Apa Itu Ma'had Aly dan Bedanya dengan Perguruan Tinggi Islam Lainnya?
Rabu, 06 Agustus 2025 - 08:36 WIB
loading...
Apa perbedaan Mahad Aly dan perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi keagamaan Islam lainnya? Foto/Kemenag.
A
A
A
JAKARTA - Apa perbedaan Ma'had Aly dan perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi keagamaan Islam lainnya menjadi pertanyaan setelah turunnya rekognisi dari Kementerian Agama (Kemenag).
Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prof. Nur Ichwan, menekankan distingsi Ma’had Aly ada dalam konteks regulasi dan sejarah pendidikan Islam global.
“Distingsi Ma’had Aly berdasarkan regulasi dan konstruksi sejarah pendidikan Islam di dunia menunjukkan posisinya yang setara dengan universitas. Karakteristiknya jelas: untuk kaderisasi ulama, penguatan keulamaan, baik dari segi metode (manhaj) maupun pendekatan khas pesantren,”katanya, mengutip laman Kemenag, Rabu (6/8/2025).
Baca juga: 9 IAIN Berubah Jadi UIN, Ini Daftar Lengkap 11 PTKN yang Beralih Status
Kebijakan mengenai Ma'had Aly diatur melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 941 Tahun 2024 tentang Standar Mutu Pendidikan Ma’had Aly dan KMA Nomor 128 Tahun 2025 tentang Sistem Penjaminan Mutu.
Dijelaskan Prof. Ichwan, keunikan mutu Ma’had Aly tidak hanya tercermin dalam regulasi, tetapi juga dalam metodologi penulisan ilmiah ulama klasik yang diwarisi dan dilestarikan oleh pesantren.
Misalnya, tahqīq, yaitu metode penyuntingan kritis terhadap manuskrip untuk mengembalikan keaslian teks. Ada juga taʿlīq, berupa catatan pinggir yang tajam dan kontekstual; syarḥ, yang menguraikan dan menjelaskan teks utama (matn) secara komprehensif.
Baca juga: Fakultas Kedokteran UIN Jakarta Kantongi Izin Prodi Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Selain itu, ada ḥāsyiyah, yaitu komentar tingkat lanjut atas penjelasan sebelumnya dalam satu tradisi keilmuan.
“Ini bukan sekadar teknik menulis, tetapi cermin dari sistem berpikir khas pesantren. Setiap metode punya tanggung jawab adab dan keilmuan. Ketika Ma’had Aly mengintegrasikan metode ini ke dalam standar mutu, itu artinya ia sedang menyusun jati dirinya secara epistemologis,” tegasnya.
Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly sekaligus penanggung jawab forum, Mahrus, menegaskan bahwa Intisyar Dusturi bukan hanya forum sosialisasi kebijakan, melainkan proses menyusun ulang cara pandang terhadap mutu dan identitas Ma’had Aly.
“Yang kita lakukan hari ini bukan hanya menyampaikan regulasi. Kita sedang membangun kesadaran kelembagaan. Ma’had Aly punya ruh, punya khittah, dan membutuhkan cara berpikir yang khas. Ia tidak bisa disamakan begitu saja dengan pendidikan tinggi umum,” jelas Mahrus.
“Kita ingin mutu yang tidak mencabut akar. Kita ingin regulasi yang memerdekakan, bukan membebani. Maka Majelis Masyayikh dan Subdit hadir bukan sebagai regulator dari atas, tapi pelayan dari dalam,” tandasnya.
Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Prof. Nur Ichwan, menekankan distingsi Ma’had Aly ada dalam konteks regulasi dan sejarah pendidikan Islam global.
“Distingsi Ma’had Aly berdasarkan regulasi dan konstruksi sejarah pendidikan Islam di dunia menunjukkan posisinya yang setara dengan universitas. Karakteristiknya jelas: untuk kaderisasi ulama, penguatan keulamaan, baik dari segi metode (manhaj) maupun pendekatan khas pesantren,”katanya, mengutip laman Kemenag, Rabu (6/8/2025).
Baca juga: 9 IAIN Berubah Jadi UIN, Ini Daftar Lengkap 11 PTKN yang Beralih Status
Kebijakan mengenai Ma'had Aly diatur melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 941 Tahun 2024 tentang Standar Mutu Pendidikan Ma’had Aly dan KMA Nomor 128 Tahun 2025 tentang Sistem Penjaminan Mutu.
Dijelaskan Prof. Ichwan, keunikan mutu Ma’had Aly tidak hanya tercermin dalam regulasi, tetapi juga dalam metodologi penulisan ilmiah ulama klasik yang diwarisi dan dilestarikan oleh pesantren.
Misalnya, tahqīq, yaitu metode penyuntingan kritis terhadap manuskrip untuk mengembalikan keaslian teks. Ada juga taʿlīq, berupa catatan pinggir yang tajam dan kontekstual; syarḥ, yang menguraikan dan menjelaskan teks utama (matn) secara komprehensif.
Baca juga: Fakultas Kedokteran UIN Jakarta Kantongi Izin Prodi Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi
Selain itu, ada ḥāsyiyah, yaitu komentar tingkat lanjut atas penjelasan sebelumnya dalam satu tradisi keilmuan.
“Ini bukan sekadar teknik menulis, tetapi cermin dari sistem berpikir khas pesantren. Setiap metode punya tanggung jawab adab dan keilmuan. Ketika Ma’had Aly mengintegrasikan metode ini ke dalam standar mutu, itu artinya ia sedang menyusun jati dirinya secara epistemologis,” tegasnya.
Kasubdit Pendidikan Ma’had Aly sekaligus penanggung jawab forum, Mahrus, menegaskan bahwa Intisyar Dusturi bukan hanya forum sosialisasi kebijakan, melainkan proses menyusun ulang cara pandang terhadap mutu dan identitas Ma’had Aly.
“Yang kita lakukan hari ini bukan hanya menyampaikan regulasi. Kita sedang membangun kesadaran kelembagaan. Ma’had Aly punya ruh, punya khittah, dan membutuhkan cara berpikir yang khas. Ia tidak bisa disamakan begitu saja dengan pendidikan tinggi umum,” jelas Mahrus.
“Kita ingin mutu yang tidak mencabut akar. Kita ingin regulasi yang memerdekakan, bukan membebani. Maka Majelis Masyayikh dan Subdit hadir bukan sebagai regulator dari atas, tapi pelayan dari dalam,” tandasnya.
(nnz)
Lihat Juga :