Dies Natalis ke-70 Universitas Sanata Dharma, Rektor: Maju Berjalan Menuju Terang
Sabtu, 20 Desember 2025 - 06:27 WIB
loading...
Universitas Sanata Dharma menggelar acara puncak Dies Natalis ke-70 di Auditorium Driyarkara, Kampus II USD, Yogyakarta, Jumat (19/12/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
YOGYAKARTA - Universitas Sanata Dharma menggelar acara puncak Dies Natalis ke-70 di Auditorium Driyarkara, Kampus II USD, Yogyakarta, Jumat (19/12/2025). Acara ini bertajuk “70th Sanyata Ing Dharma: Menggali Makna dan Membangun Asa” yang berarti ungkapan mendalam tentang kerangka dan dinamika perjalanan spiritual, historis, personal, dan kolektif yang menjadi roh Sanata Dharma selama ini.
Sanata Dharma hadir dari proses penglihatan seksama, kontemplasi yang mendalam, dan diskresi yang jernih mengenai situasi nyata masyarakat dan bangsa Indonesia. Diadakannya acara ini juga menjadi momen refleksi perjalanan berdirinya Sanata Dharma. Baca juga: Universitas Sanata Dharma Kukuhkan 3 Guru Besar Baru
Puncak acara tahun ini dihadiri beberapa tokoh, di antaranya Ketua Yayasan USD Romo C Kuntoro Adi, Rektor USD Romo Albertus Bagus Laksana, dan Kepala LLDIKTI Wilayah V Prof Setyabudi Indartono. Kemudian para pejabat sipil, militer, pemimpin perguruan tinggi kampus sahabat, sivitas akademika USD, para romo, suster, bruder, para mahasiswa, purnakarya, dan alumni USD.
Rangkaian acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Tanah Airku, dan penampilan tarian Nias yang kemudian disusul dengan sambutan rektor USD. Romo Albertus menyampaikan refleksi tentang tema Sanyata Ing Dharma, makna diskresi kampus seribu jendela, dan harapannya untuk USD di masa depan.
Ia juga mengajak kita untuk berjalan menuju terang untuk masa depan USD yang lebih baik. “Saya mengajak kita semua untuk meneguhkan hati, setia melangkah membawa terang ke tengah dunia yang masih dikuasai kegelapan dan menerangi segala kebodohan. Marilah maju berjalan menuju terang,” katanya.
Prof Setyabudi Indartono sebagai perwakilan Kemendikti serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Yogyakarta dalam pidatonya mengatakan, perayaan ini sebagai momentum reflektif untuk menengok kembali perjalanan USD. Menurutnya, tujuh dekade bukanlah sekadar akumulasi waktu secara kronologis.
”Melainkan sebuah perjalanan ontologis yang berarti proses panjang dalam mencari, merawat, menghidupi kebenaran. Acara ini bukan hanya perayaan pertambahan usia, tetapi juga merayakan konsistensi sebuah institusi dalam menjaga api intelektualitasnya,” tuturnya.
Untuk merefleksikan sejarah dan perjalanan USD, dalam rangkaian acara juga terdapat pembacaan pidato refleksi budaya USD yang dibawakan oleh perwakilan dosen USD. Selain itu, di penghujung acara terdapat apresiasi dengan berbagai nominasi, di antaranya yaitu dedikasi sivitas akademika yang mengabdi selama 25 tahun, mahasiswa berprestasi, penghargaan alumni, apresiasi pemidato refleksi budaya, penghargaan untuk festival menulis, dan kostum terbaik. Baca juga: SBY Raih Penghargaan Tertinggi dari ITS di Dies Natalis ke-65
Acara Dies Natalis ini menjadi momentum penting untuk merajut sinergi dan melangkah ke jalan yang terang. Harapannya, USD dapat menyusuri teladan Jenderal Pedro Arrupe dengan memeluk dunia dengan mistisisme atau spiritualitas dengan mata terbuka. Konsep ini sesuai dengan sebutan Sanata Dharma sebagai kampus 1.000 jendela yang merepresentasikan keterbukaan dan menjadi simbol dari banyaknya jalan menuju terang dalam ilmu, seni, budaya, dan pengabdian.
Sanata Dharma hadir dari proses penglihatan seksama, kontemplasi yang mendalam, dan diskresi yang jernih mengenai situasi nyata masyarakat dan bangsa Indonesia. Diadakannya acara ini juga menjadi momen refleksi perjalanan berdirinya Sanata Dharma. Baca juga: Universitas Sanata Dharma Kukuhkan 3 Guru Besar Baru
Puncak acara tahun ini dihadiri beberapa tokoh, di antaranya Ketua Yayasan USD Romo C Kuntoro Adi, Rektor USD Romo Albertus Bagus Laksana, dan Kepala LLDIKTI Wilayah V Prof Setyabudi Indartono. Kemudian para pejabat sipil, militer, pemimpin perguruan tinggi kampus sahabat, sivitas akademika USD, para romo, suster, bruder, para mahasiswa, purnakarya, dan alumni USD.
Rangkaian acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Tanah Airku, dan penampilan tarian Nias yang kemudian disusul dengan sambutan rektor USD. Romo Albertus menyampaikan refleksi tentang tema Sanyata Ing Dharma, makna diskresi kampus seribu jendela, dan harapannya untuk USD di masa depan.
Ia juga mengajak kita untuk berjalan menuju terang untuk masa depan USD yang lebih baik. “Saya mengajak kita semua untuk meneguhkan hati, setia melangkah membawa terang ke tengah dunia yang masih dikuasai kegelapan dan menerangi segala kebodohan. Marilah maju berjalan menuju terang,” katanya.
Prof Setyabudi Indartono sebagai perwakilan Kemendikti serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Yogyakarta dalam pidatonya mengatakan, perayaan ini sebagai momentum reflektif untuk menengok kembali perjalanan USD. Menurutnya, tujuh dekade bukanlah sekadar akumulasi waktu secara kronologis.
”Melainkan sebuah perjalanan ontologis yang berarti proses panjang dalam mencari, merawat, menghidupi kebenaran. Acara ini bukan hanya perayaan pertambahan usia, tetapi juga merayakan konsistensi sebuah institusi dalam menjaga api intelektualitasnya,” tuturnya.
Untuk merefleksikan sejarah dan perjalanan USD, dalam rangkaian acara juga terdapat pembacaan pidato refleksi budaya USD yang dibawakan oleh perwakilan dosen USD. Selain itu, di penghujung acara terdapat apresiasi dengan berbagai nominasi, di antaranya yaitu dedikasi sivitas akademika yang mengabdi selama 25 tahun, mahasiswa berprestasi, penghargaan alumni, apresiasi pemidato refleksi budaya, penghargaan untuk festival menulis, dan kostum terbaik. Baca juga: SBY Raih Penghargaan Tertinggi dari ITS di Dies Natalis ke-65
Acara Dies Natalis ini menjadi momentum penting untuk merajut sinergi dan melangkah ke jalan yang terang. Harapannya, USD dapat menyusuri teladan Jenderal Pedro Arrupe dengan memeluk dunia dengan mistisisme atau spiritualitas dengan mata terbuka. Konsep ini sesuai dengan sebutan Sanata Dharma sebagai kampus 1.000 jendela yang merepresentasikan keterbukaan dan menjadi simbol dari banyaknya jalan menuju terang dalam ilmu, seni, budaya, dan pengabdian.
(poe)
Lihat Juga :