Program PKW Tekun Tenun Lahirkan Penenun Muda untuk Pelestarian Warisan Budaya
Senin, 14 Juli 2025 - 13:41 WIB
loading...
A
A
A
“Awalnya memang masih belum terbiasa menenun, tetapi saat ini saya sudah menerima pesanan, baik dari pesanan untuk Dekranas maupun pesanan secara khusus melalui media sosial,” terang Rada.
Rada menceritakan bahwa tenun gebeng kaya akan cerita historis. Tenun gebeng lahir dari dari tenun songket. Pada zaman dahulu, saat penenun ingin membuat songket, mereka kehabisan benang emas yang menjadi benang utama pembuat songket. Mulai dari situlah, leluhur Ogan Ilir membuat motif sendiri dengan menggunakan benang sutra atau katun sehingga lahirlah tenun gebeng.
“Saya bangga jadi perajin tenun gebeng. Dalam satu kain saya bisa mendapatkan Rp800 ribu s.d. Rp1,5 juta rupiah tergantung ukuran dan jenis benangnya,” ungkap Rada.
Penenun Difabel Berdaya
Program PKW Tekun Tenun juga mempersiapkan penenun andal dari perajin disabilitas. Contohnya di Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Manggarai Barat Labuan Bajo, yang melatih tiga peserta disabilitas. Salah satunya adalah Veni Milan, yang merupakan penyandang tunawicara.
Dengan latar belakang keluarga kelas menengah ke bawah dan memiliki keterbatasan, hal ini membuat Veni sempat patah semangat. Akan tetapi, di tengah keputusasaannya, motivasinya kembali bergelora dengan mengikuti program PKW Tekun Tenun di tahun 2022.
Rada menceritakan bahwa tenun gebeng kaya akan cerita historis. Tenun gebeng lahir dari dari tenun songket. Pada zaman dahulu, saat penenun ingin membuat songket, mereka kehabisan benang emas yang menjadi benang utama pembuat songket. Mulai dari situlah, leluhur Ogan Ilir membuat motif sendiri dengan menggunakan benang sutra atau katun sehingga lahirlah tenun gebeng.
“Saya bangga jadi perajin tenun gebeng. Dalam satu kain saya bisa mendapatkan Rp800 ribu s.d. Rp1,5 juta rupiah tergantung ukuran dan jenis benangnya,” ungkap Rada.
Penenun Difabel Berdaya
Program PKW Tekun Tenun juga mempersiapkan penenun andal dari perajin disabilitas. Contohnya di Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Manggarai Barat Labuan Bajo, yang melatih tiga peserta disabilitas. Salah satunya adalah Veni Milan, yang merupakan penyandang tunawicara.
Dengan latar belakang keluarga kelas menengah ke bawah dan memiliki keterbatasan, hal ini membuat Veni sempat patah semangat. Akan tetapi, di tengah keputusasaannya, motivasinya kembali bergelora dengan mengikuti program PKW Tekun Tenun di tahun 2022.
Lihat Juga :