Kisah Hermawan, Lulus S2 dan S3 4 Tahun dengan IPK Sempurna di Universitas Brawijaya
Jum'at, 03 Oktober 2025 - 20:14 WIB
loading...
Muhammad Hermawan Widyananda, alumnus Biologi Universitas Brawijaya (UB), resmi menyandang gelar doktor dengan IPK sempurna 4,00. Foto/UB.
A
A
A
JAKARTA - Muhammad Hermawan Widyananda, alumnus Biologi Universitas Brawijaya (UB), resmi menyandang gelar doktor dengan IPK sempurna 4,00. Tak hanya itu, ia berhasil menyelesaikan studi S2 dan S3 dalam waktu hanya empat tahun melalui beasiswa PMDSU Batch 6.
Lebih mengesankan lagi, Hermawan telah menghasilkan 53 publikasi internasional, terdiri dari 13 artikel terindeks Q1, 10 artikel Q2, dan sisanya Q3, dengan H-Index Scopus mencapai 18.
Baca juga: Lika Liku 2 Pasutri Kompak Wisuda Bareng dan Raih Gelar S2 dan S3 di ITS
“Yang pasti senang dan lega. Untuk S3 di Biologi ada 10 ujian sidang, dan semuanya harus bernilai A agar bisa meraih IPK sempurna,” ungkapnya, mengutip laman Universitas Brawijaya, Jumat (3/10/2025).
Hermawan mengaku bahwa dukungan dari Rektor UB, Prof. Widodo, menjadi motivasi besar dalam karier akademiknya.
“Beliau menilai saya punya potensi sebagai peneliti. Selain memberi motivasi, beliau juga menyediakan banyak fasilitas penelitian dan pendanaan. Itu yang membuat saya semakin produktif,” katanya.
Baca juga: Kisah Inspiratif Qori, Anak Driver Ojol Lulus Cumlaude dari Undip dengan IPK 3,95
Salah satu penelitian unggulannya adalah pengembangan kombinasi tiga herbal sebagai antikanker payudara. Ia menyebut penelitian tersebut penuh tantangan karena riset eksperimental kerap mengalami kegagalan.
“Namun di balik ribuan kegagalan tersebut, ada satu keberhasilan. Yang mana itulah yang, alhamdulillah, membawa saya lulus. Dan satu keberhasilan itulah yang membuat kami banyak melakukan luaran di jurnal internasional,” ujarnya.
Baca juga:Mahasiswa UPN Yogyakarta Ini Raih Lulusan Terbaik, Cetak 16 Prestasi
Penelitian tersebut telah dipublikasikan di Wiley tahun 2022, membahas Boesenbergia rotunda (temu kunci) sebagai antikanker payudara berbasis metode bioinformatika inovatif. Selain itu, pengalaman riset enam bulan di Jepang juga membuahkan publikasi di Molecules tahun 2025 terkait potensi temu kunci sebagai anti-inflamasi dan anti-obesitas.
Bagi Hermawan, tolok ukur produktivitas bukan hanya banyaknya publikasi, tetapi juga kualitasnya.
“Kalau kita mengacu pada kuantitas saja, nanti papernya banyak tapi sitasinya sedikit. Jadi, selain kuantitas, kualitas juga penting,” terangnya.
Ia mengakui bahwa lingkungan riset yang kondusif turut berpengaruh.
“Di Lab Biomol UB sudah dibangun ekosistem riset yang suportif oleh Prof. Muhaimin Rifa’i dan Prof. Sasmito Djati. Jadi kita ke lab itu tidak stres, gitu. Dengan tujuan yang jelas, kemudian ekosistem riset yang bagus, saya yakin semua pasti bisa untuk menghasilkan banyak publikasi berkualitas,” ujarnya.
Saat ini, Hermawan melanjutkan kariernya sebagai Research Fellow di Pusat Studi Biosistem DRPM UB, setara dengan postdoctoral fellow. Ia memasang target tinggi untuk publikasi berikutnya.
“Semoga ke depan saya dan rekan-rekan peneliti yang lain bisa menghasilkan publikasi yang sangat bagus. Syukur-syukur nanti bisa publish di Nature. Itu kan ikut mengangkat nama UB juga,” ujarnya.
Hermawan juga menyampaikan motivasi untuk para peneliti muda.
“Mungkin penelitian itu ada pasang surutnya. Pas surut, ya mungkin istirahat dulu ya pas surut ya. Tapi jangan terlalu lama. Karena studi itu ada waktunya ya. S2 itu dua tahun, S3 itu tiga tahun bagusnya. Jalani hubungan yang baik dengan promotornya atau pembimbingnya. Dan jangan lupa menikmati hidup,” pesannya.
Dia juga menyampaikan apresiasi terhadap para pembimbingnya.
“Untuk tambahan ya, mungkin saya ucapkan terima kasih dulu ya kepada beberapa pihak yang sangat berperan atas apa yang saya capai selama ini. Yang pertama saya ingin terima kasih kepada Rektor kita Prof. Widodo. Kemudian juga, kami juga harus berterima kasih kepada pembina lab di tempat saya bekerja,” pungkasnya.
Lebih mengesankan lagi, Hermawan telah menghasilkan 53 publikasi internasional, terdiri dari 13 artikel terindeks Q1, 10 artikel Q2, dan sisanya Q3, dengan H-Index Scopus mencapai 18.
Baca juga: Lika Liku 2 Pasutri Kompak Wisuda Bareng dan Raih Gelar S2 dan S3 di ITS
“Yang pasti senang dan lega. Untuk S3 di Biologi ada 10 ujian sidang, dan semuanya harus bernilai A agar bisa meraih IPK sempurna,” ungkapnya, mengutip laman Universitas Brawijaya, Jumat (3/10/2025).
Dukungan Rektor UB Jadi Titik Balik
Hermawan mengaku bahwa dukungan dari Rektor UB, Prof. Widodo, menjadi motivasi besar dalam karier akademiknya.
“Beliau menilai saya punya potensi sebagai peneliti. Selain memberi motivasi, beliau juga menyediakan banyak fasilitas penelitian dan pendanaan. Itu yang membuat saya semakin produktif,” katanya.
Baca juga: Kisah Inspiratif Qori, Anak Driver Ojol Lulus Cumlaude dari Undip dengan IPK 3,95
Riset Herbal untuk Kanker Payudara
Salah satu penelitian unggulannya adalah pengembangan kombinasi tiga herbal sebagai antikanker payudara. Ia menyebut penelitian tersebut penuh tantangan karena riset eksperimental kerap mengalami kegagalan.
“Namun di balik ribuan kegagalan tersebut, ada satu keberhasilan. Yang mana itulah yang, alhamdulillah, membawa saya lulus. Dan satu keberhasilan itulah yang membuat kami banyak melakukan luaran di jurnal internasional,” ujarnya.
Baca juga:Mahasiswa UPN Yogyakarta Ini Raih Lulusan Terbaik, Cetak 16 Prestasi
Penelitian tersebut telah dipublikasikan di Wiley tahun 2022, membahas Boesenbergia rotunda (temu kunci) sebagai antikanker payudara berbasis metode bioinformatika inovatif. Selain itu, pengalaman riset enam bulan di Jepang juga membuahkan publikasi di Molecules tahun 2025 terkait potensi temu kunci sebagai anti-inflamasi dan anti-obesitas.
Produktivitas Bukan Sekadar Jumlah Publikasi
Bagi Hermawan, tolok ukur produktivitas bukan hanya banyaknya publikasi, tetapi juga kualitasnya.
“Kalau kita mengacu pada kuantitas saja, nanti papernya banyak tapi sitasinya sedikit. Jadi, selain kuantitas, kualitas juga penting,” terangnya.
Ia mengakui bahwa lingkungan riset yang kondusif turut berpengaruh.
“Di Lab Biomol UB sudah dibangun ekosistem riset yang suportif oleh Prof. Muhaimin Rifa’i dan Prof. Sasmito Djati. Jadi kita ke lab itu tidak stres, gitu. Dengan tujuan yang jelas, kemudian ekosistem riset yang bagus, saya yakin semua pasti bisa untuk menghasilkan banyak publikasi berkualitas,” ujarnya.
Target Berikutnya: Publikasi di Nature
Saat ini, Hermawan melanjutkan kariernya sebagai Research Fellow di Pusat Studi Biosistem DRPM UB, setara dengan postdoctoral fellow. Ia memasang target tinggi untuk publikasi berikutnya.
“Semoga ke depan saya dan rekan-rekan peneliti yang lain bisa menghasilkan publikasi yang sangat bagus. Syukur-syukur nanti bisa publish di Nature. Itu kan ikut mengangkat nama UB juga,” ujarnya.
Pesan untuk Mahasiswa Pascasarjana
Hermawan juga menyampaikan motivasi untuk para peneliti muda.
“Mungkin penelitian itu ada pasang surutnya. Pas surut, ya mungkin istirahat dulu ya pas surut ya. Tapi jangan terlalu lama. Karena studi itu ada waktunya ya. S2 itu dua tahun, S3 itu tiga tahun bagusnya. Jalani hubungan yang baik dengan promotornya atau pembimbingnya. Dan jangan lupa menikmati hidup,” pesannya.
Dia juga menyampaikan apresiasi terhadap para pembimbingnya.
“Untuk tambahan ya, mungkin saya ucapkan terima kasih dulu ya kepada beberapa pihak yang sangat berperan atas apa yang saya capai selama ini. Yang pertama saya ingin terima kasih kepada Rektor kita Prof. Widodo. Kemudian juga, kami juga harus berterima kasih kepada pembina lab di tempat saya bekerja,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :