Mengenal Prof Premana, Dosen Astronomi ITB yang Namanya Abadi di Langit
Senin, 29 Desember 2025 - 20:23 WIB
loading...
Nama Prof. Dr. Dra. Premana Wadayanti Premade tak hanya tercatat dalam sejarah astronomi Indonesia, tetapi juga abadi di langit. Foto/ITB.
A
A
A
JAKARTA - Nama dosen Astronomi ITB Prof. Dr. Dra. Premana Wardayanti Premade tak hanya tercatat dalam sejarah astronomi Indonesia, tetapi juga abadi di langit.
Guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mendapatkan pengakuan internasional setelah International Astronomical Union (IAU) pada tahun 2017 mengabadikan namanya sebagai Asteroid 12937 Premade.
Baca juga: Wenny Yosselina, Ilustrator ITB yang Menjembatani Dunia Anak Disabilitas Lewat Bahasa Visual
Penghargaan tersebut menjadikan Prof Premana, yang akrab disapa Nana, sebagai astronom perempuan pertama di Indonesia yang namanya digunakan dalam penamaan asteroid. Sebuah pencapaian bergengsi yang menandai kontribusinya dalam pengembangan ilmu astronomi dan astrofisika dunia.
Dikutip dari Instagram @santosoim, Ketertarikan Prof Nana terhadap astronomi tumbuh sejak kecil. Ia mengaku terpesona oleh langit dan segala isinya yang dapat disaksikan di mana pun berada.
Baca juga: Begini Analisis Ahli ITB Mengapa Bencana Sumatera 2025 Begitu Parah
Bagi Prof Nana, langit adalah misteri yang indah, dan rasa penasaran itulah yang terus mendorongnya menekuni dunia astronomi hingga kini.
Saat ini, Prof Premana Wadayanti Premade dikenal sebagai guru besar ITB di bidang evolusi struktur kosmologis. Ia menempuh pendidikan Sarjana (S1) Astronomi di ITB pada 1988, kemudian melanjutkan studi hingga meraih gelar Doktor (Ph.D) Fisika pada 1996 di The University of Texas at Austin, Amerika Serikat.
Baca juga: ITB Resmi Terapkan Nilai TKA untuk Seleksi SNBP 2026, Cek Infonya
Prestasi akademiknya mencatatkan sejarah tersendiri. Prof Nana merupakan perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar Ph.D di bidang astrofisika, sekaligus satu-satunya perempuan dan orang Asia yang mempelajari astrofisika di University of Texas at Austin pada masanya.
Berbagai penghargaan internasional juga telah diraihnya. Pada 1997, ia menerima Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) Research Fellow.
Kemudian pada 2023, Prof Nana dianugerahi Honorary Fellow dari Royal Astronomical Society (RAS), Inggris, serta sejumlah penghargaan prestisius lainnya atas kontribusinya di bidang astronomi.
Dalam perjalanan kariernya, Prof Nana juga pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha pada periode 2018–2023. Ia turut berkontribusi dalam berbagai penelitian strategis, termasuk pembangunan observatorium di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tak hanya berfokus pada riset, Prof Nana memiliki kepedulian besar terhadap pendidikan sains sejak dini. Pada 2007, ia mendirikan Universe Awareness for Children (UNAWE), sebuah ruang belajar yang bertujuan mengenalkan astronomi kepada anak-anak. Menurutnya, astronomi adalah sains yang paling mudah untuk menghubungkan masyarakat dengan ilmu pengetahuan.
Komitmen tersebut terus berlanjut hingga kini. Bersama BRIN, ITB, dan pemerintah daerah, Prof Nana merancang program pemberdayaan pendidikan sains di sekitar Observatorium Nasional Timau, NTT. Program ini mencakup pengembangan listrik berbasis energi berkelanjutan, akses air bersih, serta pembangunan science center untuk mendukung pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mendapatkan pengakuan internasional setelah International Astronomical Union (IAU) pada tahun 2017 mengabadikan namanya sebagai Asteroid 12937 Premade.
Baca juga: Wenny Yosselina, Ilustrator ITB yang Menjembatani Dunia Anak Disabilitas Lewat Bahasa Visual
Penghargaan tersebut menjadikan Prof Premana, yang akrab disapa Nana, sebagai astronom perempuan pertama di Indonesia yang namanya digunakan dalam penamaan asteroid. Sebuah pencapaian bergengsi yang menandai kontribusinya dalam pengembangan ilmu astronomi dan astrofisika dunia.
Dikutip dari Instagram @santosoim, Ketertarikan Prof Nana terhadap astronomi tumbuh sejak kecil. Ia mengaku terpesona oleh langit dan segala isinya yang dapat disaksikan di mana pun berada.
Baca juga: Begini Analisis Ahli ITB Mengapa Bencana Sumatera 2025 Begitu Parah
Bagi Prof Nana, langit adalah misteri yang indah, dan rasa penasaran itulah yang terus mendorongnya menekuni dunia astronomi hingga kini.
Saat ini, Prof Premana Wadayanti Premade dikenal sebagai guru besar ITB di bidang evolusi struktur kosmologis. Ia menempuh pendidikan Sarjana (S1) Astronomi di ITB pada 1988, kemudian melanjutkan studi hingga meraih gelar Doktor (Ph.D) Fisika pada 1996 di The University of Texas at Austin, Amerika Serikat.
Baca juga: ITB Resmi Terapkan Nilai TKA untuk Seleksi SNBP 2026, Cek Infonya
Prestasi akademiknya mencatatkan sejarah tersendiri. Prof Nana merupakan perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar Ph.D di bidang astrofisika, sekaligus satu-satunya perempuan dan orang Asia yang mempelajari astrofisika di University of Texas at Austin pada masanya.
Berbagai penghargaan internasional juga telah diraihnya. Pada 1997, ia menerima Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) Research Fellow.
Kemudian pada 2023, Prof Nana dianugerahi Honorary Fellow dari Royal Astronomical Society (RAS), Inggris, serta sejumlah penghargaan prestisius lainnya atas kontribusinya di bidang astronomi.
Dalam perjalanan kariernya, Prof Nana juga pernah menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha pada periode 2018–2023. Ia turut berkontribusi dalam berbagai penelitian strategis, termasuk pembangunan observatorium di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tak hanya berfokus pada riset, Prof Nana memiliki kepedulian besar terhadap pendidikan sains sejak dini. Pada 2007, ia mendirikan Universe Awareness for Children (UNAWE), sebuah ruang belajar yang bertujuan mengenalkan astronomi kepada anak-anak. Menurutnya, astronomi adalah sains yang paling mudah untuk menghubungkan masyarakat dengan ilmu pengetahuan.
Komitmen tersebut terus berlanjut hingga kini. Bersama BRIN, ITB, dan pemerintah daerah, Prof Nana merancang program pemberdayaan pendidikan sains di sekitar Observatorium Nasional Timau, NTT. Program ini mencakup pengembangan listrik berbasis energi berkelanjutan, akses air bersih, serta pembangunan science center untuk mendukung pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
(nnz)
Lihat Juga :