Profil Nashin Mahtani, Inovator Peta Kebencanaan dari Indonesia yang Meraih Penghargaan PBB
Rabu, 24 Desember 2025 - 14:05 WIB
loading...
Profil Nashin Mahtani, orang Indonesia yang meraih penghargaan dari PBB menarik untuk diulas. Foto/obama.org
A
A
A
JAKARTA - Profil Nashin Mahtani , orang Indonesia yang meraih penghargaan dari PBB menarik untuk diulas. Nashin membuat inovasi yang bisa menjadi harapan untuk Indonesia memitigasi bencana dengan baik.
Pada 25 November lalu, salah satu lembaga PBB United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) memberikan penghargaan WIN DRR Rising Star Award kepada dua perempuan atas kontribusi terobosan mereka dalam melindungi masyarakat di kawasan yang menghadapi tingkat kerugian akibat bencana tertinggi di dunia.
Baca juga: Jejak Pendidikan Martina Ayu Pratiwi, Ratu Triathlon Peraih Medali Terbanyak SEA Games 2025
Pemenang WIN DRR 2025 diberikan kepada Nashin Mahtani dari Indonesia, Direktur Yayasan Peta Bencana (Disaster Map Foundation), dan Takena Redfern dari Kiribati, Pelaksana Tugas Direktur Divisi Perubahan Iklim dan Manajemen Risiko Bencana di Kantor Presiden Kiribati.
Inovasi Nashin telah menggeser upaya pengurangan risiko bencana dari sistem peringatan satu arah (top-down) menjadi tata kelola risiko yang partisipatif, sehingga memungkinkan warga untuk bersama-sama menciptakan informasi risiko yang terverifikasi dan bersifat real-time bagi petugas tanggap darurat, instansi pemerintah, dan komunitas mereka.
Baca juga: Riwayat Pendidikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang Ingin Merevisi Sejarah Indonesia
Mengutip laman UNDRR dan nashinmahtani.com, berikut ini profil dan riwayat pendidikan Nashin Mahtani yang mengharumkan Indonesia melalui inovasi untuk penanggulangan kebencanaan.
Nashin sebelumnya bekerja sebagai desainer dan peneliti di Urban Risk Lab, MIT, serta sebagai asisten peneliti di School of Architecture, University of Waterloo, di mana ia berkontribusi pada berbagai proyek yang berfokus pada mitigasi risiko banjir.
Ia menyelesaikan pendidikan Magister Arsitektur (M.Arch ’15) dan Sarjana Studi Arsitektur (BAS ’14) di University of Waterloo, Kanada. Sebelumnya, Nashin juga pernah bekerja sebagai arsitek di New York, Los Angeles, Miami, dan Toronto.
Baca juga: Ini Riwayat Pendidikan Seluruh Presiden Indonesia, Sudah Tahu?
Dalam pengembangan keilmuannya, Nashin menaruh perhatian besar pada kajian water politics dan infrastruktur air, filosofi komunikasi dan media, serta adaptasi epigenetik dalam konteks perubahan iklim dan risiko bencana.
Selain itu, Nashin juga dikenal aktif dalam riset kolaboratif. Ia merupakan principal co-investigator MERA, sebuah kolektif riset dan desain yang meneliti masa depan struktur tata kelola berbasis keseimbangan ekologis (ecological homeostasis).
Berbekal latar pendidikan dan riset tersebut, Nashin mendirikan dan mengembangkan Yayasan Peta Bencana sejak 2017. Ia memimpin perluasan platform PetaBencana.id dari sistem pemetaan banjir skala kota menjadi platform pemetaan multi-bahaya real-time yang kini melayani lebih dari 350 juta pengguna di Asia Tenggara.
Pendekatan akademik dan riset yang ia miliki juga mendorong pengembangan strategi desain berbasis konteks lokal, sehingga teknologi kebencanaan dapat diadaptasi lintas negara.
Pada 2019, Nashin mendirikan MapaKalamidad.ph di Filipina, dan pada 2024 membentuk Climate Emergency Software Alliance untuk memperkuat koordinasi internasional dalam adopsi perangkat lunak kebencanaan terbuka.
Pada 2021, ia masuk dalam daftar Forbes Asia 30 Under 30 untuk kontribusinya di bidang isu sosial. Ia juga menjadi semi-finalis Global Citizen Prize: Cisco Youth Leadership Award 2019, serta terpilih sebagai Southeast Asian Women Leader oleh YSEALI pada 2020.
Karya tulis, desain, dan film Nashin telah dipublikasikan di berbagai jurnal serta dipamerkan di forum internasional. Ia juga aktif sebagai pembicara dan dosen tamu di berbagai universitas dan institusi pendidikan global.
Pada 25 November lalu, salah satu lembaga PBB United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) memberikan penghargaan WIN DRR Rising Star Award kepada dua perempuan atas kontribusi terobosan mereka dalam melindungi masyarakat di kawasan yang menghadapi tingkat kerugian akibat bencana tertinggi di dunia.
Baca juga: Jejak Pendidikan Martina Ayu Pratiwi, Ratu Triathlon Peraih Medali Terbanyak SEA Games 2025
Pemenang WIN DRR 2025 diberikan kepada Nashin Mahtani dari Indonesia, Direktur Yayasan Peta Bencana (Disaster Map Foundation), dan Takena Redfern dari Kiribati, Pelaksana Tugas Direktur Divisi Perubahan Iklim dan Manajemen Risiko Bencana di Kantor Presiden Kiribati.
Inovasi Nashin telah menggeser upaya pengurangan risiko bencana dari sistem peringatan satu arah (top-down) menjadi tata kelola risiko yang partisipatif, sehingga memungkinkan warga untuk bersama-sama menciptakan informasi risiko yang terverifikasi dan bersifat real-time bagi petugas tanggap darurat, instansi pemerintah, dan komunitas mereka.
Baca juga: Riwayat Pendidikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang Ingin Merevisi Sejarah Indonesia
Mengutip laman UNDRR dan nashinmahtani.com, berikut ini profil dan riwayat pendidikan Nashin Mahtani yang mengharumkan Indonesia melalui inovasi untuk penanggulangan kebencanaan.
Latar Belakang Pendidikan Nashin Mahtani
Nashin sebelumnya bekerja sebagai desainer dan peneliti di Urban Risk Lab, MIT, serta sebagai asisten peneliti di School of Architecture, University of Waterloo, di mana ia berkontribusi pada berbagai proyek yang berfokus pada mitigasi risiko banjir.
Ia menyelesaikan pendidikan Magister Arsitektur (M.Arch ’15) dan Sarjana Studi Arsitektur (BAS ’14) di University of Waterloo, Kanada. Sebelumnya, Nashin juga pernah bekerja sebagai arsitek di New York, Los Angeles, Miami, dan Toronto.
Baca juga: Ini Riwayat Pendidikan Seluruh Presiden Indonesia, Sudah Tahu?
Dalam pengembangan keilmuannya, Nashin menaruh perhatian besar pada kajian water politics dan infrastruktur air, filosofi komunikasi dan media, serta adaptasi epigenetik dalam konteks perubahan iklim dan risiko bencana.
Selain itu, Nashin juga dikenal aktif dalam riset kolaboratif. Ia merupakan principal co-investigator MERA, sebuah kolektif riset dan desain yang meneliti masa depan struktur tata kelola berbasis keseimbangan ekologis (ecological homeostasis).
Pendidikan, Riset, dan Aktivisme Berbasis Teknologi
Berbekal latar pendidikan dan riset tersebut, Nashin mendirikan dan mengembangkan Yayasan Peta Bencana sejak 2017. Ia memimpin perluasan platform PetaBencana.id dari sistem pemetaan banjir skala kota menjadi platform pemetaan multi-bahaya real-time yang kini melayani lebih dari 350 juta pengguna di Asia Tenggara.
Pendekatan akademik dan riset yang ia miliki juga mendorong pengembangan strategi desain berbasis konteks lokal, sehingga teknologi kebencanaan dapat diadaptasi lintas negara.
Pada 2019, Nashin mendirikan MapaKalamidad.ph di Filipina, dan pada 2024 membentuk Climate Emergency Software Alliance untuk memperkuat koordinasi internasional dalam adopsi perangkat lunak kebencanaan terbuka.
Pengakuan Internasional atas Kiprah Akademik dan Profesional
Pada 2021, ia masuk dalam daftar Forbes Asia 30 Under 30 untuk kontribusinya di bidang isu sosial. Ia juga menjadi semi-finalis Global Citizen Prize: Cisco Youth Leadership Award 2019, serta terpilih sebagai Southeast Asian Women Leader oleh YSEALI pada 2020.
Karya tulis, desain, dan film Nashin telah dipublikasikan di berbagai jurnal serta dipamerkan di forum internasional. Ia juga aktif sebagai pembicara dan dosen tamu di berbagai universitas dan institusi pendidikan global.
(nnz)
Lihat Juga :