Persepsi Efikasi dan Norma Kelompok Menentukan Partisipasi Cegah Karhutla
Minggu, 23 November 2025 - 16:24 WIB
loading...
A
A
A
Temuan itu diperkuat oleh hasil eksperimen komunikasi lingkungan yang membandingkan efektivitas pesan weak fear appeal dan strong fear appeal pada petani DMPA. Hasilnya, pesan berbasis ancaman memang berpengaruh signifikan terhadap kemauan berpartisipasi, tetapi tidak secara langsung membentuk sikap. Sebaliknya, norma kelompok terbukti jauh lebih menentukan tindakan pencegahan karhutla.
Penelitian ini kemudian menghasilkan model komunikasi lingkungan baru melalui integrasi teori Extended Parallel Process Model (EPPM), Theory of Planned Behavior (TPB), The Reason Action Theory (TRA), dan Social Interaction Theory (SIT). Model tersebut menunjukkan bahwa dalam konteks sosial-ekologis desa berlahan gambut, efikasi dan norma kelompok bekerja lebih kuat daripada persepsi ancaman, sehingga kampanye berbasis ketakutan perlu diarahkan kembali pada peningkatan efektivitas pencegahan, relasi sosial, dan relevansi pesan.
Trisia juga mengembangkan Territorial Map berbasis discriminant analysis yang mampu memetakan kelompok peran serta petani dengan akurasi hingga 95,2%. Serta analisis biplot yang memperlihatkan bahwa kelompok dengan weak fear appeal konsisten menunjukkan nilai sikap dan peran serta yang tinggi.
Penelitian ini, kata Trisia, mengisi kekosongan riset terkait integrasi komunikasi risiko, perilaku lingkungan, dan konteks sosial dalam pencegahan karhutla. Dua artikelnya telah terbit di jurnal internasional yakni Elsevier Q1 Trees, Forests and People dan jurnal Scopus Q3 International Journal of Environmental Impact menandai kontribusi akademik di bidang komunikasi lingkungan dan pengendalian karhutla.
“Model ini menegaskan bahwa strategi komunikasi tidak bisa seragam. Ia harus disesuaikan dengan kondisi sosial-ekologis, karakteristik petani, dan tata kelola lokal agar mampu mendorong perubahan perilaku secara presisi,” ujarnya.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi komunikasi yang lebih efektif untuk mendukung pengurangan emisi sektor kehutanan dan pencapaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
Penelitian ini kemudian menghasilkan model komunikasi lingkungan baru melalui integrasi teori Extended Parallel Process Model (EPPM), Theory of Planned Behavior (TPB), The Reason Action Theory (TRA), dan Social Interaction Theory (SIT). Model tersebut menunjukkan bahwa dalam konteks sosial-ekologis desa berlahan gambut, efikasi dan norma kelompok bekerja lebih kuat daripada persepsi ancaman, sehingga kampanye berbasis ketakutan perlu diarahkan kembali pada peningkatan efektivitas pencegahan, relasi sosial, dan relevansi pesan.
Trisia juga mengembangkan Territorial Map berbasis discriminant analysis yang mampu memetakan kelompok peran serta petani dengan akurasi hingga 95,2%. Serta analisis biplot yang memperlihatkan bahwa kelompok dengan weak fear appeal konsisten menunjukkan nilai sikap dan peran serta yang tinggi.
Penelitian ini, kata Trisia, mengisi kekosongan riset terkait integrasi komunikasi risiko, perilaku lingkungan, dan konteks sosial dalam pencegahan karhutla. Dua artikelnya telah terbit di jurnal internasional yakni Elsevier Q1 Trees, Forests and People dan jurnal Scopus Q3 International Journal of Environmental Impact menandai kontribusi akademik di bidang komunikasi lingkungan dan pengendalian karhutla.
“Model ini menegaskan bahwa strategi komunikasi tidak bisa seragam. Ia harus disesuaikan dengan kondisi sosial-ekologis, karakteristik petani, dan tata kelola lokal agar mampu mendorong perubahan perilaku secara presisi,” ujarnya.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi komunikasi yang lebih efektif untuk mendukung pengurangan emisi sektor kehutanan dan pencapaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.
Lihat Juga :