SEAMEO CECCEP Tegaskan Penguatan Pengasuhan Holistik Integratif di Forum Regional 2025
Sabtu, 18 Oktober 2025 - 18:39 WIB
loading...
A
A
A
Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany membuka acara dengan menjelaskan bahwa pendekatan PAUD yang kontekstual membantu melepaskan cara pandang hierarkis terhadap pengetahuan. “Pendekatan ini juga mengangkat kembali kebijakan melalui nilai-nilai kepedulian, keadilan, dan ketergantungan satu sama lain,” sambung Prof. Vina.
Penguatan praktik pengasuhan yang terintegrasi dan holistik juga menjadi salah satu bahasan utama dalam forum ini. Meskipun pengasuhan diakui sebagai tanggung jawab bersama, penerapannya masih menghadapi berbagai hambatan, seperti masih adanya praktik hukuman fisik, keterbatasan kebijakan cuti ayah, serta kurangnya akses terhadap layanan penitipan anak yang aman dan terjangkau. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi strategis dan advokasi yang tepat.
“90 persen perkembangan otak terjadi sebelum usia enam tahun, karenanya investasi pada pendidikan anak usia dini adalah langkah strategis membangun masa depan bangsa. Namun, keberhasilan PAUD butuh dukungan sistem pengasuhan dan kesehatan yang kuat, serta nilai-nilai keluarga dan pola asuh yang seimbang,” jelas Pungkas Bahjuri Ali, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas RI, yang menjadi keynote speaker pada forum ini, melalui siaran pers, Sabtu (18/10/2025).
“Melalui kolaborasi dan berbagi praktik baik di tingkat Asia, kita dapat memperkuat advokasi agar setiap anak memiliki fondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045,” sambung Pungkas.
Forum ini juga menyoroti pentingnya edukasi tentang penerapan disiplin positif dalam pembentukan karakter anak. Pendekatan ini tidak hanya memastikan anak diasuh tanpa kekerasan, tetapi juga membantu menumbuhkan konsep diri yang positif. Selain itu, pentingnya peran ayah dalam pengasuhan juga menjadi perhatian, di mana paradigma bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab ibu semata harus diubah menjadi tanggung jawab bersama antara ayah, ibu, keluarga, dan masyarakat luas.
Penguatan praktik pengasuhan yang terintegrasi dan holistik juga menjadi salah satu bahasan utama dalam forum ini. Meskipun pengasuhan diakui sebagai tanggung jawab bersama, penerapannya masih menghadapi berbagai hambatan, seperti masih adanya praktik hukuman fisik, keterbatasan kebijakan cuti ayah, serta kurangnya akses terhadap layanan penitipan anak yang aman dan terjangkau. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi strategis dan advokasi yang tepat.
“90 persen perkembangan otak terjadi sebelum usia enam tahun, karenanya investasi pada pendidikan anak usia dini adalah langkah strategis membangun masa depan bangsa. Namun, keberhasilan PAUD butuh dukungan sistem pengasuhan dan kesehatan yang kuat, serta nilai-nilai keluarga dan pola asuh yang seimbang,” jelas Pungkas Bahjuri Ali, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas RI, yang menjadi keynote speaker pada forum ini, melalui siaran pers, Sabtu (18/10/2025).
“Melalui kolaborasi dan berbagi praktik baik di tingkat Asia, kita dapat memperkuat advokasi agar setiap anak memiliki fondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045,” sambung Pungkas.
Forum ini juga menyoroti pentingnya edukasi tentang penerapan disiplin positif dalam pembentukan karakter anak. Pendekatan ini tidak hanya memastikan anak diasuh tanpa kekerasan, tetapi juga membantu menumbuhkan konsep diri yang positif. Selain itu, pentingnya peran ayah dalam pengasuhan juga menjadi perhatian, di mana paradigma bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab ibu semata harus diubah menjadi tanggung jawab bersama antara ayah, ibu, keluarga, dan masyarakat luas.
Lihat Juga :