Ngkaji Pendidikan GSM, Ketidakberpikiran Sumber Masalah atas Situasi Bangsa
Selasa, 02 September 2025 - 05:37 WIB
loading...
A
A
A
Dalam konteks itu, GSM mengingatkan bahwa pendidikan harus menjadi benteng peradaban yang menyiapkan keterampilan teknis. Juga melahirkan manusia yang mampu berpikir merdeka, berimajinasi moral, dan bertindak autentik.
“Pendidikan bukan semata-mata soal kurikulum atau pencapaian akademik, melainkan soal membentuk manusia yang bertauhid dan berperikemanusiaan, agar memiliki arah hidup, rasa empati kepada sosial dan lingkungan alam serta daya cipta. Bila sekolah justru menumbuhkan ketaatan buta pada aturan maka lahirlah generasi yang kehilangan nurani,” tambahnya.
Ia menyinggung kembali pelajaran tragis dari sejarah kisah Adolf Eichmann, birokrat Nazi yang dalam Eichmann in Jerusalem (1961) digambarkan Hannah Arendt sebagai manusia biasa yang taat dan saleh, tetapi gagal berdialog dengan batinnya. Ia menjadi mesin genosida, bukan karena kebencian mendalam, melainkan karena ketidakberpikiran yang membuatnya sekadar menjalankan perintah tanpa refleksi moral (olah rasa).
“Ketidakberpikiran itu monster. Ia bisa lahir di ruang kelas ketika guru hanya mengulang rutinitas, atau di birokrasi ketika aparat terjebak hierarki tanpa makna. Jika dibiarkan, ia akan menghancurkan masa depan murid-murid kita,” tegasnya.
Rizal lalu menekankan belajar adalah tindakan moral. Ketika guru tidak mengajak muridnya berpikir, berimajinasi, dan berefleksi, maka sesungguhnya mereka keluar dari ranah moralitas, meski semua itu dilakukan atas nama kurikulum. “Apakah itu merdeka yang diharapkan Soekarno dan Hatta?” tanyanya secara retoris.
Sebagai jalan keluar, Rizal mengajukan dua fondasi, yaitu dialog batin dan imajinasi moral. Dialog batin mengajarkan manusia untuk mempertanyakan diri, tentang benar atau tidaknya sebuah tindakan. Sementara imajinasi moral mengajak guru melihat dunia dari perspektif murid, sehingga penghargaan terhadap anak tidak lagi diukur sekadar dari angka rapor.
“Pendidikan bukan semata-mata soal kurikulum atau pencapaian akademik, melainkan soal membentuk manusia yang bertauhid dan berperikemanusiaan, agar memiliki arah hidup, rasa empati kepada sosial dan lingkungan alam serta daya cipta. Bila sekolah justru menumbuhkan ketaatan buta pada aturan maka lahirlah generasi yang kehilangan nurani,” tambahnya.
Ia menyinggung kembali pelajaran tragis dari sejarah kisah Adolf Eichmann, birokrat Nazi yang dalam Eichmann in Jerusalem (1961) digambarkan Hannah Arendt sebagai manusia biasa yang taat dan saleh, tetapi gagal berdialog dengan batinnya. Ia menjadi mesin genosida, bukan karena kebencian mendalam, melainkan karena ketidakberpikiran yang membuatnya sekadar menjalankan perintah tanpa refleksi moral (olah rasa).
“Ketidakberpikiran itu monster. Ia bisa lahir di ruang kelas ketika guru hanya mengulang rutinitas, atau di birokrasi ketika aparat terjebak hierarki tanpa makna. Jika dibiarkan, ia akan menghancurkan masa depan murid-murid kita,” tegasnya.
Rizal lalu menekankan belajar adalah tindakan moral. Ketika guru tidak mengajak muridnya berpikir, berimajinasi, dan berefleksi, maka sesungguhnya mereka keluar dari ranah moralitas, meski semua itu dilakukan atas nama kurikulum. “Apakah itu merdeka yang diharapkan Soekarno dan Hatta?” tanyanya secara retoris.
Sebagai jalan keluar, Rizal mengajukan dua fondasi, yaitu dialog batin dan imajinasi moral. Dialog batin mengajarkan manusia untuk mempertanyakan diri, tentang benar atau tidaknya sebuah tindakan. Sementara imajinasi moral mengajak guru melihat dunia dari perspektif murid, sehingga penghargaan terhadap anak tidak lagi diukur sekadar dari angka rapor.
Lihat Juga :