Hapus Sekat Peneliti dan Publik, Kemendiktisaintek Luncurkan Program Living Lab

Sabtu, 04 Oktober 2025 - 21:02 WIB
loading...
Hapus Sekat Peneliti...
Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdeniktisaintek tengah menyiapkan program living lab yang memungkinkan masyarakat mengakses langsung ruang laboratorium. Foto.Istimewa.
A A A
JAKARTA - Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tengah menyiapkan program living lab yang memungkinkan masyarakat mengakses langsung ruang laboratorium.

Lewat program ini, pemerintah ingin menghapus sekat antara peneliti dan publik. Harapannya, para ahli dapat berkolaborasi langsung dengan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan nyata.

“Jangan lagi kegiatan saintek itu banyak di lab yang dibatasi ruang, dibatasi alat,” ujar Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Yudi Darma, dalam Diskusi Media bertema Membangun Ruang Hidup Sains dan Teknologi untuk Masyarakat di Jakarta, Jumat (3/10/2025).

Baca juga: LPDP Gelontorkan Rp1,1 Triliun Danai Riset Strategis Kemendiktisaintek

Yudi menegaskan perlunya intervensi lebih kuat agar sains dan teknologi dirasakan langsung masyarakat. Dengan program ini, warga dapat memanfaatkan laboratorium sebagai sarana penyelesaian masalah di lingkungan mereka.

Menurutnya, persoalan publik seharusnya menjadi dasar lahirnya riset yang berdampak. Ia menyebut bahwa kebutuhan masyarakat sebenarnya menjadi tuntutan sekaligus inspirasi bagi para peneliti. “Sebenarnya masyarakat ada harapan, tuntutan, bahkan di pihak peneliti juga masyarakat itu selalu memberikan porsi (ide) di research center,” jelasnya.

Yudi ingin kontribusi masyarakat semakin aktif dalam memengaruhi produk sains dan teknologi. Ia menekankan pentingnya interaksi berkelanjutan. “Kita ciptakan siklus, bukan hanya interaksinya saja, tapi di sana ada keberlanjutan, sehingga dirasakan langsung oleh masyarakat,” tuturnya.

Ia juga menilai kedekatan peneliti dan masyarakat tak hanya akan menghasilkan produk riset, tetapi juga membangun budaya berpikir kritis. “Ketika masyarakat lebih paham, maka harus bisa sampai berdebat dengan saintis,” ujarnya.

Yudi menambahkan, gagasan penelitian seharusnya muncul dari pemikiran publik agar masalah yang dihadapi warga bisa dibawa ke laboratorium. “Kita menginginkan gerakan penelitian ini bisa terilhami dari pemikiran di publik,” tegasnya.

Ia mengakui bahwa banyak hasil riset yang gagal dihilirisasi, sehingga menimbulkan kekecewaan di kalangan peneliti. “Isu-isu produk riset gagal hilirisasi ini banyak soal ya, mungkin juga dari segi bisnis. Tapi yang jelas ini sudah membuat peneliti frustasi,” kata Yudi. Ketidaksesuaian dengan kebutuhan masyarakat juga menjadi hambatan, sehingga kolaborasi perlu diperkuat.

Pada kesempatan yang sama, Dosen Sastra Inggris Universitas Negeri Malang, Evi Eliyanah, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat sejak tahap awal riset melalui konsep co-creation. Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya menjadi penerima hasil penelitian.

“Jadi dengan co-kreasi bersama ini masyarakat dilibatkan bahkan sejak memetakan permasalahan yang ada,” ungkap Evi. Ia menilai pendekatan ini mencegah lahirnya produk riset yang tidak terpakai karena minim keterlibatan publik.

Kolaborasi dengan industri juga dinilai penting agar proses riset dari hulu hingga hilir lebih optimal. Selain itu, perlu dipetakan kembali persoalan baru setelah produk diterapkan agar pengembangan terus berlanjut. “Jadi ada umpan balik dalam memetakan bagaimana masalah yang kita hadapi ini dan akan kembali diselesaikan bersama,” ujarnya.

Sementara itu, sejarawan Monash University, Luthfi Adam, menyebut salah satu tantangan utama riset adalah lemahnya koneksi antara peneliti dan masyarakat. Ia menyoroti pentingnya komunikasi dua arah. “Karena jangan sampai terpisah dunia riset itu antara kampus dengan penelitinya serta masyarakat,” katanya.

Menurut Luthfi, peneliti memang memiliki keahlian, namun masyarakat lebih dekat dengan persoalan faktual. “Jadi harus ada ruang yang didobrak sehingga saintis dan masyarakat berada dalam satu ruang yang sama,” ujarnya.

Ia juga menyarankan agar masyarakat menjadi informan utama bagi peneliti. “Saintis harus punya relasi dengan siapa saja, mereka harus punya informan dan informan itu adalah orang lokal, masyarakat yang memberikan informasi pengetahuan,” tutup Luthfi.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Peneliti Universitas...
Peneliti Universitas Jember Buktikan Tanaman Liar Kalimantan Efektif Turunkan Gula Darah
Indonesia-Prancis Sepakat...
Indonesia-Prancis Sepakat Perkuat Riset, Inovasi, dan Mobilitas Mahasiswa 2026
Disertasi Doktor Komunikasi...
Disertasi Doktor Komunikasi Ungkap Bahaya Ketergantungan pada AI Smartwatch
Riset LAPI ITB: Konektivitas...
Riset LAPI ITB: Konektivitas Digital Dongkrak PDRB dan Serap 685 Ribu Tenaga Kerja
Dugaan Kekerasan Seksual...
Dugaan Kekerasan Seksual di FHUI, Kemendiktisaintek Tegaskan Pemeriksaan Masih Berjalan
UAI dan University of...
UAI dan University of Edinburgh Dorong Inklusivitas di Dunia Riset dan Pendidikan Tinggi
GenIUS Expo 2026 Dorong...
GenIUS Expo 2026 Dorong Siswa Kembangkan Potensi Diri melalui Karya dan Inovasi
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
Motif Skandal Riset...
Motif Skandal Riset Palsu Internasional, Pelaku Incar Travel Grant ke Luar Negeri
Rekomendasi
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Perlukah Melakukan Resolusi...
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Berita Terkini
Tegang Sejak Pagi! 32...
Tegang Sejak Pagi! 32 Tim Terbaik Liga Bintang Juara Bersaing Menuju Jakarta
Liga Bintang Juara Hari...
Liga Bintang Juara Hari Kedua: 32 Tim Bertarung Rebut 16 Tiket ke Babak Utama Jakarta
Kisah Raihan, Siswa...
Kisah Raihan, Siswa MAN 1 Yogya yang Berhasil Diterima di ITB, UGM, dan ITS
UKT dan Uang Pangkal...
UKT dan Uang Pangkal Jalur Mandiri Vokasi Undip 2026, Tes Online dari Rumah
Mahasiswa Indonesia-Thailand...
Mahasiswa Indonesia-Thailand Pelajari Rantai Pasok Kopi Jawa Lewat Short Course UNEJ
Midcare Expo 2026 FK...
Midcare Expo 2026 FK Unair, Dorong Mahasiswa Kembangkan Jiwa Kewirausahaan
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved