Lolos Seleksi Ketat 1.300 Pendaftar, Ini 10 Tanoto Fellows Angkatan 2025
Rabu, 03 September 2025 - 15:28 WIB
loading...
Tanoto Foundation mengukuhkan 10 orang Tanoto Fellows baru angkatan 2025. Foto/Tanoto Foundation.
A
A
A
JAKARTA - Tanoto Foundation mengukuhkan 10 orang Tanoto Fellows baru angkatan 2025 yang merupakan angkatan kedua yang telah terpilih dari lebih dari 1.300 pendaftar program.
Selama satu tahun penuh mereka akan terjun langsung ke dalam ekosistem pendidikan dan kesehatan di daerah mitra Tanoto Foundation, belajar dari praktik nyata, sekaligus merancang dan mengimplementasikan inisiatif pembangunan yang berdampak.
Belinda Tanoto, Anggota Dewan Wali Amanat Tanoto Foundation mengatakan, sejak orang tuanya mendirikan Tanoto Foundation pada 1981, pihaknya telah berkembang dari membangun sekolah dasar di Besitang, Sumatra Utara, hingga mendampingi ratusan sekolah, dan mendorong perubahan system.
Baca juga: Pendidikan Direktur Lokataru Delpedro Marhaen yang Ditetapkan Tersangka Dugaan Penghasutan
"Namun, kami melihat masih ada kekurangan talenta, yang punya misi, holistik dan mampu memimpin. Melalui Fellowship ini, kami ingin menumbuhkan generasi pemimpin baru yang tidak hanya memiliki kapabilitas, tetapi juga tujuan yang kuat, serta berkomitmen untuk memahami isu-isu akar rumput dan melayani komunitasnya,” ujarnya, melalui siaran pers, Rabu (3/9/2025).
10 Tanoto Fellows angkatan 2025 berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman yang inspiratif. Mereka adalah:
1. Julia Rosemary Tapilatu, konservasionis laut asal Papua, pendiri OurConservaSea, lulusan Universitas Papua (S1) dan Texas A&M University (S2) yang aktif menggerakkan edukasi lingkungan di pesisir,
2. Ghefira Auliya Rabbani, lulusan S1 Universitas Riau yang telah memimpin berbagai program pengembangan pemuda, advokasi literasi, serta berpengalaman sebagai Penasihat Khusus untuk Akselerasi Inovasi di Kementerian Pemuda dan Olahraga,
3. Kevin Angdreas, peneliti ekonomi-politik internasional lulusan Asia Pacific University (S1) & London School of Economics (S2), dengan pengalaman bekerja bersama INDEF, CIPS, dan Foreign Policy Community of Indonesia,
4. Dinda Kayana Rizky, lulusan Universitas Brawijaya (S1&S2) yang berdedikasi pada pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan, serta co-founder Urbanist Indonesia, sebuah yayasan yang mengadvokasi komunitas urban termarjinalkan melalui riset, advokasi, dan layanan publik,
5. Ansar Ahmad, alumnus S1 Universitas Indonesia dan Kepala Fundraising di Shantanu Indonesia, yang mengembangkan program pemberdayaan akar rumput di seluruh nusantara dan aktif memimpin upaya penggalangan dana dan advokasi bersama organisasi seperti Humanity First dan LBH Jakarta,
6. Arief Rahman Nur Fadhilah, konselor karier dan pelatih kepemimpinan yang merupakan lulusan Universitas Airlangga (S1&S2) dengan pengalaman dalam program pengembangan pemuda seperti Pena Bangsa dan pelatihan kepemimpinan Rumah Kepemimpinan,
7. Stephanie Dinda Iskandar, lulusan S1 Universitas Indonesia, pendiri dan CEO Green Neighbour Indonesia, sebuah koalisi yang menjembatani riset, kebijakan, dan aksi komunitas untuk mempercepat solusi iklim dan berpengalaman dalam riset kebijakan bersama Bappenas, DPR RI, dan lembaga think tank,
8. Jordi Hildianto, lulusan Sampoerna University & University of Arizona (S1 Double Degree) yang memiliki kepemimpinan yang kuat dalam advokasi pemuda dan kesehatan mental remaja dan berpengalaman dalam program seperti Helping Adolescents Thrive (HAT) dari UNICEF, serta Forum Generasi Berencana Indonesia dari BKKBN,
9. Salsabila Hardiyanti Warmanda, sarjana S1 Universitas Indonesia yang memiliki semangat besar terhadap pendidikan inklusif, kesehatan mental, dan dampak sosial dan aktif melalui inisiatif seperti Sekolah Sehat Jiwa serta Sadari Project,
10. Eka Hermansyah, lulusan Universitas Islam Internasional (S1&S2), profesional pendidikan yang berkomitmen pada kesetaraan hak anak, pendidikan, dan pembelajaran inklusif, yang telah berpengalaman bersama organisasi-organisasi pembangunan seperti SEAMEO CECCEP dan Save the Children.
Keberagaman Tanoto Fellows angkatan 2025 ini menunjukkan bahwa kepemimpinan pembangunan tidak terbatas pada satu bidang saja. Dari konservasi laut, kebijakan pendidikan, hingga inklusi sosial, para fellow menghadirkan keahlian berbeda-beda yang relevan untuk menghadapi berbagai tantangan Indonesia di masa depan.
Belinda juga menekankan bahwa untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, selain menggunakan sains dan teknologi untuk menciptakan dampak yang lebih besar, para fellow juga perlu membangun kualitas kepemimpinan yang utuh, yaitu rendah hati, memiliki visi dan tujuan yang jelas, dan memiliki empati untuk memahami perasaan orang lain serta melihat situasi dari sudut pandang mereka.
Tahun ini Tanoto Fellows akan ditempatkan di 4 provinsi daerah mitra Tanoto Foundation yaitu Sumatra Utara, Riau, Jawa Tengah, Dan Kalimantan Timur.
Selama satu tahun penuh mereka akan terjun langsung ke dalam ekosistem pendidikan dan kesehatan di daerah mitra Tanoto Foundation, belajar dari praktik nyata, sekaligus merancang dan mengimplementasikan inisiatif pembangunan yang berdampak.
Belinda Tanoto, Anggota Dewan Wali Amanat Tanoto Foundation mengatakan, sejak orang tuanya mendirikan Tanoto Foundation pada 1981, pihaknya telah berkembang dari membangun sekolah dasar di Besitang, Sumatra Utara, hingga mendampingi ratusan sekolah, dan mendorong perubahan system.
Baca juga: Pendidikan Direktur Lokataru Delpedro Marhaen yang Ditetapkan Tersangka Dugaan Penghasutan
"Namun, kami melihat masih ada kekurangan talenta, yang punya misi, holistik dan mampu memimpin. Melalui Fellowship ini, kami ingin menumbuhkan generasi pemimpin baru yang tidak hanya memiliki kapabilitas, tetapi juga tujuan yang kuat, serta berkomitmen untuk memahami isu-isu akar rumput dan melayani komunitasnya,” ujarnya, melalui siaran pers, Rabu (3/9/2025).
10 Tanoto Fellows angkatan 2025 berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman yang inspiratif. Mereka adalah:
1. Julia Rosemary Tapilatu, konservasionis laut asal Papua, pendiri OurConservaSea, lulusan Universitas Papua (S1) dan Texas A&M University (S2) yang aktif menggerakkan edukasi lingkungan di pesisir,
2. Ghefira Auliya Rabbani, lulusan S1 Universitas Riau yang telah memimpin berbagai program pengembangan pemuda, advokasi literasi, serta berpengalaman sebagai Penasihat Khusus untuk Akselerasi Inovasi di Kementerian Pemuda dan Olahraga,
3. Kevin Angdreas, peneliti ekonomi-politik internasional lulusan Asia Pacific University (S1) & London School of Economics (S2), dengan pengalaman bekerja bersama INDEF, CIPS, dan Foreign Policy Community of Indonesia,
4. Dinda Kayana Rizky, lulusan Universitas Brawijaya (S1&S2) yang berdedikasi pada pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan, serta co-founder Urbanist Indonesia, sebuah yayasan yang mengadvokasi komunitas urban termarjinalkan melalui riset, advokasi, dan layanan publik,
5. Ansar Ahmad, alumnus S1 Universitas Indonesia dan Kepala Fundraising di Shantanu Indonesia, yang mengembangkan program pemberdayaan akar rumput di seluruh nusantara dan aktif memimpin upaya penggalangan dana dan advokasi bersama organisasi seperti Humanity First dan LBH Jakarta,
6. Arief Rahman Nur Fadhilah, konselor karier dan pelatih kepemimpinan yang merupakan lulusan Universitas Airlangga (S1&S2) dengan pengalaman dalam program pengembangan pemuda seperti Pena Bangsa dan pelatihan kepemimpinan Rumah Kepemimpinan,
7. Stephanie Dinda Iskandar, lulusan S1 Universitas Indonesia, pendiri dan CEO Green Neighbour Indonesia, sebuah koalisi yang menjembatani riset, kebijakan, dan aksi komunitas untuk mempercepat solusi iklim dan berpengalaman dalam riset kebijakan bersama Bappenas, DPR RI, dan lembaga think tank,
8. Jordi Hildianto, lulusan Sampoerna University & University of Arizona (S1 Double Degree) yang memiliki kepemimpinan yang kuat dalam advokasi pemuda dan kesehatan mental remaja dan berpengalaman dalam program seperti Helping Adolescents Thrive (HAT) dari UNICEF, serta Forum Generasi Berencana Indonesia dari BKKBN,
9. Salsabila Hardiyanti Warmanda, sarjana S1 Universitas Indonesia yang memiliki semangat besar terhadap pendidikan inklusif, kesehatan mental, dan dampak sosial dan aktif melalui inisiatif seperti Sekolah Sehat Jiwa serta Sadari Project,
10. Eka Hermansyah, lulusan Universitas Islam Internasional (S1&S2), profesional pendidikan yang berkomitmen pada kesetaraan hak anak, pendidikan, dan pembelajaran inklusif, yang telah berpengalaman bersama organisasi-organisasi pembangunan seperti SEAMEO CECCEP dan Save the Children.
Keberagaman Tanoto Fellows angkatan 2025 ini menunjukkan bahwa kepemimpinan pembangunan tidak terbatas pada satu bidang saja. Dari konservasi laut, kebijakan pendidikan, hingga inklusi sosial, para fellow menghadirkan keahlian berbeda-beda yang relevan untuk menghadapi berbagai tantangan Indonesia di masa depan.
Belinda juga menekankan bahwa untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, selain menggunakan sains dan teknologi untuk menciptakan dampak yang lebih besar, para fellow juga perlu membangun kualitas kepemimpinan yang utuh, yaitu rendah hati, memiliki visi dan tujuan yang jelas, dan memiliki empati untuk memahami perasaan orang lain serta melihat situasi dari sudut pandang mereka.
Tahun ini Tanoto Fellows akan ditempatkan di 4 provinsi daerah mitra Tanoto Foundation yaitu Sumatra Utara, Riau, Jawa Tengah, Dan Kalimantan Timur.
(nnz)
Lihat Juga :