Kisah Dinianti, Lolos KIP Kuliah dan Kini Kuliah di Kedokteran Hewan Unhas
Minggu, 16 November 2025 - 07:00 WIB
loading...
Dinianti Marthen, mahasiswi FK Unhas, kembali membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Foto/Diktisaintek.
A
A
A
JAKARTA - Dinianti Marthen, mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin (Unhas), kembali membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Gadis yang akrab disapa Dini ini terpilih sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah 2025.
Dini tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di Jalan Kelapa Tiga, Pettarani, Makassar. Lantai rumahnya masih berupa semen dingin, ruangannya sempit, dan setiap hujan deras tiba, air kerap meluap hingga menutupi bagian depan rumah. Namun dari tempat yang penuh tantangan itulah tumbuh anak yang tidak pernah kehilangan harapan, meski keadaan sering kali menghimpit.
Baca juga: Revan, Penerima KIP Kuliah di Unesa yang Ingin Membahagiakan Kakek dan Neneknya
Sejak kecil, Dini hidup dalam lingkungan penuh keterbatasan. Namun semangatnya tidak pernah padam. Ia terbiasa memindahkan barang-barang ke tempat tinggi saat banjir datang, membersihkan rumah setelah air surut, lalu kembali belajar seperti tidak terjadi apa pun.
Di tengah kerasnya kehidupan, Dini menemukan pelarian yang menjadi sumber kekuatannya: menyanyi. Suaranya kerap menjadi hiburan bagi keluarga dan tetangga, sekaligus menjadi cara untuk membuat ibunya tersenyum setelah bekerja seharian.
Baca juga: 5 Penyebab Dana KIP Kuliah 2025 Belum Cair ke Rekening Mahasiswa, Cek Statusmu Sekarang
Dari panggung sederhana hingga lomba sekolah, kemampuan bernyanyinya mengantarkan namanya dikenal luas meski ia tidak memiliki perlengkapan musik mahal.
Bakat menyanyi itu tumbuh bersamaan dengan tekadnya menjadi dokter. Meski hidup serba terbatas, rasa ingin tahunya di dunia kesehatan tidak pernah luntur.
“Awalnya ibu tidak merestui karena ragu bisa membiayai kuliah kedokteran. Tapi saya terus meyakinkan ibu kalau saya bisa kuliah dengan beasiswa,” ucap Dini dengan suara bergetar.
Menjelang kelulusan SMA, Dini sadar bahwa melanjutkan kuliah adalah mimpi yang sulit diwujudkan secara finansial. Ibunya bekerja serabutan, dan mereka sudah bertahun-tahun menempati rumah kontrakan yang sama. Selain sering terdampak banjir, biaya sekolah pun menjadi tantangan tersendiri.
Namun Dini tidak patah semangat. Ia belajar dengan tekun, meraih banyak prestasi, dan mencoba setiap peluang beasiswa yang tersedia. Hingga akhirnya, saat pengumuman KIP Kuliah 2025 dirilis, ia membuka ponselnya dengan tangan gemetar.
Kalimat “Selamat, Anda Lolos” langsung membuatnya dan sang ibu menangis bahagia di rumah kontrakan yang masih lembap setelah hujan semalaman. Untuk pertama kalinya, masa depan terasa lebih dekat.
Melalui program KIP Kuliah, Dini resmi menjadi mahasiswi Kedokteran Hewan Unhas—sebuah mimpi yang dulu hanya berani ia bisikkan pada dirinya sendiri. Meski hidup sederhana, Dini memiliki mimpi besar, dan ia membuktikan bahwa impian tidak harus lahir dari rumah mewah, melainkan dari tekad yang tidak pernah menyerah.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, turut memberikan perhatian pada kisah inspiratif Dini. Dalam kunjungannya ke Makassar, Stella menyempatkan diri mengunjungi langsung rumah Dini dan keluarganya.
Ia menegaskan bahwa KIP Kuliah merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
“Kami akan mencari solusi berkelanjutan karena kondisi sosial ekonomi mahasiswa berpengaruh langsung terhadap kualitas belajar mereka,” ujar Wamen Stella.
Ia juga menekankan bahwa dukungan seperti ini adalah investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Stella mendorong mahasiswa penerima beasiswa agar berani mengeksplorasi potensi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik.
“Selama kuliah banyak sekali peluang yang bisa dimanfaatkan. Mahasiswa harus jeli melihat kesempatan dan berani mengambil peran,” pesannya.
Sebagai bentuk dukungan, Wamen Stella menyerahkan satu unit laptop kepada Dini untuk menunjang aktivitas akademiknya, agar ia semakin semangat meraih prestasi.
Gadis yang akrab disapa Dini ini terpilih sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah 2025.
Dini tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di Jalan Kelapa Tiga, Pettarani, Makassar. Lantai rumahnya masih berupa semen dingin, ruangannya sempit, dan setiap hujan deras tiba, air kerap meluap hingga menutupi bagian depan rumah. Namun dari tempat yang penuh tantangan itulah tumbuh anak yang tidak pernah kehilangan harapan, meski keadaan sering kali menghimpit.
Baca juga: Revan, Penerima KIP Kuliah di Unesa yang Ingin Membahagiakan Kakek dan Neneknya
Sejak kecil, Dini hidup dalam lingkungan penuh keterbatasan. Namun semangatnya tidak pernah padam. Ia terbiasa memindahkan barang-barang ke tempat tinggi saat banjir datang, membersihkan rumah setelah air surut, lalu kembali belajar seperti tidak terjadi apa pun.
Di tengah kerasnya kehidupan, Dini menemukan pelarian yang menjadi sumber kekuatannya: menyanyi. Suaranya kerap menjadi hiburan bagi keluarga dan tetangga, sekaligus menjadi cara untuk membuat ibunya tersenyum setelah bekerja seharian.
Baca juga: 5 Penyebab Dana KIP Kuliah 2025 Belum Cair ke Rekening Mahasiswa, Cek Statusmu Sekarang
Dari panggung sederhana hingga lomba sekolah, kemampuan bernyanyinya mengantarkan namanya dikenal luas meski ia tidak memiliki perlengkapan musik mahal.
Bakat menyanyi itu tumbuh bersamaan dengan tekadnya menjadi dokter. Meski hidup serba terbatas, rasa ingin tahunya di dunia kesehatan tidak pernah luntur.
“Awalnya ibu tidak merestui karena ragu bisa membiayai kuliah kedokteran. Tapi saya terus meyakinkan ibu kalau saya bisa kuliah dengan beasiswa,” ucap Dini dengan suara bergetar.
Perjuangan Masuk Fakultas Kedokteran Hewan Unhas
Menjelang kelulusan SMA, Dini sadar bahwa melanjutkan kuliah adalah mimpi yang sulit diwujudkan secara finansial. Ibunya bekerja serabutan, dan mereka sudah bertahun-tahun menempati rumah kontrakan yang sama. Selain sering terdampak banjir, biaya sekolah pun menjadi tantangan tersendiri.
Namun Dini tidak patah semangat. Ia belajar dengan tekun, meraih banyak prestasi, dan mencoba setiap peluang beasiswa yang tersedia. Hingga akhirnya, saat pengumuman KIP Kuliah 2025 dirilis, ia membuka ponselnya dengan tangan gemetar.
Kalimat “Selamat, Anda Lolos” langsung membuatnya dan sang ibu menangis bahagia di rumah kontrakan yang masih lembap setelah hujan semalaman. Untuk pertama kalinya, masa depan terasa lebih dekat.
Melalui program KIP Kuliah, Dini resmi menjadi mahasiswi Kedokteran Hewan Unhas—sebuah mimpi yang dulu hanya berani ia bisikkan pada dirinya sendiri. Meski hidup sederhana, Dini memiliki mimpi besar, dan ia membuktikan bahwa impian tidak harus lahir dari rumah mewah, melainkan dari tekad yang tidak pernah menyerah.
Dapat Apresiasi dari Kementerian
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, turut memberikan perhatian pada kisah inspiratif Dini. Dalam kunjungannya ke Makassar, Stella menyempatkan diri mengunjungi langsung rumah Dini dan keluarganya.
Ia menegaskan bahwa KIP Kuliah merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
“Kami akan mencari solusi berkelanjutan karena kondisi sosial ekonomi mahasiswa berpengaruh langsung terhadap kualitas belajar mereka,” ujar Wamen Stella.
Ia juga menekankan bahwa dukungan seperti ini adalah investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Stella mendorong mahasiswa penerima beasiswa agar berani mengeksplorasi potensi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik.
“Selama kuliah banyak sekali peluang yang bisa dimanfaatkan. Mahasiswa harus jeli melihat kesempatan dan berani mengambil peran,” pesannya.
Sebagai bentuk dukungan, Wamen Stella menyerahkan satu unit laptop kepada Dini untuk menunjang aktivitas akademiknya, agar ia semakin semangat meraih prestasi.
(nnz)
Lihat Juga :