Mimpi Kuliah di Singapura? Ini Panduan Lengkap dari Lulusan NUS Asal Indonesia
Senin, 04 Agustus 2025 - 13:00 WIB
loading...
Dymasius Yusuf Sitepu, lulusan National University of Singapura (NUS), membagikan tips sebagai panduan awal untuk kuliah di Singapura. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Kuliah di luar negeri , khususnya di Singapura , menjadi impian banyak pelajar Indonesia. Bagi banyak pelajar Indonesia, terutama yang datang dari latar belakang sederhana, menempuh pendidikan di negara maju seperti Singapura adalah bentuk perjuangan, harapan, dan lompatan besar menuju masa depan. Tapi bagaimana cara mewujudkannya?
Dymasius Yusuf Sitepu, seorang lulusan National University of Singapura (NUS ), membagikan tips sebagai panduan awal bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejaknya. Melalui kanal YouTube GetKampus miliknya, Dymasius, membagikan pengalaman, mulai dari proses seleksi, biaya hidup, hingga peluang beasiswa dan kerja paruh waktu di Negeri Singa.
Baca juga: Ingin Kuliah di Taiwan? Ini 10 Kampus Top Versi QS WUR 2026 di Negeri Formosa
Dymasius menuangkan pengalaman pribadinya saat diterima di NUS. Tumbuh di pinggir rel kereta api dan membantu keluarganya berjualan sejak kecil, Dimas yang memiliki tekad kuat berhasil menembus dunia pendidikan di Singapura, salah satu negara dengan sistem pendidikan dan kualitas hidup modern terbaik di Asia.
“Saya ingin membantu anak-anak muda Indonesia yang ingin kuliah di luar negeri, tapi masih bingung mulai dari mana,” ujar Dymasius yang saat ini bekerja di Singapura sebagai Software Engineer/Data Scientist.
Baca juga: Cerita Eifie, Atlet Disabilitas yang Sukses Tembus UGM lewat Jalur PBUTM 2025
Lalu, apa saja yang dilakukan para pelajar Indonesia untuk bisa kuliah di Singapura? Dymasius memberikan beberapa tips berdasarkan pengalaman pribadinya.
Menurut Dymasius, langkah pertama untuk bisa kuliah di Singapura adalah persiapan akademik yang matang. Ia menghabiskan hampir dua tahun untuk menjalani persiapan intensif dan mengikuti pelajaran nasional sambil mempelajari kurikulum Cambridge A-Level.
“Selama dua tahun persiapan, rasanya seperti hidup saya hanya untuk belajar, tapi saya tahu ini adalah tiket untuk menimba ilmu di kampus terbaik,” kenangnya.
Baca juga: Kisah Safira Nur Aini, Wisudawan Magister Termuda UGM yang Peduli Pertanian
Setelah diterima di program Engineering Science NUS, Dymasius memilih spesialisasi Computational Engineering Science di tahun ketiganya. Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut ke jenjang magister di bidang Financial Technology di Nanyang Technological University (NTU).
Ia menyarankan agar calon pelamar mempelajari kurikulum yang disyaratkan oleh universitas tujuan, seperti A-Level, IB, atau ujian standar lainnya.
Singapura dikenal sebagai negara dengan biaya hidup yang tinggi. Dymasius menjelaskan, sewa kamar di asrama atau apartemen biasanya melebihi 1.000 dolar Singapura per bulan. Harga kebutuhan pokok dan ongkos transportasi juga cukup tinggi.
Sebagai gambaran, harga makan di hawker centre berkisar antara 3 hingga 8 dolar Singapura per porsi. Transportasi umum seperti MRT dan bus biasanya memakan biaya sekitar 50 hingga 150 dolar Singapura per bulan, tergantung jarak dan frekuensi penggunaan.
Biaya listrik, air, dan internet dapat mencapai 200 hingga 400 dolar Singapura per bulan. Jika dikalkulasikan, pengeluaran bulanan mahasiswa rata-rata berada di kisaran 1.500 hingga 2.500 dolar Singapura, tergantung gaya hidup masing-masing.
“Gaji memang relatif lebih besar di Singapura, namun pengeluaran juga besar. Persaingan kerja semakin ketat karena perusahaan mencari kandidat dengan kemampuan spesifik dan pengalaman,” ungkapnya.
Untuk meringankan beban biaya kuliah, Dymasius menekankan bahwa mahasiswa NUS, termasuk mahasiswa internasional seperti dirinya, dapat memanfaatkan beberapa skema bantuan keuangan, antara lain:
• Tuition Grant, yaitu subsidi biaya kuliah dari pemerintah Singapura yang mengurangi total biaya secara signifikan. Mahasiswa penerima biasanya diwajibkan bekerja di Singapura selama beberapa tahun setelah lulus.
• Bursary, yaitu hibah bagi mahasiswa dengan kebutuhan finansial, tanpa kewajiban pengembalian.
• Tuition Fee Loan, yaitu pinjaman untuk menutupi sebagian besar biaya kuliah yang baru harus dibayar setelah mahasiswa lulus dan bekerja.
• Student Assistance Loan atau Study Loan, yaitu pinjaman tambahan untuk biaya hidup dan kuliah, dengan persyaratan ringan dan pelunasan setelah lulus.
Selain itu, mahasiswa juga dapat bekerja paruh waktu serta mengajukan berbagai beasiswa prestasi maupun keuangan lainnya yang tersedia di NUS atau perguruan tinggi lain.
Terakhir, Dymasius mengingatkan bahwa belajar di Singapura berarti siap bersaing secara global. Standar tinggi, lingkungan kompetitif, dan persaingan kerja pasca-lulus sangat menantang.
Saya berharap semakin banyak anak muda Indonesia yang berani bermimpi dan siap menghadapi tantangan global. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memajukan Indonesia,” harapnya.
Ajakan Dymasius ini menjadi pelecut bagi generasi muda untuk terus berjuang, belajar, dan berkontribusi membawa manfaat bagi Tanah Air.
Dymasius Yusuf Sitepu, seorang lulusan National University of Singapura (NUS ), membagikan tips sebagai panduan awal bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejaknya. Melalui kanal YouTube GetKampus miliknya, Dymasius, membagikan pengalaman, mulai dari proses seleksi, biaya hidup, hingga peluang beasiswa dan kerja paruh waktu di Negeri Singa.
Baca juga: Ingin Kuliah di Taiwan? Ini 10 Kampus Top Versi QS WUR 2026 di Negeri Formosa
Dymasius menuangkan pengalaman pribadinya saat diterima di NUS. Tumbuh di pinggir rel kereta api dan membantu keluarganya berjualan sejak kecil, Dimas yang memiliki tekad kuat berhasil menembus dunia pendidikan di Singapura, salah satu negara dengan sistem pendidikan dan kualitas hidup modern terbaik di Asia.
“Saya ingin membantu anak-anak muda Indonesia yang ingin kuliah di luar negeri, tapi masih bingung mulai dari mana,” ujar Dymasius yang saat ini bekerja di Singapura sebagai Software Engineer/Data Scientist.
Baca juga: Cerita Eifie, Atlet Disabilitas yang Sukses Tembus UGM lewat Jalur PBUTM 2025
Lalu, apa saja yang dilakukan para pelajar Indonesia untuk bisa kuliah di Singapura? Dymasius memberikan beberapa tips berdasarkan pengalaman pribadinya.
4 Tips Kuliah di Negeri Singa dari Lulusan NUS Asal Indonesia
1. Mulai dari Persiapan Akademik yang Serius
Menurut Dymasius, langkah pertama untuk bisa kuliah di Singapura adalah persiapan akademik yang matang. Ia menghabiskan hampir dua tahun untuk menjalani persiapan intensif dan mengikuti pelajaran nasional sambil mempelajari kurikulum Cambridge A-Level.
“Selama dua tahun persiapan, rasanya seperti hidup saya hanya untuk belajar, tapi saya tahu ini adalah tiket untuk menimba ilmu di kampus terbaik,” kenangnya.
Baca juga: Kisah Safira Nur Aini, Wisudawan Magister Termuda UGM yang Peduli Pertanian
Setelah diterima di program Engineering Science NUS, Dymasius memilih spesialisasi Computational Engineering Science di tahun ketiganya. Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut ke jenjang magister di bidang Financial Technology di Nanyang Technological University (NTU).
Ia menyarankan agar calon pelamar mempelajari kurikulum yang disyaratkan oleh universitas tujuan, seperti A-Level, IB, atau ujian standar lainnya.
2. Rencanakan Biaya Hidup di Negeri Singa
Singapura dikenal sebagai negara dengan biaya hidup yang tinggi. Dymasius menjelaskan, sewa kamar di asrama atau apartemen biasanya melebihi 1.000 dolar Singapura per bulan. Harga kebutuhan pokok dan ongkos transportasi juga cukup tinggi.
Sebagai gambaran, harga makan di hawker centre berkisar antara 3 hingga 8 dolar Singapura per porsi. Transportasi umum seperti MRT dan bus biasanya memakan biaya sekitar 50 hingga 150 dolar Singapura per bulan, tergantung jarak dan frekuensi penggunaan.
Biaya listrik, air, dan internet dapat mencapai 200 hingga 400 dolar Singapura per bulan. Jika dikalkulasikan, pengeluaran bulanan mahasiswa rata-rata berada di kisaran 1.500 hingga 2.500 dolar Singapura, tergantung gaya hidup masing-masing.
“Gaji memang relatif lebih besar di Singapura, namun pengeluaran juga besar. Persaingan kerja semakin ketat karena perusahaan mencari kandidat dengan kemampuan spesifik dan pengalaman,” ungkapnya.
3. Manfaatkan Bantuan Keuangan untuk Mahasiswa NUS
Untuk meringankan beban biaya kuliah, Dymasius menekankan bahwa mahasiswa NUS, termasuk mahasiswa internasional seperti dirinya, dapat memanfaatkan beberapa skema bantuan keuangan, antara lain:
• Tuition Grant, yaitu subsidi biaya kuliah dari pemerintah Singapura yang mengurangi total biaya secara signifikan. Mahasiswa penerima biasanya diwajibkan bekerja di Singapura selama beberapa tahun setelah lulus.
• Bursary, yaitu hibah bagi mahasiswa dengan kebutuhan finansial, tanpa kewajiban pengembalian.
• Tuition Fee Loan, yaitu pinjaman untuk menutupi sebagian besar biaya kuliah yang baru harus dibayar setelah mahasiswa lulus dan bekerja.
• Student Assistance Loan atau Study Loan, yaitu pinjaman tambahan untuk biaya hidup dan kuliah, dengan persyaratan ringan dan pelunasan setelah lulus.
Selain itu, mahasiswa juga dapat bekerja paruh waktu serta mengajukan berbagai beasiswa prestasi maupun keuangan lainnya yang tersedia di NUS atau perguruan tinggi lain.
4. Siapkan Diri untuk Tantangan dan Kompetisi Global
Terakhir, Dymasius mengingatkan bahwa belajar di Singapura berarti siap bersaing secara global. Standar tinggi, lingkungan kompetitif, dan persaingan kerja pasca-lulus sangat menantang.
Saya berharap semakin banyak anak muda Indonesia yang berani bermimpi dan siap menghadapi tantangan global. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memajukan Indonesia,” harapnya.
Ajakan Dymasius ini menjadi pelecut bagi generasi muda untuk terus berjuang, belajar, dan berkontribusi membawa manfaat bagi Tanah Air.
(nnz)
Lihat Juga :