Kementerian Kebudayaan Gelar Festival Budaya Tempe Goes to UNESCO
Senin, 22 Desember 2025 - 16:00 WIB
loading...
Kementerian Kebudayaan menggelar rangkaian kegiatan Budaya Tempe Goes to UNESCO di halaman Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Promosi Kebudayaan, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan menggelar rangkaian kegiatan Budaya Tempe Goes to UNESCO di halaman Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari aktivasi publik untuk mendorong pengakuan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage) UNESCO, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai budaya, sosial, dan ekologis yang terkandung dalam tradisi tempe.
Baca juga: Budaya Tempe Ditargetkan Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2026
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menegaskan bahwa Budaya Tempe tidak hanya berkaitan dengan pangan, tetapi juga memuat nilai filosofis serta pengetahuan tradisional yang penting untuk dilestarikan.
Menurutnya, Budaya Tempe sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Tempe merupakan bagian dari tradisi pangan lokal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Baca juga: Tempe hingga Kimchi, Ini Alasan Makanan Fermentasi Baik untuk Tubuh
Selain itu, Fadli Zon menyoroti peran Budaya Tempe dalam perekonomian kerakyatan. Saat ini terdapat sekitar 170.000 komunitas pembuat tempe dan lebih dari 1,5 juta perajin di seluruh Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa Budaya Tempe bukan hanya warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan keluarga di Nusantara.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Budaya Tempe memiliki potensi besar sebagai ekonomi budaya, sesuai dengan salah satu objek pemajuan kebudayaan. Pangan lokal, termasuk tempe, tidak dapat dipisahkan dari ekspresi budaya karena di dalamnya terkandung nilai, tradisi, dan identitas masyarakat.
Festival Budaya Tempe menghadirkan beragam kegiatan edukasi, ekonomi kreatif, seni budaya, dan olahraga yang disambut antusias oleh masyarakat. Mengusung tema “Tidak Ada yang Tahu Semua Tempe”, kegiatan ini digelar bertepatan dengan hari bebas kendaraan bermotor di Jakarta, sekaligus menjadi momentum untuk merayakan khazanah tempe sebagai tradisi kuliner, inovasi pangan, serta gaya hidup sehat dan berkelanjutan.
Salah satu agenda utama dalam festival tersebut adalah Fun Run Budaya Tempe yang menjadi simbol dukungan publik terhadap proses pengusulan Budaya Tempe ke UNESCO.
Setiap langkah peserta dimaknai sebagai wujud solidaritas dan kebanggaan kolektif terhadap warisan budaya bangsa, sekaligus ajakan untuk menjadikan tempe sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan ramah lingkungan bagi generasi mendatang.
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat umum. Sinergi tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan Budaya Tempe, baik sebagai identitas budaya maupun sebagai sistem pengetahuan tradisional yang relevan menghadapi tantangan global.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Kementerian Kebudayaan, antara lain Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha Djumaryo, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T. D. Retnoastuti, serta Direktur Jenderal Pemanfaatan, Pengembangan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra.
Hadir pula perwakilan Kedutaan Besar negara sahabat, di antaranya Afghanistan, Filipina, Serbia, Vietnam, Rusia, Timor Leste, Kuwait, Laos, Kamboja, dan Papua Nugini, yang turut memperkuat dukungan internasional terhadap pengakuan Budaya Tempe.
Menutup sambutannya, Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa kegiatan Budaya Tempe Goes to UNESCO merupakan wadah strategis untuk mengampanyekan kearifan lokal Indonesia. Upaya ini menjadi langkah penting dalam mempromosikan pangan lokal sebagai ekspresi budaya sekaligus memperjuangkan pengakuan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO.
Kegiatan ini merupakan bagian dari aktivasi publik untuk mendorong pengakuan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage) UNESCO, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai budaya, sosial, dan ekologis yang terkandung dalam tradisi tempe.
Baca juga: Budaya Tempe Ditargetkan Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda Dunia pada 2026
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menegaskan bahwa Budaya Tempe tidak hanya berkaitan dengan pangan, tetapi juga memuat nilai filosofis serta pengetahuan tradisional yang penting untuk dilestarikan.
Menurutnya, Budaya Tempe sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Tempe merupakan bagian dari tradisi pangan lokal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Baca juga: Tempe hingga Kimchi, Ini Alasan Makanan Fermentasi Baik untuk Tubuh
Selain itu, Fadli Zon menyoroti peran Budaya Tempe dalam perekonomian kerakyatan. Saat ini terdapat sekitar 170.000 komunitas pembuat tempe dan lebih dari 1,5 juta perajin di seluruh Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa Budaya Tempe bukan hanya warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan keluarga di Nusantara.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Budaya Tempe memiliki potensi besar sebagai ekonomi budaya, sesuai dengan salah satu objek pemajuan kebudayaan. Pangan lokal, termasuk tempe, tidak dapat dipisahkan dari ekspresi budaya karena di dalamnya terkandung nilai, tradisi, dan identitas masyarakat.
Festival Budaya Tempe menghadirkan beragam kegiatan edukasi, ekonomi kreatif, seni budaya, dan olahraga yang disambut antusias oleh masyarakat. Mengusung tema “Tidak Ada yang Tahu Semua Tempe”, kegiatan ini digelar bertepatan dengan hari bebas kendaraan bermotor di Jakarta, sekaligus menjadi momentum untuk merayakan khazanah tempe sebagai tradisi kuliner, inovasi pangan, serta gaya hidup sehat dan berkelanjutan.
Salah satu agenda utama dalam festival tersebut adalah Fun Run Budaya Tempe yang menjadi simbol dukungan publik terhadap proses pengusulan Budaya Tempe ke UNESCO.
Setiap langkah peserta dimaknai sebagai wujud solidaritas dan kebanggaan kolektif terhadap warisan budaya bangsa, sekaligus ajakan untuk menjadikan tempe sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan ramah lingkungan bagi generasi mendatang.
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat umum. Sinergi tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan Budaya Tempe, baik sebagai identitas budaya maupun sebagai sistem pengetahuan tradisional yang relevan menghadapi tantangan global.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Kementerian Kebudayaan, antara lain Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha Djumaryo, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T. D. Retnoastuti, serta Direktur Jenderal Pemanfaatan, Pengembangan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra.
Hadir pula perwakilan Kedutaan Besar negara sahabat, di antaranya Afghanistan, Filipina, Serbia, Vietnam, Rusia, Timor Leste, Kuwait, Laos, Kamboja, dan Papua Nugini, yang turut memperkuat dukungan internasional terhadap pengakuan Budaya Tempe.
Menutup sambutannya, Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa kegiatan Budaya Tempe Goes to UNESCO merupakan wadah strategis untuk mengampanyekan kearifan lokal Indonesia. Upaya ini menjadi langkah penting dalam mempromosikan pangan lokal sebagai ekspresi budaya sekaligus memperjuangkan pengakuan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO.
(nnz)
Lihat Juga :