Hapus Sekat Peneliti dan Publik, Kemendiktisaintek Luncurkan Program Living Lab
Sabtu, 04 Oktober 2025 - 21:02 WIB
loading...
A
A
A
Yudi ingin kontribusi masyarakat semakin aktif dalam memengaruhi produk sains dan teknologi. Ia menekankan pentingnya interaksi berkelanjutan. “Kita ciptakan siklus, bukan hanya interaksinya saja, tapi di sana ada keberlanjutan, sehingga dirasakan langsung oleh masyarakat,” tuturnya.
Ia juga menilai kedekatan peneliti dan masyarakat tak hanya akan menghasilkan produk riset, tetapi juga membangun budaya berpikir kritis. “Ketika masyarakat lebih paham, maka harus bisa sampai berdebat dengan saintis,” ujarnya.
Yudi menambahkan, gagasan penelitian seharusnya muncul dari pemikiran publik agar masalah yang dihadapi warga bisa dibawa ke laboratorium. “Kita menginginkan gerakan penelitian ini bisa terilhami dari pemikiran di publik,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa banyak hasil riset yang gagal dihilirisasi, sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan peneliti. “Isu-isu produk riset gagal hilirisasi ini banyak soal ya, mungkin juga dari segi bisnis. Tapi yang jelas ini sudah membuat peneliti frustasi,” kata Yudi. Ketidaksesuaian dengan kebutuhan masyarakat juga menjadi hambatan, sehingga kolaborasi perlu diperkuat.
Pada kesempatan yang sama, Dosen Sastra Inggris Universitas Negeri Malang, Evi Eliyanah, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sejak tahap awal riset melalui konsep co-creation. Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penerima hasil penelitian.
“Jadi dengan co-kreasi bersama ini masyarakat dilibatkan bahkan sejak memetakan permasalahan yang ada,” ungkap Evi. Ia menilai pendekatan ini mencegah lahirnya produk riset yang tidak terpakai karena minim keterlibatan publik.
Ia juga menilai kedekatan peneliti dan masyarakat tak hanya akan menghasilkan produk riset, tetapi juga membangun budaya berpikir kritis. “Ketika masyarakat lebih paham, maka harus bisa sampai berdebat dengan saintis,” ujarnya.
Yudi menambahkan, gagasan penelitian seharusnya muncul dari pemikiran publik agar masalah yang dihadapi warga bisa dibawa ke laboratorium. “Kita menginginkan gerakan penelitian ini bisa terilhami dari pemikiran di publik,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa banyak hasil riset yang gagal dihilirisasi, sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan peneliti. “Isu-isu produk riset gagal hilirisasi ini banyak soal ya, mungkin juga dari segi bisnis. Tapi yang jelas ini sudah membuat peneliti frustasi,” kata Yudi. Ketidaksesuaian dengan kebutuhan masyarakat juga menjadi hambatan, sehingga kolaborasi perlu diperkuat.
Pada kesempatan yang sama, Dosen Sastra Inggris Universitas Negeri Malang, Evi Eliyanah, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sejak tahap awal riset melalui konsep co-creation. Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penerima hasil penelitian.
“Jadi dengan co-kreasi bersama ini masyarakat dilibatkan bahkan sejak memetakan permasalahan yang ada,” ungkap Evi. Ia menilai pendekatan ini mencegah lahirnya produk riset yang tidak terpakai karena minim keterlibatan publik.
Lihat Juga :