Dedikasi Guru Eti Karwati Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Triguna Subang
Selasa, 14 Oktober 2025 - 17:44 WIB
loading...
Profil guru Eti Karwati yang mengajar dengan hati memberi ilmu di SLB Triguna, Subang, Jawa Barat. Foto/SINDOnews.
A
A
A
SUBANG - Di balik perubahan SLB Triguna Subang yang kini lebih bersih dan nyaman pascarevitalisasi, ada sosok guru Eti Karwati yang telah mengabdikan hidupnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Sejak diangkat sebagai ASN pada 2011, Eti telah menjadi wajah pendidikan inklusif di sekolah yang berlokasi di Kabupaten Subang, Jawa Barat ini. Sebelumnya, ia juga sudah lama mengabdi sebagai guru honorer.
Lulusan jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu mengaku bahwa menjadi guru di SLB bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hati. “Yang membuat saya semangat setiap hari bangun dan datang ke sekolah adalah karena mengingat anak-anak di sekolah,” ujarnya ketika ditemui saat mengawasi muridnya membuat prakarya, Senin (13/10/2025).
Baca juga: Papan Interaktif Digital di SLB Triguna Bantu Siswa Berkebutuhan Khusus Akses Teknologi
Selama 14 tahun, Eti mengajar semua mata pelajaran karena di SLB guru dituntut menguasai berbagai kompetensi. Tantangan terbesar, kata dia, datang dari kondisi intelektual anak-anak yang berbeda-beda. “Karena keterbatasan IQ atau intelektualnya, kita harus betul-betul memikirkan cara menyampaikannya supaya anak bisa mengerti,” jelasnya.
Menurutnya, pembelajaran tidak bisa instan. Anak yang belum hafal huruf tidak bisa langsung dipaksa membaca. Begitu pula berhitung, harus dicicil dengan metode bermain, media menarik, dan pendekatan bertahap. “Kadang kelas 10 atau 12 masih ada yang belum mengenal angka. Jadi kita pakai permainan, media belajar, biar mereka tertarik dan tidak bosan,” tuturnya.
Baca juga: Program Revitalisasi Sekolah di SLB Trituna Subang Ubah Kelas Kumuh Jadi Nyaman
Eti tak menampik bahwa rasa lelah kadang muncul saat strategi belum berhasil. Namun kebahagiaan sederhana dari siswa membuatnya kembali bersemangat. “Kalau lihat anak-anak senang, semangat belajarnya muncul, itu suka yang paling besar,” katanya.
Di sela pembelajaran akademik, Eti dan rekan-rekannya rutin mengadakan sesi keterampilan atau prakarya. Anak-anak diajak merangkai bunga, membuat cenderamata, dan kerajinan tangan lainnya. Hasilnya tidak hanya menghias sekolah, tetapi juga kerap dipesan untuk acara wisuda, pernikahan, ulang tahun, hingga Hari Guru.
“Kita bikin pelajaran yang bikin senang dan sesuai kemampuan anak. Anak tuna grahita manapun pasti bisa, asal rutin,” kata Eti. Menurutnya, prakarya menjadi cara efektif menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus menyiapkan keterampilan hidup bagi anak-anak setelah lulus.
SLB Triguna termasuk salah satu sekolah yang memperoleh program revitalisasi dari pemerintah. Eti mengenang kondisi lama sekolah yang dulu kumuh dan kurang layak untuk belajar. Kini ruang-ruang sudah bersih, lebih nyaman, dan mendukung kegiatan pembelajaran.
Meski bersyukur, ia berharap perhatian pemerintah tidak berhenti sampai di situ. “Mungkin lebih ditingkatkan untuk pelatihan guru, sarana-prasarana yang belum ada, dan alat permainan edukatif untuk anak-anak,” pintanya.
Lulusan jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) itu mengaku bahwa menjadi guru di SLB bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hati. “Yang membuat saya semangat setiap hari bangun dan datang ke sekolah adalah karena mengingat anak-anak di sekolah,” ujarnya ketika ditemui saat mengawasi muridnya membuat prakarya, Senin (13/10/2025).
Baca juga: Papan Interaktif Digital di SLB Triguna Bantu Siswa Berkebutuhan Khusus Akses Teknologi
Selama 14 tahun, Eti mengajar semua mata pelajaran karena di SLB guru dituntut menguasai berbagai kompetensi. Tantangan terbesar, kata dia, datang dari kondisi intelektual anak-anak yang berbeda-beda. “Karena keterbatasan IQ atau intelektualnya, kita harus betul-betul memikirkan cara menyampaikannya supaya anak bisa mengerti,” jelasnya.
Menurutnya, pembelajaran tidak bisa instan. Anak yang belum hafal huruf tidak bisa langsung dipaksa membaca. Begitu pula berhitung, harus dicicil dengan metode bermain, media menarik, dan pendekatan bertahap. “Kadang kelas 10 atau 12 masih ada yang belum mengenal angka. Jadi kita pakai permainan, media belajar, biar mereka tertarik dan tidak bosan,” tuturnya.
Baca juga: Program Revitalisasi Sekolah di SLB Trituna Subang Ubah Kelas Kumuh Jadi Nyaman
Eti tak menampik bahwa rasa lelah kadang muncul saat strategi belum berhasil. Namun kebahagiaan sederhana dari siswa membuatnya kembali bersemangat. “Kalau lihat anak-anak senang, semangat belajarnya muncul, itu suka yang paling besar,” katanya.
Keterampilan Prakarya: Bekal Masa Depan untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Di sela pembelajaran akademik, Eti dan rekan-rekannya rutin mengadakan sesi keterampilan atau prakarya. Anak-anak diajak merangkai bunga, membuat cenderamata, dan kerajinan tangan lainnya. Hasilnya tidak hanya menghias sekolah, tetapi juga kerap dipesan untuk acara wisuda, pernikahan, ulang tahun, hingga Hari Guru.
“Kita bikin pelajaran yang bikin senang dan sesuai kemampuan anak. Anak tuna grahita manapun pasti bisa, asal rutin,” kata Eti. Menurutnya, prakarya menjadi cara efektif menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus menyiapkan keterampilan hidup bagi anak-anak setelah lulus.
Revitalisasi Mengubah Wajah Sekolah
SLB Triguna termasuk salah satu sekolah yang memperoleh program revitalisasi dari pemerintah. Eti mengenang kondisi lama sekolah yang dulu kumuh dan kurang layak untuk belajar. Kini ruang-ruang sudah bersih, lebih nyaman, dan mendukung kegiatan pembelajaran.
Meski bersyukur, ia berharap perhatian pemerintah tidak berhenti sampai di situ. “Mungkin lebih ditingkatkan untuk pelatihan guru, sarana-prasarana yang belum ada, dan alat permainan edukatif untuk anak-anak,” pintanya.
(nnz)
Lihat Juga :