Cerita Eifie, Atlet Disabilitas yang Sukses Tembus UGM lewat Jalur PBUTM 2025
Senin, 04 Agustus 2025 - 08:45 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Devita, Anak Sopir Truk yang Lolos UGM dengan Subsidi UKT Penuh
“Dengan keadaan seperti ini, aku masih bisa beraktivitas, berprestasi, dan belajar. Jadi buat apa dengerin omongan orang?” katanya tegas.
Kisah inspiratif Eifie tak berhenti di prestasi akademik. Dunia atletik mulai ia tekuni sejak bertemu Pak Karmani, pelatih sekaligus penjual es krim keliling yang jeli melihat potensi. Awalnya hanya ikut-ikutan, Eifie kemudian serius berlatih. Meski hanya bermodalkan sepatu sekolah, ia tak gentar ikut lomba. Untuk membeli sepatu paku pertamanya, orang tua Eifie harus mengumpulkan uang seadanya—momen haru yang tak pernah ia lupakan.
Baca juga: Pendidikan Sugiono, 'Anak Ideologis Prabowo' Menlu dan Juga Sekjen Gerindra
Usahanya membuahkan hasil. Di kejuaraan pertamanya, ia langsung meraih juara dua nomor lari 200 meter dalam Walikota Cup Surabaya. Sejak itu, Eifie terus konsisten di lintasan: 100 meter, 200 meter, lompat jauh, hingga tolak peluru.
Namun, tak semua berjalan mulus. Ia pernah gugup hingga kehilangan fokus saat lomba. Bahkan, selisih 0,0 detik sempat menggagalkannya meraih medali. Pukulan paling berat datang saat ayahnya meninggal, sebulan sebelum Pekan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur 2024. Meski belum pulih secara mental, ia tetap berlaga dan menyumbang perunggu di nomor 400 meter. Ia juga pernah meraih emas lompat jauh dalam ajang Paralimpiade Pelajar Nasional 2023 di Palembang.
Sejak SMP, Eifie bercita-cita kuliah. Keinginan itu makin kuat setelah mendengar cerita ayahnya yang gagal melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Impian tersebut makin bulat saat ia menonton video kegiatan PPSMB Palapa UGM di media sosial. “Aku langsung bilang mau kuliah di UGM, pakai almamater karung goni, dan nyanyi lagu PPSMB,” tuturnya.
Namun, perjuangan masuk UGM tak mudah. Ia sempat gagal di SNBT dan UM UGM CBT. Ketika pengumuman PBU tiba, Eifie bahkan tak berani membuka hasilnya. “Aku minta maaf dulu ke Ibu kalau gagal lagi,” katanya.
“Dengan keadaan seperti ini, aku masih bisa beraktivitas, berprestasi, dan belajar. Jadi buat apa dengerin omongan orang?” katanya tegas.
Awal Perjalanan di Dunia Atletik
Kisah inspiratif Eifie tak berhenti di prestasi akademik. Dunia atletik mulai ia tekuni sejak bertemu Pak Karmani, pelatih sekaligus penjual es krim keliling yang jeli melihat potensi. Awalnya hanya ikut-ikutan, Eifie kemudian serius berlatih. Meski hanya bermodalkan sepatu sekolah, ia tak gentar ikut lomba. Untuk membeli sepatu paku pertamanya, orang tua Eifie harus mengumpulkan uang seadanya—momen haru yang tak pernah ia lupakan.
Baca juga: Pendidikan Sugiono, 'Anak Ideologis Prabowo' Menlu dan Juga Sekjen Gerindra
Usahanya membuahkan hasil. Di kejuaraan pertamanya, ia langsung meraih juara dua nomor lari 200 meter dalam Walikota Cup Surabaya. Sejak itu, Eifie terus konsisten di lintasan: 100 meter, 200 meter, lompat jauh, hingga tolak peluru.
Namun, tak semua berjalan mulus. Ia pernah gugup hingga kehilangan fokus saat lomba. Bahkan, selisih 0,0 detik sempat menggagalkannya meraih medali. Pukulan paling berat datang saat ayahnya meninggal, sebulan sebelum Pekan Paralimpiade Provinsi Jawa Timur 2024. Meski belum pulih secara mental, ia tetap berlaga dan menyumbang perunggu di nomor 400 meter. Ia juga pernah meraih emas lompat jauh dalam ajang Paralimpiade Pelajar Nasional 2023 di Palembang.
Menggapai Mimpi Kuliah di UGM
Sejak SMP, Eifie bercita-cita kuliah. Keinginan itu makin kuat setelah mendengar cerita ayahnya yang gagal melanjutkan kuliah karena masalah biaya. Impian tersebut makin bulat saat ia menonton video kegiatan PPSMB Palapa UGM di media sosial. “Aku langsung bilang mau kuliah di UGM, pakai almamater karung goni, dan nyanyi lagu PPSMB,” tuturnya.
Namun, perjuangan masuk UGM tak mudah. Ia sempat gagal di SNBT dan UM UGM CBT. Ketika pengumuman PBU tiba, Eifie bahkan tak berani membuka hasilnya. “Aku minta maaf dulu ke Ibu kalau gagal lagi,” katanya.
Lihat Juga :