waktu Langsung”, Nitya mengembangkan metode baru untuk mendeteksi dampak kebakaran hutan dan lahan secara lebih akurat.

Tak sekadar menghitung luas area yang terbakar, ia mampu mengungkap jenis tutupan lahan yang terdampak, nilai kerugian ekonomi, hingga potensi daya dukung lingkungan yang hilang.

“Selama ini kita hanya tahu luasan lahan yang terbakar, tapi tidak tahu apa yang terbakar. Apakah hutan primer, semak, atau kebun rakyat. Padahal informasi itu sangat penting,” ujar Nitya.

Berbekal citra satelit yang dapat diakses secara terbuka, Nitya merancang pendekatan multi-temporal analysis yang memungkinkan otoritas untuk memantau perubahan kondisi lahan sebelum dan sesudah kebakaran, serta mendapatkan informasi lebih detail tentang keberadaan lahan tersebut dan menghitung dampak , terutama dari sisi ekonomi.

Nitya menambahkan, metodologi ini sebenarnya telah digunakan negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Australia, dan sejumlah negara Eropa. Bahkan salah satu unit dari badan antariksa AS, NASA, juga menerapkan teknologi ini. Namun mengingat kondisi alam tiap negara itu berbeda, standar yang digunakan dalam menganalisis kebakaran juga tak sama.

“Indonesia itu negeri tropis, makanya lebih baik kita punya standar sendiri. Apalagi karakteristik kebakaran hutan di negara tropis dan subtropis ini memang beda,” paparnya.

Selain telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi mancanegara, penelitian Nitya menjadi materi acuan bagi Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau saat ini Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Tak kalah penting, hasil riset Nitya juga menjadi referensi penelitian untuk mengembangkan metode serupa dalam kasus-kasus bencana alam lain, seperti longsor atau banjir dan merekam perubahan tutupan lahan dari waktu ke waktu.

Inovasi yang Lahir dari Keterbatasan

Di balik pencapaian akademik tersebut, tersimpan kisah hidup yang menggugah. Nitya berasal dari keluarga sederhana. Ibunya seorang guru, sementara ayahnya bekerja di pabrik teh. Namun keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat keluarganya untuk mendorong pendidikan anak-anak mereka setinggi mungkin.

Selepas SMA, Nitya diterima di program studi Manajemen Hutan IPB University. Kesulitan finansial membuatnya harus mencari beasiswa agar bisa melanjutkan kuliah. Salah satu peluang yang ia incar adalah program beasiswa TELADAN dari Tanoto Foundation, sebuah program beasiswa yang dilengkapi dengan pelatihan pengembangan kepemimpinan terstruktur untuk meningkatkan soft-skill generasi muda Indonesia.

“Awalnya malah enggak kepikiran bakal diterima beasiswa Tanoto Foundation karena itu beasiswa paling diminati dan bergengsi. Sering membuat kegiatan, ada award (penghargaan), dan fellow-nya sering dibawa jalan-jalan. Sejak seleksi administrasi, wawancara, dan segala macamnya, saya merasa enggak masuk ke deretan orang-orang pintar yang layak untuk dapat beasiswa Tanoto Foundation,” kenangnya seraya tertawa.

Keraguan itu terpatahkan. Nitya diterima sebagai Tanoto Scholar dan sejak itu mendapat dukungan penuh, tidak hanya secara finansial, tetapi juga dalam bentuk pelatihan kepemimpinan, pembinaan karakter, hingga layanan konseling.

“Tanoto Foundation tidak hanya memberi dana. Mereka juga membentuk karakter, meningkatkan soft skill, membuka kesempatan berjejaring, dan membantu saya bertumbuh secara pribadi,” ujarnya.

Ia mengingat salah satu pengalaman yang paling membekas: saat indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya sempat turun di bawah syarat minimum yaitu 3,25. “Saya sudah pasrah kalau beasiswanya akan dicabut. Tapi Tanoto Foundation memberi saya kesempatan untuk bangkit kembali,” katanya.

Nitya membuktikan diri. Semester berikutnya, IPK-nya melonjak hingga 3,7. Ia menyelesaikan studi sarjana dengan baik dan melanjutkan ke program magister Sandwich (program pendidikan atau riset untuk mahasiswa S2 atau S3 yang menggabungkan studi di dalam dan luar negeri) di IPB University dan University of Göttingen, Jerman, dan akhirnya meraih gelar doktor di usia 25 tahun.

Kini, Nitya menjadi tenaga ahli dan konsultan untuk sejumlah lembaga, termasuk di KLH.

Membalas dengan Komitmen

Nitya menyadari bahwa setiap langkah yang ia tempuh tidak lepas dari dukungan banyak pihak, termasuk melalui beasiswa yang ia terima. Karena itu, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan yang terbaik.

“Beasiswa ini bukan hadiah, melainkan amanah. Saya anggap itu sebagai bentuk kepercayaan yang harus saya jawab dengan kesungguhan. Jadi kita harus bisa menyelesaikan apa yang sudah kita mulai dengan sebaik-baiknya,” papar Nitya.

Ia pun berpesan kepada generasi muda untuk tidak menyia-nyiakan waktu kuliah. “Masa-masa kuliah itu masa-masa yang paling mudah untuk terlena. Kalau enggak hati-hati implikasinya bakal berat ke depannya. Semuanya tetap berpusat ke kita. Harus tanggung jawab sama pilihan kita,” pungkas Nitya.

Saat ini Tanoto Foundation kembali membuka pendaftaran Beasiswa TELADAN angkatan 2026 mulai 1 Juli hingga 7 September 2025. Mahasiswa yang lolos seleksi program TELADAN akan mendapatkan bantuan biaya kuliah secara penuh dan tunjangan biaya hidup bulanan, serta yang berbeda dengan beasiswa lain, adalah penerima beasiswa juga akan mendapat pelatihan pengembangan kepemimpinan terstruktur selama 3.5 tahun dari semester 2 hingga 8.

Tanoto Scholars (penerima beasiswa TELADAN) mendapat berbagai dukungan pengembangan kepemimpinan dan soft skills, termasuk bantuan finansial tambahan untuk mengikuti kompetisi, konferensi, sertifikasi, serta program pembelajaran jangka pendek di dalam dan luar negeri, seperti summer course, exchange, dan volunteering. Mereka juga berkesempatan magang di industri mitra Tanoto Foundation, serta memperoleh pembiayaan untuk penelitian kolaboratif.

Tanoto Scholars akan tergabung dalam komunitas Tanoto Scholars Association di kampus masing-masing, sebagai wadah kolaborasi dan kontribusi sosial melalui semangat Pay It Forward. Setelah lulus, mereka menjadi bagian dari jaringan alumni Tanoto Foundation yang tersebar di Indonesia dan dunia.

Tahun ini, Program TELADAN juga terbuka bagi mahasiswa penerima KIP-K yang sedang menempuh semester pertama di 10 perguruan tinggi mitra yaitu di IPB University (Institut Pertanian Bogor), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Riau (Unri), Universitas Sumatera Utara (Usu), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Mulawarman (Unmul).
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengapa Kunang-Kunang...
Mengapa Kunang-Kunang Semakin Sulit Ditemukan? Pakar IPB Ungkap Penyebabnya
Beasiswa Program Doktor...
Beasiswa Program Doktor untuk Dosen 2026 Dibuka, Tanggung Biaya Kuliah hingga Riset
Bukan Hanya Umur, Pakar...
Bukan Hanya Umur, Pakar IPB Sebut 6 Aspek Kesiapan Anak Sebelum Masuk SD
Kisah Perjuangan Putri...
Kisah Perjuangan Putri Buruh Terasi Rembang Raih Doktor dari UIN Walisongo
IPB University dan Pesantren...
IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
Youth ESG Maritime 2026...
Youth ESG Maritime 2026 Dorong Generasi Muda Ciptakan Solusi Nyata bagi Krisis Lingkungan Laut
BPDP Dorong UMKM Perkebunan...
BPDP Dorong UMKM Perkebunan Naik Kelas lewat Inovasi Produk
Peduli Lingkungan, Aliansi...
Peduli Lingkungan, Aliansi Lintas Agama-Kementerian LH Serukan Tobat Ekologis Nasional
Mitos atau Fakta Golongan...
Mitos atau Fakta Golongan Darah O Rentan Kolesterol Tinggi? Ini Penjelasan Pakar IPB
Rekomendasi
Venue Pernikahan Seribu...
Venue Pernikahan Seribu Tamu Hadir Dekat Bandara Soekarno-Hatta
Puasa Tasua dan Asyura,...
Puasa Tasua dan Asyura, Mana yang Lebih Utama?
Aturan Perjalanan Piala...
Aturan Perjalanan Piala Dunia 2026 Dinilai Tak Adil, Iran Ngadu ke FIFA
Berita Terkini
Transformasi Pendidikan...
Transformasi Pendidikan 3T: Dari Ruang Kelas Baru hingga Pembelajaran Digital
UNJ Gelar Pesta Rakyat...
UNJ Gelar Pesta Rakyat 2026, Perkuat Semangat Kampus Berdampak dan Bereputasi Global
Momen Tahun Baru Islam...
Momen Tahun Baru Islam 1448 H, Dompet Dhuafa Perkuat Program Anak Yatim melalui BesTeam
Mengapa Kunang-Kunang...
Mengapa Kunang-Kunang Semakin Sulit Ditemukan? Pakar IPB Ungkap Penyebabnya
QS WUR 2027: UI Kembali...
QS WUR 2027: UI Kembali Jadi Universitas Terbaik di Indonesia, Bertahan di Top 200 Dunia
Fresh Graduate Merapat!...
Fresh Graduate Merapat! Magang Nasional Angkatan 2 2026 Segera Dibuka
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved