Revitalisasi Sekolah di SMKN 1 Cibogo Subang Dongkrak Fasilitas dan Semangat Belajar
Rabu, 15 Oktober 2025 - 07:30 WIB
loading...
SMK Negeri 1 Cibogo, Subang, menjadi salah satu penerima program revitalisasi sekolah dengan anggaran sebesar Rp1,359 miliar. Foto/BKHM.
A
A
A
JAKARTA - SMK Negeri 1 Cibogo, Subang, menjadi salah satu penerima program revitalisasi sekolah dengan anggaran sebesar Rp1,359 miliar. Dana ini digunakan untuk rehabilitasi berat pada tiga ruangan, rehabilitasi sedang di empat ruangan, serta pembangunan fasilitas toilet. Hingga Oktober 2025, progresnya sudah menembus lebih dari 60 persen dan ditargetkan selesai pada November 2025.
Kepala SMKN 1 Cibogo, Ade Suhedin, mengatakan bahwa perbaikan ini menjawab kebutuhan mendesak sekolah terhadap sarana belajar yang aman. “Sebelum revitalisasi, ada dua ruangan yang hampir roboh. Kami sempat menahannya menggunakan tiang besi. Baru pada 2025 kita mendapat program revitalisasi, jadi masalahnya bisa diselesaikan,” ujarnya, melalui siaran pers, Rabu (14/10/2025).
Baca juga: Kemendikdasmen Gelontorkan Rp3,1 Miliar untuk Revitalisasi SDN 02 dan 03 Leuwibatu di Bogor
Sekolah dengan total 451 siswa yang terbagi dalam 18 rombongan belajar ini kini merasakan dampak positif dari perbaikan infrastruktur. “Anak-anak juga senang karena melihat ruangan baru,” tambah Ade.
Manfaat revitalisasi turut dirasakan langsung oleh siswa. Darnengsih, siswa kelas XII Akuntansi, mengaku kondisi belajar kini jauh lebih baik. “Dulu kami kekurangan kelas, sering belajar di luar, dan kalau hujan bocor. Sekarang sudah tidak lagi. Terima kasih kepada Bapak Presiden yang sudah merenovasi sekolah kami, sekarang jadi jauh lebih baik,” tuturnya.
Program Revitalisasi SMK di berbagai daerah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung pembelajaran vokasi sesuai kebutuhan dunia kerja. Revitalisasi bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menumbuhkan semangat baru dalam pendidikan vokasi untuk mencetak generasi yang terampil, mandiri, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
Sepanjang 2025, tercatat 1.439 SMK di Indonesia telah menerima bantuan renovasi dan revitalisasi infrastruktur dari pemerintah.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, menjelaskan bahwa sasaran program ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan bangunan. “Menu revitalisasi ini ditujukan untuk rehabilitasi kerusakan sedang dan berat. Sekolah penerima dipastikan membutuhkan perbaikan signifikan. Kami menggunakan data DAK 2024 untuk lokus 2025, dikombinasikan dengan Dapodik yang memuat kondisi sarana dan prasarana sekolah. Data tersebut diverifikasi dan divalidasi agar tepat sasaran,” kata Saryadi di SMKN 1 Cibogo, Subang.
Ia menegaskan bahwa sekolah negeri dan swasta memiliki peluang yang sama selama memenuhi syarat. “Jika memenuhi kriteria, terdaftar di Dapodik, memiliki sarana yang rusak, dan kepemilikan lahan yang sah, sekolah berhak mengajukan revitalisasi,” jelasnya.
Untuk tahun berikutnya, pemerintah tetap menunjukkan komitmen yang sama. “InsyaAllah anggaran revitalisasi akan kembali dialokasikan,” ujarnya.
Pelaksanaan revitalisasi juga melibatkan pemerintah daerah. Kepala Bidang Pembinaan SMK Disdik Provinsi Jawa Barat, Edy Purwanto, menyebutkan bahwa pihaknya melakukan pengawasan langsung di lapangan. “Kami mengontrol pencapaian target-targetnya dan memastikan apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan rencana,” tutupnya.
Kepala SMKN 1 Cibogo, Ade Suhedin, mengatakan bahwa perbaikan ini menjawab kebutuhan mendesak sekolah terhadap sarana belajar yang aman. “Sebelum revitalisasi, ada dua ruangan yang hampir roboh. Kami sempat menahannya menggunakan tiang besi. Baru pada 2025 kita mendapat program revitalisasi, jadi masalahnya bisa diselesaikan,” ujarnya, melalui siaran pers, Rabu (14/10/2025).
Baca juga: Kemendikdasmen Gelontorkan Rp3,1 Miliar untuk Revitalisasi SDN 02 dan 03 Leuwibatu di Bogor
Sekolah dengan total 451 siswa yang terbagi dalam 18 rombongan belajar ini kini merasakan dampak positif dari perbaikan infrastruktur. “Anak-anak juga senang karena melihat ruangan baru,” tambah Ade.
Manfaat revitalisasi turut dirasakan langsung oleh siswa. Darnengsih, siswa kelas XII Akuntansi, mengaku kondisi belajar kini jauh lebih baik. “Dulu kami kekurangan kelas, sering belajar di luar, dan kalau hujan bocor. Sekarang sudah tidak lagi. Terima kasih kepada Bapak Presiden yang sudah merenovasi sekolah kami, sekarang jadi jauh lebih baik,” tuturnya.
Program Revitalisasi SMK di berbagai daerah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung pembelajaran vokasi sesuai kebutuhan dunia kerja. Revitalisasi bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menumbuhkan semangat baru dalam pendidikan vokasi untuk mencetak generasi yang terampil, mandiri, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
Sepanjang 2025, tercatat 1.439 SMK di Indonesia telah menerima bantuan renovasi dan revitalisasi infrastruktur dari pemerintah.
Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, menjelaskan bahwa sasaran program ditentukan berdasarkan tingkat kerusakan bangunan. “Menu revitalisasi ini ditujukan untuk rehabilitasi kerusakan sedang dan berat. Sekolah penerima dipastikan membutuhkan perbaikan signifikan. Kami menggunakan data DAK 2024 untuk lokus 2025, dikombinasikan dengan Dapodik yang memuat kondisi sarana dan prasarana sekolah. Data tersebut diverifikasi dan divalidasi agar tepat sasaran,” kata Saryadi di SMKN 1 Cibogo, Subang.
Ia menegaskan bahwa sekolah negeri dan swasta memiliki peluang yang sama selama memenuhi syarat. “Jika memenuhi kriteria, terdaftar di Dapodik, memiliki sarana yang rusak, dan kepemilikan lahan yang sah, sekolah berhak mengajukan revitalisasi,” jelasnya.
Untuk tahun berikutnya, pemerintah tetap menunjukkan komitmen yang sama. “InsyaAllah anggaran revitalisasi akan kembali dialokasikan,” ujarnya.
Pelaksanaan revitalisasi juga melibatkan pemerintah daerah. Kepala Bidang Pembinaan SMK Disdik Provinsi Jawa Barat, Edy Purwanto, menyebutkan bahwa pihaknya melakukan pengawasan langsung di lapangan. “Kami mengontrol pencapaian target-targetnya dan memastikan apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan rencana,” tutupnya.
(nnz)
Lihat Juga :