Wenny Yosselina, Ilustrator ITB yang Menjembatani Dunia Anak Disabilitas Lewat Bahasa Visual
Kamis, 18 Desember 2025 - 20:10 WIB
loading...
Wenny Yosselina, ilustrator dan peneliti visual untuk anak berkebutuhan khusus. Foto/Tanoto Foundation.
A
A
A
JAKARTA - Anak-anak berkebutuhan khusus sering kali memiliki cara sendiri dalam memahami dunia di sekelilingnya. Pesan yang bagi orang lain mudah dicerna, bisa jadi membutuhkan pendekatan berbeda bagi mereka. Di sinilah bahasa visual berperan sebagai jembatan sunyi—membantu anak-anak disabilitas berkomunikasi, belajar, dan mengekspresikan diri.
Sejumlah riset menunjukkan, pendekatan visual seperti ilustrasi dan buku gambar terbukti efektif mendukung proses belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui visual, mereka dapat membangun pemahaman, menjalani terapi, hingga berinteraksi dengan lingkungannya secara lebih nyaman.
Baca juga: Cerita Uti, Angkatan Perdana Beasiswa LPDP dan Ilustrator Medis Pertama di Indonesia
Namun, kebutuhan akan media visual yang tepat masih jauh dari terpenuhi. Banyak buku untuk anak disabilitas dinilai belum benar-benar berpihak pada kebutuhan mereka.
“Sayangnya kebanyakan buku-buku untuk anak berkebutuhan khusus yang beredar sekarang, yang dibuat oleh industri atau dari pemerintah, hanya sekadarnya saja. Padahal semestinya bisa didesain dan dibuat bersama anak-anak disabilitas,” kata Wenny Yosselina, ilustrator sekaligus peneliti visual, melalui siaran pers, Kamis (18/12/2025).
Wenny aktif di Kelas Buku Anak Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Art Therapy Centre (ATC) Widyatama Bandung. Ia merancang buku visual untuk anak dengan autisme, low vision, hingga disabilitas tuli, serta terlibat dalam kolaborasi internasional Art for Goods di Singapura.
“Berdasarkan riset, mereka justru lebih mudah mengerti atau mencerna informasi melalui visual. Buku cerita anak-anak atau narasi visual pun digunakan untuk menjembatani komunikasi mereka,” ujarnya.
Menurut Wenny, anak-anak berkebutuhan khusus menyimpan banyak aset visual di pikirannya. Bahasa visual inilah yang membantu mereka memaknai bahasa verbal sehari-hari.
“Anak-anak ini sering kesulitan mengungkapkan sesuatu. Makanya kita pakai gambar, hindari terlalu banyak verbal atau tulisan, karena kemampuan visual mereka lebih kuat,” tuturnya.
Perjalanan Wenny mendampingi anak disabilitas dimulai sejak tugas akhir S1 di FSR ITB pada 2016. Saat magang di kursus menggambar, ia berinteraksi dengan anak-anak berusia 7–8 tahun yang berada dalam spektrum neurodivergen.
Di awal, mereka kerap tampak tak merespons atau sulit diajak berkomunikasi. Namun semuanya berubah ketika pensil dan kertas diberikan.
“Tapi waktu diminta menggambar, dia berusaha untuk menyelesaikan gambar itu karena ingin buat mamanya bangga. Mereka juga menunjukkan trust atau percaya sama kita waktu kita bikin karya bareng-bareng. Nah, di situlah karya visual itu berbicara lebih kuat dibandingkan verbal,” tandas Wenny.
Pengalaman membimbing anak autisme tak selalu mudah. Fokus yang mudah teralihkan dan tantrum menjadi tantangan tersendiri. Namun Wenny belajar bahwa proses terbaik hadir saat anak merasa bahagia dan tidak dipaksa.
“Jadi kita kondisikan, yang penting mereka bisa datang, mengerjakan sesuatu setiap di kelas. Usahakan pekerjaan itu selesai di hari itu. Itu sudah pencapaian buat mereka,” ujarnya.
Di ATC Widyatama, Wenny melihat anak neurodivergen berkembang sesuai kemampuannya. Bahkan, beberapa di antaranya mampu menghasilkan karya desain, lulus setara D3, dan hidup mandiri dengan menjual produk buatan sendiri.
Ketertarikan Wenny pada bahasa visual mendorongnya meneliti lebih dalam. Ia menemukan bahwa ilustrasi untuk anak disabilitas harus sederhana, fokus pada satu objek, berwarna lembut, dan minim distraksi.
“Kalau ramai akan mendistraksi karena fokus mereka cenderung gampang teralihkan,” kata Wenny.
Namun, pendekatan visual tidak bisa diseragamkan. Anak low vision membutuhkan kontras tinggi dan garis tebal, sementara media digital menawarkan fleksibilitas namun juga menyimpan tantangan.
“Memang enggak bisa dipukul rata, tapi ada petunjuk yang bisa jadi panduan dan bisa dikembangkan. Yang jelas, buku untuk anak-anak berkebutuhan khusus dikemas se-fun mungkin dan banyak visualnya, supaya anak-anak enggak merasa didikte, tapi bisa sama-sama belajar,” tandasnya.
Wenny menegaskan, kebutuhan media belajar anak disabilitas di Indonesia masih sangat besar dan langka.
“Nyatanya di Indonesia kebutuhan untuk media belajar bukan hanya untuk anak neurodivergen, tetapi juga disabilitas fisik dan itu masih sangat langka,” katanya.
Kiprah Wenny membawanya ke proyek internasional Art for Goods (2022–2023) yang melibatkan 29 seniman dari berbagai negara. Risetnya tentang visual sebagai sarana terapi dan literasi mendapat sorotan khusus.
“Singapore International Foundation menyoroti bagian riset saya yang berbeda dari partisipan lain dari seluruh dunia,” ujarnya.
Dari hibah tersebut lahirlah proyek Adventures in the Symphony of Colours, kolaborasi Indonesia–Singapura yang memadukan ilustrasi dan musik inklusif. Karya audio-visual bertajuk Where is The Yellow Paint menampilkan ilustrasi khas Indonesia dengan tokoh harimau Sumatra kuning.
“Selain membuat buku, selama empat bulan peserta Adventures in the Symphony of Colours juga membawa misi pertukaran budaya melalui aktivitas bersama seperti art therapy dan membuat karya bersama,” jelas Wenny.
“Kami juga berkeliling dari Indonesia, Malaysia, dan berakhir di Singapura. Ini menunjukkan bahwa kita sanggup berkolaborasi di tengah berbagai barrier (hambatan),” paparnya.
Didukung beasiswa Tanoto Foundation sejak 2014, Wenny terus mengembangkan riset hingga jenjang S2 dan bersiap melanjutkan S3. Ia juga mengembangkan Tangible Tales, dongeng berbasis 3D printing untuk membantu sosialisasi anak autisme.
“Sebagai peneliti, aku ingin punya warna penelitian yang berbeda dalam penelitian desain, termasuk penelitian tentang ilustrasi untuk anak berkebutuhan khusus ini,” ujar Wenny.
Namun, lebih dari prestasi akademik, dedikasi Wenny lahir dari panggilan hati.
“Aku merasa bisa berbagi hidup bersama mereka (anak-anak disabilitas) secara jangka panjang. Mereka kayak cermin, mengembalikan apa yang kita lakukan untuk mereka dengan tulus. Aku juga melihat seni untuk anak disabilitas ini bukan cuma jualan rasa kasihan, tetapi bisa memotivasi semua anak untuk sebebas mungkin berekspresi,” tandas Wenny.
Sejumlah riset menunjukkan, pendekatan visual seperti ilustrasi dan buku gambar terbukti efektif mendukung proses belajar anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui visual, mereka dapat membangun pemahaman, menjalani terapi, hingga berinteraksi dengan lingkungannya secara lebih nyaman.
Baca juga: Cerita Uti, Angkatan Perdana Beasiswa LPDP dan Ilustrator Medis Pertama di Indonesia
Namun, kebutuhan akan media visual yang tepat masih jauh dari terpenuhi. Banyak buku untuk anak disabilitas dinilai belum benar-benar berpihak pada kebutuhan mereka.
“Sayangnya kebanyakan buku-buku untuk anak berkebutuhan khusus yang beredar sekarang, yang dibuat oleh industri atau dari pemerintah, hanya sekadarnya saja. Padahal semestinya bisa didesain dan dibuat bersama anak-anak disabilitas,” kata Wenny Yosselina, ilustrator sekaligus peneliti visual, melalui siaran pers, Kamis (18/12/2025).
Wenny aktif di Kelas Buku Anak Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Art Therapy Centre (ATC) Widyatama Bandung. Ia merancang buku visual untuk anak dengan autisme, low vision, hingga disabilitas tuli, serta terlibat dalam kolaborasi internasional Art for Goods di Singapura.
“Berdasarkan riset, mereka justru lebih mudah mengerti atau mencerna informasi melalui visual. Buku cerita anak-anak atau narasi visual pun digunakan untuk menjembatani komunikasi mereka,” ujarnya.
Menurut Wenny, anak-anak berkebutuhan khusus menyimpan banyak aset visual di pikirannya. Bahasa visual inilah yang membantu mereka memaknai bahasa verbal sehari-hari.
“Anak-anak ini sering kesulitan mengungkapkan sesuatu. Makanya kita pakai gambar, hindari terlalu banyak verbal atau tulisan, karena kemampuan visual mereka lebih kuat,” tuturnya.
Ketika Gambar Lebih Kuat dari Kata
Perjalanan Wenny mendampingi anak disabilitas dimulai sejak tugas akhir S1 di FSR ITB pada 2016. Saat magang di kursus menggambar, ia berinteraksi dengan anak-anak berusia 7–8 tahun yang berada dalam spektrum neurodivergen.
Di awal, mereka kerap tampak tak merespons atau sulit diajak berkomunikasi. Namun semuanya berubah ketika pensil dan kertas diberikan.
“Tapi waktu diminta menggambar, dia berusaha untuk menyelesaikan gambar itu karena ingin buat mamanya bangga. Mereka juga menunjukkan trust atau percaya sama kita waktu kita bikin karya bareng-bareng. Nah, di situlah karya visual itu berbicara lebih kuat dibandingkan verbal,” tandas Wenny.
Pengalaman membimbing anak autisme tak selalu mudah. Fokus yang mudah teralihkan dan tantrum menjadi tantangan tersendiri. Namun Wenny belajar bahwa proses terbaik hadir saat anak merasa bahagia dan tidak dipaksa.
“Jadi kita kondisikan, yang penting mereka bisa datang, mengerjakan sesuatu setiap di kelas. Usahakan pekerjaan itu selesai di hari itu. Itu sudah pencapaian buat mereka,” ujarnya.
Di ATC Widyatama, Wenny melihat anak neurodivergen berkembang sesuai kemampuannya. Bahkan, beberapa di antaranya mampu menghasilkan karya desain, lulus setara D3, dan hidup mandiri dengan menjual produk buatan sendiri.
Merancang Buku Bersama Anak Disabilitas
Ketertarikan Wenny pada bahasa visual mendorongnya meneliti lebih dalam. Ia menemukan bahwa ilustrasi untuk anak disabilitas harus sederhana, fokus pada satu objek, berwarna lembut, dan minim distraksi.
“Kalau ramai akan mendistraksi karena fokus mereka cenderung gampang teralihkan,” kata Wenny.
Namun, pendekatan visual tidak bisa diseragamkan. Anak low vision membutuhkan kontras tinggi dan garis tebal, sementara media digital menawarkan fleksibilitas namun juga menyimpan tantangan.
“Memang enggak bisa dipukul rata, tapi ada petunjuk yang bisa jadi panduan dan bisa dikembangkan. Yang jelas, buku untuk anak-anak berkebutuhan khusus dikemas se-fun mungkin dan banyak visualnya, supaya anak-anak enggak merasa didikte, tapi bisa sama-sama belajar,” tandasnya.
Wenny menegaskan, kebutuhan media belajar anak disabilitas di Indonesia masih sangat besar dan langka.
“Nyatanya di Indonesia kebutuhan untuk media belajar bukan hanya untuk anak neurodivergen, tetapi juga disabilitas fisik dan itu masih sangat langka,” katanya.
Kolaborasi Seni Tanpa Batas Negara
Kiprah Wenny membawanya ke proyek internasional Art for Goods (2022–2023) yang melibatkan 29 seniman dari berbagai negara. Risetnya tentang visual sebagai sarana terapi dan literasi mendapat sorotan khusus.
“Singapore International Foundation menyoroti bagian riset saya yang berbeda dari partisipan lain dari seluruh dunia,” ujarnya.
Dari hibah tersebut lahirlah proyek Adventures in the Symphony of Colours, kolaborasi Indonesia–Singapura yang memadukan ilustrasi dan musik inklusif. Karya audio-visual bertajuk Where is The Yellow Paint menampilkan ilustrasi khas Indonesia dengan tokoh harimau Sumatra kuning.
“Selain membuat buku, selama empat bulan peserta Adventures in the Symphony of Colours juga membawa misi pertukaran budaya melalui aktivitas bersama seperti art therapy dan membuat karya bersama,” jelas Wenny.
“Kami juga berkeliling dari Indonesia, Malaysia, dan berakhir di Singapura. Ini menunjukkan bahwa kita sanggup berkolaborasi di tengah berbagai barrier (hambatan),” paparnya.
Panggilan Hati yang Tak Pernah Usai
Didukung beasiswa Tanoto Foundation sejak 2014, Wenny terus mengembangkan riset hingga jenjang S2 dan bersiap melanjutkan S3. Ia juga mengembangkan Tangible Tales, dongeng berbasis 3D printing untuk membantu sosialisasi anak autisme.
“Sebagai peneliti, aku ingin punya warna penelitian yang berbeda dalam penelitian desain, termasuk penelitian tentang ilustrasi untuk anak berkebutuhan khusus ini,” ujar Wenny.
Namun, lebih dari prestasi akademik, dedikasi Wenny lahir dari panggilan hati.
“Aku merasa bisa berbagi hidup bersama mereka (anak-anak disabilitas) secara jangka panjang. Mereka kayak cermin, mengembalikan apa yang kita lakukan untuk mereka dengan tulus. Aku juga melihat seni untuk anak disabilitas ini bukan cuma jualan rasa kasihan, tetapi bisa memotivasi semua anak untuk sebebas mungkin berekspresi,” tandas Wenny.
(nnz)
Lihat Juga :