Gunakan Data Tunggal, Kemensos Pastikan Sekolah Rakyat Tepat Sasaran
Jum'at, 21 November 2025 - 12:48 WIB
loading...
A
A
A
“Untuk pertama kalinya, kita punya data tunggal yang membuat kita bisa menjemput anak-anak paling rentan secara tepat dan tidak salah sasaran,” kata dia.
Sementara itu, lingkungan belajar di Sekolah Rakyat dirancang sebagai boarding school sehingga anak-anak tinggal di asrama dan menerima pendampingan penuh setiap hari.
Meski ditujukan bagi keluarga miskin, pemerintah memastikan kualitas layanan tidak dibedakan dari sekolah unggulan pada umumnya. Mulai dari ruang kelas modern, laboratorium, perpustakaan, dapur, lapangan olahraga, hingga ruang ibadah.
Setiap siswa juga menerima laptop dan seragam lengkap untuk mendukung pembelajaran digital. Selain itu, anak-anak mendapatkan makan 3 kali sehari ditambah 2 kali snack, sehingga kondisi gizi mereka meningkat pesat.
Dari pengamatan, Agus Jabo mengatakan, transformasi perilaku juga mulai terlihat pada anak-anak yang sebelumnya hidup di lingkungan tidak kondusif, seperti bekerja sebagai tukang parkir, buruh harian, bahkan pernah berhenti sekolah selama bertahun-tahun. Kini mereka belajar hidup teratur, disiplin, dan berinteraksi positif di lingkungan asrama.
Karena itu, ia menegaskan peran penting para pendidik dalam proses ini. “Guru-guru di Sekolah Rakyat harus menjadi orang tua kedua—bukan sekadar mengajar, tetapi memulihkan, membimbing, dan menanamkan nilai hidup baru,” tegasnya.
Kurikulum Sekolah Rakyat juga dirancang fleksibel melalui konsep multientry–multiexit, sehingga anak-anak dengan kemampuan akademik dan kondisi sosial yang beragam dapat mengikuti pendidikan sesuai ritme masing-masing.
Di samping itu, sekolah juga menanamkan pendidikan karakter, kedisiplinan, serta keterampilan vokasi yang disesuaikan dengan potensi daerah, seperti perikanan di wilayah pesisir atau pertanian di daerah agraris.
Pendekatan ini memastikan siswa tidak hanya belajar secara akademis, tetapi juga mendapatkan keterampilan praktis yang dapat menjadi modal hidup setelah lulus. Menurut Agus Jabo, inilah yang membedakan Sekolah Rakyat dari sekolah umum.
“Anak-anak harus pintar, berkarakter, dan terampil, tiga syarat agar mereka benar-benar siap keluar dari lingkaran kemiskinan,” imbuh dia.
Intervensi pemerintah tidak berhenti pada siswa. Kemensos juga memberdayakan orang tua dan memperbaiki rumah tidak layak huni.
Sementara itu, lingkungan belajar di Sekolah Rakyat dirancang sebagai boarding school sehingga anak-anak tinggal di asrama dan menerima pendampingan penuh setiap hari.
Meski ditujukan bagi keluarga miskin, pemerintah memastikan kualitas layanan tidak dibedakan dari sekolah unggulan pada umumnya. Mulai dari ruang kelas modern, laboratorium, perpustakaan, dapur, lapangan olahraga, hingga ruang ibadah.
Setiap siswa juga menerima laptop dan seragam lengkap untuk mendukung pembelajaran digital. Selain itu, anak-anak mendapatkan makan 3 kali sehari ditambah 2 kali snack, sehingga kondisi gizi mereka meningkat pesat.
Dari pengamatan, Agus Jabo mengatakan, transformasi perilaku juga mulai terlihat pada anak-anak yang sebelumnya hidup di lingkungan tidak kondusif, seperti bekerja sebagai tukang parkir, buruh harian, bahkan pernah berhenti sekolah selama bertahun-tahun. Kini mereka belajar hidup teratur, disiplin, dan berinteraksi positif di lingkungan asrama.
Karena itu, ia menegaskan peran penting para pendidik dalam proses ini. “Guru-guru di Sekolah Rakyat harus menjadi orang tua kedua—bukan sekadar mengajar, tetapi memulihkan, membimbing, dan menanamkan nilai hidup baru,” tegasnya.
Kurikulum Sekolah Rakyat juga dirancang fleksibel melalui konsep multientry–multiexit, sehingga anak-anak dengan kemampuan akademik dan kondisi sosial yang beragam dapat mengikuti pendidikan sesuai ritme masing-masing.
Di samping itu, sekolah juga menanamkan pendidikan karakter, kedisiplinan, serta keterampilan vokasi yang disesuaikan dengan potensi daerah, seperti perikanan di wilayah pesisir atau pertanian di daerah agraris.
Pendekatan ini memastikan siswa tidak hanya belajar secara akademis, tetapi juga mendapatkan keterampilan praktis yang dapat menjadi modal hidup setelah lulus. Menurut Agus Jabo, inilah yang membedakan Sekolah Rakyat dari sekolah umum.
“Anak-anak harus pintar, berkarakter, dan terampil, tiga syarat agar mereka benar-benar siap keluar dari lingkaran kemiskinan,” imbuh dia.
Intervensi pemerintah tidak berhenti pada siswa. Kemensos juga memberdayakan orang tua dan memperbaiki rumah tidak layak huni.
Lihat Juga :