Kisah Wiwik Dahani, Wisudawan Tertua ITS Usia 63 Tahun Raih IPK 3,95
Jum'at, 26 September 2025 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Jejak Pendidikan Adwin Sumartono, Putra Sri Mulyani yang Wisuda Bareng Anak Retno Marsudi di FKUI
Perjalanan akademiknya tentu tidak mudah. Di usianya kini, kendala fisik sempat menjadi tantangan besar. Bahkan, sebelum sidang promosi doktor, ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, ia merasa kesehatannya justru lebih baik selama menjalani kuliah. “Mungkin karena saya menjalaninya dengan senang dan sepenuh hati,” kata perempuan kelahiran 24 Mei 1962 ini.
Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi kunci keberhasilannya. Meski awalnya anak-anaknya khawatir, lama-kelamaan mereka justru memberi dukungan penuh setelah melihat semangat sang ibu. Begitu pula dengan dukungan dari kampus tempatnya mengajar, yang membuat langkahnya lebih ringan.
Selama tiga tahun menempuh pendidikan doktoral, Wiwik berpegang pada prinsip keyakinan dan fokus pada tujuan. “Kalau kita punya keyakinan, jalani dengan sepenuh hati,” tegasnya. Ia bertekad tetap berkarya hingga masa pensiunnya di usia 65 tahun, bahkan setelah itu masih ingin terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Wiwik, gelar doktor bukanlah tujuan akhir. Yang lebih berharga adalah proses perjuangan dalam menuntut ilmu. Semangatnya sejalan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas. “Saya harap perjalanan ini bisa menjadi inspirasi generasi muda untuk tidak pernah berhenti belajar,” tutupnya.
Perjalanan akademiknya tentu tidak mudah. Di usianya kini, kendala fisik sempat menjadi tantangan besar. Bahkan, sebelum sidang promosi doktor, ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, ia merasa kesehatannya justru lebih baik selama menjalani kuliah. “Mungkin karena saya menjalaninya dengan senang dan sepenuh hati,” kata perempuan kelahiran 24 Mei 1962 ini.
Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi kunci keberhasilannya. Meski awalnya anak-anaknya khawatir, lama-kelamaan mereka justru memberi dukungan penuh setelah melihat semangat sang ibu. Begitu pula dengan dukungan dari kampus tempatnya mengajar, yang membuat langkahnya lebih ringan.
Selama tiga tahun menempuh pendidikan doktoral, Wiwik berpegang pada prinsip keyakinan dan fokus pada tujuan. “Kalau kita punya keyakinan, jalani dengan sepenuh hati,” tegasnya. Ia bertekad tetap berkarya hingga masa pensiunnya di usia 65 tahun, bahkan setelah itu masih ingin terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Wiwik, gelar doktor bukanlah tujuan akhir. Yang lebih berharga adalah proses perjuangan dalam menuntut ilmu. Semangatnya sejalan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas. “Saya harap perjalanan ini bisa menjadi inspirasi generasi muda untuk tidak pernah berhenti belajar,” tutupnya.
(nnz)
Lihat Juga :