KMHE 2025 UNEJ, ITERA dan USK Buktikan Daya Tahan di Trek Tegalboto
Senin, 27 Oktober 2025 - 10:50 WIB
loading...
Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025 di Universitas Jember (UNEJ) hari ini menunjukkan keragaman tantangan yang dihadapi tim dari luar Jawa. Foto/UNEJ.
A
A
A
JEMBER - Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2025 di Universitas Jember (UNEJ) hari ini menunjukkan keragaman tantangan yang dihadapi tim dari luar Jawa. Sirkuit Tegalboto sepanjang 9,7 kilometer yang ditempuh dalam beberapa putaran menjadi arena di mana nasib mobil yang dilombakan ditentukan oleh home base latihan mereka.
Kontras paling mencolok terjadi pada tim-tim asal Sumatera yang memiliki pandangan berbeda terhadap trek UNEJ.
Tim dari Universitas Syiah Kuala, Aceh, menghadapi perjuangan berat sejak dari tahap perakitan hingga balapan.
Baca juga: Tim UNEJ dan UB Adu Strategi di Sirkuit Menantang Kontes Mobil Hemat Energi 2025
Rifki Muamar, sebagai Divisi Manufaktur, mengungkapkan bahwa timnya hanya memiliki waktu perakitan intensif sekitar tiga bulan di tengah kendala pendanaan. Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka tidak sempat mengikuti sesi Practice Race di Jember, yang berarti adaptasi desain harus dilakukan langsung saat Race.
"Sebelumnya, kami sudah banyak melakukan persiapan sebelum datang ke sini. Tapi tetap ada adaptasi mendadak di bagian engine saat Race pertama tadi," jelas Rifki. Secara non-teknis, ia juga menyoroti kendala cuaca dan logistik. "Kemarin kan cuacanya hujan dan Paddock kami juga kebanjiran, jadi kami sempat panik sih,” ujarnya, yang menjadi pengalaman paling berkesan saat harus bekerja di Paddock.
Baca juga: UNEJ Tuan Rumah Kontes Mobil Hemat Energi 2025, 44 Kampus Siap Berlomba
Pandangan yang kontras mengenai karakter sirkuit justru datang dari Tim Kukang Evitera, ITERA (Institut Teknologi Sumatera), meskipun mereka hanya punya modal persiapan 1,5 hingga 2 bulan saja. Fadil Muhammad, Divisi Elektrikal, mengungkapkan bahwa sirkuit UNEJ terasa jauh lebih bersahabat dari yang mereka bayangkan.
"Kalau dari sirkuitnya sendiri, alhamdulillah jalanannya mulus, kata driver juga ya baguslah dibandingkan yang punya kami. Di sana, tempat asal kami berlatih tikungannya lebih tajam dibandingkan di sirkuit UNEJ," kata Fadil.
Ia juga memuji aspek non-teknis tuan rumah. "Yang pasti KMHE di Jember ini lebih dingin daripada KMHE sebelumnya di Ancol," tambahnya, menyoroti lingkungan Jember yang mendukung. Kontrasnya pengalaman ini membuktikan bahwa sirkuit UNEJ, meskipun non-permanen, menawarkan standar yang berbeda-beda tergantung medan latihan asal tim.
Perjuangan tim-tim ini menunjukkan bahwa KMHE di UNEJ menjadi ujian yang beraneka ragam, tantangan desain yang harus diubah di tengah tekanan waktu, sekaligus menjadi arena yang menguji ketangguhan logistik dan adaptasi cuaca.
Kontras paling mencolok terjadi pada tim-tim asal Sumatera yang memiliki pandangan berbeda terhadap trek UNEJ.
Tim dari Universitas Syiah Kuala, Aceh, menghadapi perjuangan berat sejak dari tahap perakitan hingga balapan.
Baca juga: Tim UNEJ dan UB Adu Strategi di Sirkuit Menantang Kontes Mobil Hemat Energi 2025
Rifki Muamar, sebagai Divisi Manufaktur, mengungkapkan bahwa timnya hanya memiliki waktu perakitan intensif sekitar tiga bulan di tengah kendala pendanaan. Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka tidak sempat mengikuti sesi Practice Race di Jember, yang berarti adaptasi desain harus dilakukan langsung saat Race.
"Sebelumnya, kami sudah banyak melakukan persiapan sebelum datang ke sini. Tapi tetap ada adaptasi mendadak di bagian engine saat Race pertama tadi," jelas Rifki. Secara non-teknis, ia juga menyoroti kendala cuaca dan logistik. "Kemarin kan cuacanya hujan dan Paddock kami juga kebanjiran, jadi kami sempat panik sih,” ujarnya, yang menjadi pengalaman paling berkesan saat harus bekerja di Paddock.
Baca juga: UNEJ Tuan Rumah Kontes Mobil Hemat Energi 2025, 44 Kampus Siap Berlomba
Pandangan yang kontras mengenai karakter sirkuit justru datang dari Tim Kukang Evitera, ITERA (Institut Teknologi Sumatera), meskipun mereka hanya punya modal persiapan 1,5 hingga 2 bulan saja. Fadil Muhammad, Divisi Elektrikal, mengungkapkan bahwa sirkuit UNEJ terasa jauh lebih bersahabat dari yang mereka bayangkan.
"Kalau dari sirkuitnya sendiri, alhamdulillah jalanannya mulus, kata driver juga ya baguslah dibandingkan yang punya kami. Di sana, tempat asal kami berlatih tikungannya lebih tajam dibandingkan di sirkuit UNEJ," kata Fadil.
Ia juga memuji aspek non-teknis tuan rumah. "Yang pasti KMHE di Jember ini lebih dingin daripada KMHE sebelumnya di Ancol," tambahnya, menyoroti lingkungan Jember yang mendukung. Kontrasnya pengalaman ini membuktikan bahwa sirkuit UNEJ, meskipun non-permanen, menawarkan standar yang berbeda-beda tergantung medan latihan asal tim.
Perjuangan tim-tim ini menunjukkan bahwa KMHE di UNEJ menjadi ujian yang beraneka ragam, tantangan desain yang harus diubah di tengah tekanan waktu, sekaligus menjadi arena yang menguji ketangguhan logistik dan adaptasi cuaca.
(nnz)
Lihat Juga :