Ngkaji Pendidikan GSM, Ketidakberpikiran Sumber Masalah atas Situasi Bangsa
Selasa, 02 September 2025 - 05:37 WIB
loading...
A
A
A
Ketika dialog batin dan imajinasi moral berpadu dengan natalitas dan ruang yang plural, maka lahirlah tindakan autentik. Natalitas adalah kesadaran bahwa setiap anak membawa potensi kelahiran sesuatu yang baru. Sementara itu, ruang yang plural adalah sebuah ruang yang menghargai perbedaan dan kesetaraan, maka lahirlah tindakan autentik. Inilah yang dibutuhkan Indonesia.
Untuk menegaskan pesannya, Rizal mengangkat teladan Siti Soendari Darmobroto, guru sekaligus wartawan yang berani memperjuangkan pendidikan kaum pribumi, nasib perempuan, dan melawan kolonialisme. Di tengah dominasi feodalisme dan patriarki, ia berani melawan arus.
“Bayangkan, di Kongres Pemuda 1928, Siti Soendari sudah membayangkan Indonesia merdeka dengan imajinasinya sendiri, bukan Indonesia buatan penjajahan Belanda. Itu karena ia berani berdialog dengan batinnya dan setia pada imajinasi moralnya, bukan pada iming-iming jabatan oleh kolonial,” tuturnya.
Acara Ngkaji Pendidikan ini dibuka dengan monolog seorang siswa yang digambarkan berasal dari masa depan. Momen tersebut menjadi sebuah pengingat bahwa bila pendidikan terus terjebak dalam krisis, generasi mendatanglah yang akan menanggungnya. Tayangan prolog ditutup dengan sebuah pesan, bahwa harapan selalu ada, selama guru mau mengambil peran dan bertanggung jawab atas sejarah. Baca juga: Anggota DPR yang Dinonaktifkan Ternyata Masih Terima Gaji
Ngkaji Pendidikan ini berhasil berjalan karena adanya gotong royong dari anggota komunitasnya. Mereka mencari sponsorship secara mandiri, serta mengajak para pegiat GSM untuk mau urun dana. Acara tersebut diadakan dalam rangka mewujudkan misi dari GSM Tangerang Selatan yang ingin mendorong perubahan pendidikan di kotanya.
Seorang peserta, Yayah, guru SD dari Cirebon, menyimpulkan refleksinya. “Ngkaji Pendidikan membuat kami berpikir ulang. Pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan? Mungkin guru tidak turun ke jalan, tetapi energi kami disalurkan dalam diskusi, ide, dan refleksi yang tidak kalah revolusioner,” tuturnya.
Untuk menegaskan pesannya, Rizal mengangkat teladan Siti Soendari Darmobroto, guru sekaligus wartawan yang berani memperjuangkan pendidikan kaum pribumi, nasib perempuan, dan melawan kolonialisme. Di tengah dominasi feodalisme dan patriarki, ia berani melawan arus.
“Bayangkan, di Kongres Pemuda 1928, Siti Soendari sudah membayangkan Indonesia merdeka dengan imajinasinya sendiri, bukan Indonesia buatan penjajahan Belanda. Itu karena ia berani berdialog dengan batinnya dan setia pada imajinasi moralnya, bukan pada iming-iming jabatan oleh kolonial,” tuturnya.
Acara Ngkaji Pendidikan ini dibuka dengan monolog seorang siswa yang digambarkan berasal dari masa depan. Momen tersebut menjadi sebuah pengingat bahwa bila pendidikan terus terjebak dalam krisis, generasi mendatanglah yang akan menanggungnya. Tayangan prolog ditutup dengan sebuah pesan, bahwa harapan selalu ada, selama guru mau mengambil peran dan bertanggung jawab atas sejarah. Baca juga: Anggota DPR yang Dinonaktifkan Ternyata Masih Terima Gaji
Ngkaji Pendidikan ini berhasil berjalan karena adanya gotong royong dari anggota komunitasnya. Mereka mencari sponsorship secara mandiri, serta mengajak para pegiat GSM untuk mau urun dana. Acara tersebut diadakan dalam rangka mewujudkan misi dari GSM Tangerang Selatan yang ingin mendorong perubahan pendidikan di kotanya.
Seorang peserta, Yayah, guru SD dari Cirebon, menyimpulkan refleksinya. “Ngkaji Pendidikan membuat kami berpikir ulang. Pendidikan seperti apa yang ingin kita wariskan? Mungkin guru tidak turun ke jalan, tetapi energi kami disalurkan dalam diskusi, ide, dan refleksi yang tidak kalah revolusioner,” tuturnya.
(poe)
Lihat Juga :