UPH Pelopori Dialog Lintas Sektor Soal Performing Rights, Dorong Ekosistem Musik yang Adil
Jum'at, 25 Juli 2025 - 19:09 WIB
loading...
A
A
A
Senada dengan Armand, bagi Ariel, langkah mengajukan uji materi UU Hak Cipta ke MK adalah bagian dari upaya menyelamatkan masa depan industri musik Indonesia. "Ini bukan cuma soal ekonomi. Kalau dibiarkan, yang rusak bukan cuma hak cipta, tapi seluruh ekosistem musik Indonesia," ujarnya.
Bunga Citra Lestari juga menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pencipta lagu. "Hampir semua penyanyi sekarang juga menciptakan lagu. Kalau haknya tidak dilindungi, kami sulit berkarya dengan tenang. Kalau pencipta terus dirugikan, industri ini bisa rusak," kata perempuan yang akrab disapa BCL ini.
Sementara itu, Judika menyoroti pentingnya kepastian hukum bagi seluruh pelaku industri. "Saya ingin aturan yang jelas, berdasarkan hukum, dan tidak ada monopoli. Semua pihak harus tunduk pada aturan yang adil," ujarnya.
Menjembatani Kreator dan Pengguna Musik
Dari sisi pengelolaan hak, Adi Adrian, kibordis KLa Project sekaligus Ketua Badan Perkumpulan Wahana Musik Indonesia (WAMI), membagikan pengalaman panjang WAMI sebagai Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang mengelola royalti musik. Sejak 2006, WAMI menjadi jembatan antara pencipta dan pengguna musik. Mereka mengeluarkan lisensi massal, memantau penggunaan lagu, dan mendistribusikan royalti.
Dalam sesi yang dimoderatori oleh Dr. Andry M. Panjaitan, S.T., M.T., CPHCM., selakuAssociate Vice President of Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH ini; Adi menambahkan, peran institusi pendidikan tinggi sangatlah penting sebagai jembatan antara pelaku industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Ia melihat potensi besar UPH sebagai institusi akademik yang mampu membangun kesadaran publik tentang pentingnya menghargai karya musik.
“Kegiatan ini tidak boleh berhenti di sini. Harus terus berlanjut, baik dalam bentuk seminar maupun diskusi. UPH punya peran penting sebagai institusi pendidikan yang bisa memformalkan isu ini. Jadi sangat dibutuhkan institusi pendidikan tinggi seperti UPH untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat lewat pendekatan yang tepat,” ucap Adi.
Bunga Citra Lestari juga menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pencipta lagu. "Hampir semua penyanyi sekarang juga menciptakan lagu. Kalau haknya tidak dilindungi, kami sulit berkarya dengan tenang. Kalau pencipta terus dirugikan, industri ini bisa rusak," kata perempuan yang akrab disapa BCL ini.
Sementara itu, Judika menyoroti pentingnya kepastian hukum bagi seluruh pelaku industri. "Saya ingin aturan yang jelas, berdasarkan hukum, dan tidak ada monopoli. Semua pihak harus tunduk pada aturan yang adil," ujarnya.
Menjembatani Kreator dan Pengguna Musik
Dari sisi pengelolaan hak, Adi Adrian, kibordis KLa Project sekaligus Ketua Badan Perkumpulan Wahana Musik Indonesia (WAMI), membagikan pengalaman panjang WAMI sebagai Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang mengelola royalti musik. Sejak 2006, WAMI menjadi jembatan antara pencipta dan pengguna musik. Mereka mengeluarkan lisensi massal, memantau penggunaan lagu, dan mendistribusikan royalti.
Dalam sesi yang dimoderatori oleh Dr. Andry M. Panjaitan, S.T., M.T., CPHCM., selakuAssociate Vice President of Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH ini; Adi menambahkan, peran institusi pendidikan tinggi sangatlah penting sebagai jembatan antara pelaku industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat. Ia melihat potensi besar UPH sebagai institusi akademik yang mampu membangun kesadaran publik tentang pentingnya menghargai karya musik.
“Kegiatan ini tidak boleh berhenti di sini. Harus terus berlanjut, baik dalam bentuk seminar maupun diskusi. UPH punya peran penting sebagai institusi pendidikan yang bisa memformalkan isu ini. Jadi sangat dibutuhkan institusi pendidikan tinggi seperti UPH untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat lewat pendekatan yang tepat,” ucap Adi.
Lihat Juga :