Jejak Pendidikan Gus Dur, Cucu Pendiri NU yang Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
Senin, 10 November 2025 - 16:14 WIB
loading...
Presiden Prabowo Subianto, resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur atau K.H Abdurrahman Wahid, Senin (10/11/2025). Foto/Dok Kemenkominfo.
A
A
A
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur atau K.H Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI ke-4 sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU). Ia adalah salah satu dari 10 tokoh bangsa yang mendapatkan anugerah tersebut di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Penganugerahan ini diberikan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta pada 6 November 2025.
Baca juga: Prabowo Umumkan 10 Pahlawan Nasional, Soeharto, Gus Dur, hingga Marsinah
Anugerah Pahlawan Nasional ini diberikan kepada Gus Dur karena sepanjang hidupnya ia mengabdikan diri memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.
Gus Dur dikenal sebagai sosok yang berakar kuat dalam tradisi pesantren dan pendidikan Islam. Melansir laman NU Oline, ia merupakan putra sulung K.H. Wahid Hasyim dan cucu pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari. Dari garis ibunya, Gus Dur juga merupakan cucu K.H. Bisri Sansuri, pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
Latar belakang keluarganya yang sarat nilai keislaman dan keilmuan menjadikan Gus Dur tumbuh sebagai sosok cendekiawan yang berwawasan luas dan berpikiran terbuka.
Baca juga: Golkar Apresiasi Keputusan Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan Gus Dur
Sejak kecil, Gus Dur telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Pada usia lima tahun, ia sudah mampu membaca Al-Qur’an, berkat bimbingan langsung dari sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari.
Setelah lulus sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Gowongan, Yogyakarta, sambil tetap mengaji di Pondok Pesantren Krapyak.
Pendidikan pesantrennya berlanjut di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, selama dua tahun, kemudian pindah ke Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Baca juga: 10 Pahlawan Nasional Resmi Diumumkan, Ini Daftar Nama-namanya
Di masa muda, Gus Dur dikenal memiliki kegemaran membaca yang tinggi. Ia menamatkan berbagai karya sastra dan pemikiran dunia, mulai dari Ernest Hemingway, John Steinbeck, Will Durant, hingga Lenin dengan bukunya What Is To Be Done?
Pada usia 22 tahun, Gus Dur menunaikan ibadah haji sekaligus memperluas wawasan keilmuannya ke luar negeri. Ia menempuh studi di Al-Azhar University, Kairo, Mesir, pada Fakultas Syariah (Kulliyah al-Syari’ah) pada tahun 1964–1966.
Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Baghdad, Irak, di Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab hingga tahun 1970. Pernah pula ia mencoba melanjutkan studi ke Universitas Leiden, Belanda, namun terhalang masalah administrasi. Perjalanan intelektualnya sempat membawanya ke Jerman dan Prancis sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada 1971.
Sekembalinya ke Tanah Air, Gus Dur bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) — wadah bagi kaum intelektual Muslim progresif dan sosial demokrat.
Di lembaga ini, ia menjadi salah satu kontributor utama majalah Prisma dan aktif berkeliling pesantren di seluruh Jawa untuk berdialog dan berbagi gagasan.
Gus Dur juga berkiprah di dunia jurnalistik serta aktif mengisi berbagai seminar dan kuliah di berbagai daerah. Di Jombang, ia menjadi guru kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Tambakberas, serta menjabat sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam di Universitas Hasyim Asy’ari, mengajar mata kuliah pedagogi, syariat Islam, dan misiologi.
Pada tahun 1984, Gus Dur mulai aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan dipercaya menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU selama tiga periode berturut-turut. Karier politiknya mencapai puncak pada tahun 1999, ketika ia terpilih menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia, menggantikan B.J. Habibie, dan menjabat hingga Mei 2001.
Demikian riwayat pendidikan Gus Dur , mantan Presiden ke-4 RI, dan seorang tokoh bangsa yang mendapat gelar Pahlawan Nasional di tahun ini. Semoga bermanfaat.
Penganugerahan ini diberikan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditetapkan di Jakarta pada 6 November 2025.
Baca juga: Prabowo Umumkan 10 Pahlawan Nasional, Soeharto, Gus Dur, hingga Marsinah
Anugerah Pahlawan Nasional ini diberikan kepada Gus Dur karena sepanjang hidupnya ia mengabdikan diri memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.
Riwayat Pendidikan Gus Dur
Gus Dur dikenal sebagai sosok yang berakar kuat dalam tradisi pesantren dan pendidikan Islam. Melansir laman NU Oline, ia merupakan putra sulung K.H. Wahid Hasyim dan cucu pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari. Dari garis ibunya, Gus Dur juga merupakan cucu K.H. Bisri Sansuri, pendiri Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
Latar belakang keluarganya yang sarat nilai keislaman dan keilmuan menjadikan Gus Dur tumbuh sebagai sosok cendekiawan yang berwawasan luas dan berpikiran terbuka.
Baca juga: Golkar Apresiasi Keputusan Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan Gus Dur
Sejak kecil, Gus Dur telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Pada usia lima tahun, ia sudah mampu membaca Al-Qur’an, berkat bimbingan langsung dari sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari.
Setelah lulus sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Gowongan, Yogyakarta, sambil tetap mengaji di Pondok Pesantren Krapyak.
Pendidikan pesantrennya berlanjut di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, selama dua tahun, kemudian pindah ke Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Baca juga: 10 Pahlawan Nasional Resmi Diumumkan, Ini Daftar Nama-namanya
Di masa muda, Gus Dur dikenal memiliki kegemaran membaca yang tinggi. Ia menamatkan berbagai karya sastra dan pemikiran dunia, mulai dari Ernest Hemingway, John Steinbeck, Will Durant, hingga Lenin dengan bukunya What Is To Be Done?
Pada usia 22 tahun, Gus Dur menunaikan ibadah haji sekaligus memperluas wawasan keilmuannya ke luar negeri. Ia menempuh studi di Al-Azhar University, Kairo, Mesir, pada Fakultas Syariah (Kulliyah al-Syari’ah) pada tahun 1964–1966.
Setelah itu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Baghdad, Irak, di Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab hingga tahun 1970. Pernah pula ia mencoba melanjutkan studi ke Universitas Leiden, Belanda, namun terhalang masalah administrasi. Perjalanan intelektualnya sempat membawanya ke Jerman dan Prancis sebelum akhirnya kembali ke Indonesia pada 1971.
Sekembalinya ke Tanah Air, Gus Dur bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) — wadah bagi kaum intelektual Muslim progresif dan sosial demokrat.
Di lembaga ini, ia menjadi salah satu kontributor utama majalah Prisma dan aktif berkeliling pesantren di seluruh Jawa untuk berdialog dan berbagi gagasan.
Gus Dur juga berkiprah di dunia jurnalistik serta aktif mengisi berbagai seminar dan kuliah di berbagai daerah. Di Jombang, ia menjadi guru kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Tambakberas, serta menjabat sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam di Universitas Hasyim Asy’ari, mengajar mata kuliah pedagogi, syariat Islam, dan misiologi.
Pada tahun 1984, Gus Dur mulai aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan dipercaya menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU selama tiga periode berturut-turut. Karier politiknya mencapai puncak pada tahun 1999, ketika ia terpilih menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia, menggantikan B.J. Habibie, dan menjabat hingga Mei 2001.
Demikian riwayat pendidikan Gus Dur , mantan Presiden ke-4 RI, dan seorang tokoh bangsa yang mendapat gelar Pahlawan Nasional di tahun ini. Semoga bermanfaat.
(nnz)
Lihat Juga :