Panitia SNPMB 2026: Tambahan Kuota 5 Persen Mengisi PDSS dengan e-Rapor Bukan PHP
Selasa, 06 Januari 2026 - 12:02 WIB
loading...
Masih belum banyak sekolah yang mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) dengan e-Rapor. Foto/SINDOnews.
A
A
A
JAKARTA - Masih belum banyak sekolah yang mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) dengan e- Rapor meski ada tambahan kuota 5 persen untuk dimanfaatkan pada pendaftaran jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Koordinator Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi , Riza Satria Perdana mengatakan bahwa insentif 5 persen yang diberikan kepada sekolah pengguna e-Rapor sudah diberlakukan sejak tahun lalu dan terbukti berpengaruh terhadap peluang siswa lolos SNBP.
Baca juga: Pengumuman Penerima KIP Kuliah Jalur SNBP dan SNBT 2025 Dirilis, Cek Akunmu!
“Saya ingin sampaikan ke para guru, bahwa ternyata dari SNBP 2025 itu tambahan 5 persen bukan omong kosong, bukan PHP kalau kata anak sekarang karena banyak orang kira bahwa yang diterima SNBP itu bener-benar peringkat yang atas semua, ternyata tidak,” katanya pada Sosialisasi Daring Registrasi Akun SNPMB dan Pengisian PDSS di Youtube SNPMB ID, Selasa (6/1/2025).
Sebagai ilustrasi, Riza menjelaskan bahwa sekolah dengan akreditasi A pada dasarnya memperoleh kuota SNBP sebesar 40 persen dari jumlah siswa kelas XII. Jika sebuah sekolah memiliki 200 siswa, maka kuota normalnya adalah 80 siswa. Namun, jika sekolah tersebut mengisi PDSS menggunakan e-Rapor, kuotanya bertambah menjadi 45 persen atau setara dengan 90 siswa.
Baca juga: Lolos SNBP, 66 Siswa MAN 13 Jakarta Diterima di Perguruan Tinggi Negeri Favorit
Riza mengungkapkan, masih banyak anggapan bahwa SNBP hanya menerima siswa dengan peringkat akademik teratas. Padahal, berdasarkan data SNBP 2025, siswa yang berada di rentang peringkat 40 hingga 45 persen tetap memiliki peluang signifikan untuk diterima di PTN, khususnya dari sekolah yang memperoleh tambahan kuota e-Rapor.
Dari data tahun lalu, tercatat hanya 1.161 sekolah yang menggunakan e-Rapor untuk pengisian PDSS dari total hampir 20 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Jumlah siswa dari sekolah pengguna e-Rapor pun relatif kecil, yakni 64.391 siswa dari total peserta SNBP yang mencapai sekitar 800 ribu siswa.
“Kami harap tahun ini ada peningkatan siginifikan sekolah pakai e-rapor. Ini salah satu yang bisa dijadikan motivasi ini adalah terlihat bahwa meskipun siswanya itu berada di peringkat 40 sampai 45 persen tapi bukan berarti dia tidak punya peluang untuk diterima,” ujarnya.
“Dan kalau dilihat persentasenya hampir 20 persen dari angka ini pendaftar yang diterimanya ini. Jadi yang tadi saya sampaikan bahwa tambahan 5 persen itu penting dan bermakna,” tambahnya.
Baca juga: 10 Jurusan D4 Paling Ketat di SNBP 2025, Keperawatan Anestesiologi Hanya Terima 0,94% Pendaftar!
Berdasarkan data SNBP 2025, dari sekitar 14 ribu siswa yang berada pada rentang peringkat 40–45 persen, sebanyak 2.929 siswa atau hampir 20 persen dinyatakan diterima.
“Ini yang ingin kami sampaikan ke para kepala sekolah dan guru BK. Kalau sebelumnya kuota sekolah 40 persen, lalu menjadi 45 persen, itu keuntungan besar. Peluang siswa di rentang ini hampir sama dengan peringkat di atasnya,” tegas Riza.
Ia menambahkan, kunci agar peluang tersebut optimal terletak pada ketepatan pemilihan program studi. Siswa perlu diarahkan memilih prodi yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta mempertimbangkan tingkat keketatan dan daya tampung di PTN tujuan.
“PTN tidak hanya punya prodi yang sangat kompetitif. Masih banyak prodi dengan daya tampung luas. Di sinilah peran sekolah, khususnya guru BK, untuk mengarahkan siswa secara tepat,” ujarnya.
Riza pun berharap pada SNBP tahun ini semakin banyak sekolah yang memanfaatkan e-Rapor dalam pengisian PDSS. Menurutnya, PDSS bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi instrumen penting untuk membuka peluang lebih besar bagi siswa eligible agar dapat diterima di perguruan tinggi negeri sesuai potensi dan minatnya.
“PDSS itu penting, e-Rapor itu penting. Ini salah satu cara nyata agar peluang siswa diterima SNBP semakin besar,” pungkasnya.
Koordinator Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi , Riza Satria Perdana mengatakan bahwa insentif 5 persen yang diberikan kepada sekolah pengguna e-Rapor sudah diberlakukan sejak tahun lalu dan terbukti berpengaruh terhadap peluang siswa lolos SNBP.
Baca juga: Pengumuman Penerima KIP Kuliah Jalur SNBP dan SNBT 2025 Dirilis, Cek Akunmu!
“Saya ingin sampaikan ke para guru, bahwa ternyata dari SNBP 2025 itu tambahan 5 persen bukan omong kosong, bukan PHP kalau kata anak sekarang karena banyak orang kira bahwa yang diterima SNBP itu bener-benar peringkat yang atas semua, ternyata tidak,” katanya pada Sosialisasi Daring Registrasi Akun SNPMB dan Pengisian PDSS di Youtube SNPMB ID, Selasa (6/1/2025).
Sebagai ilustrasi, Riza menjelaskan bahwa sekolah dengan akreditasi A pada dasarnya memperoleh kuota SNBP sebesar 40 persen dari jumlah siswa kelas XII. Jika sebuah sekolah memiliki 200 siswa, maka kuota normalnya adalah 80 siswa. Namun, jika sekolah tersebut mengisi PDSS menggunakan e-Rapor, kuotanya bertambah menjadi 45 persen atau setara dengan 90 siswa.
Baca juga: Lolos SNBP, 66 Siswa MAN 13 Jakarta Diterima di Perguruan Tinggi Negeri Favorit
Riza mengungkapkan, masih banyak anggapan bahwa SNBP hanya menerima siswa dengan peringkat akademik teratas. Padahal, berdasarkan data SNBP 2025, siswa yang berada di rentang peringkat 40 hingga 45 persen tetap memiliki peluang signifikan untuk diterima di PTN, khususnya dari sekolah yang memperoleh tambahan kuota e-Rapor.
Dari data tahun lalu, tercatat hanya 1.161 sekolah yang menggunakan e-Rapor untuk pengisian PDSS dari total hampir 20 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Jumlah siswa dari sekolah pengguna e-Rapor pun relatif kecil, yakni 64.391 siswa dari total peserta SNBP yang mencapai sekitar 800 ribu siswa.
“Kami harap tahun ini ada peningkatan siginifikan sekolah pakai e-rapor. Ini salah satu yang bisa dijadikan motivasi ini adalah terlihat bahwa meskipun siswanya itu berada di peringkat 40 sampai 45 persen tapi bukan berarti dia tidak punya peluang untuk diterima,” ujarnya.
“Dan kalau dilihat persentasenya hampir 20 persen dari angka ini pendaftar yang diterimanya ini. Jadi yang tadi saya sampaikan bahwa tambahan 5 persen itu penting dan bermakna,” tambahnya.
Baca juga: 10 Jurusan D4 Paling Ketat di SNBP 2025, Keperawatan Anestesiologi Hanya Terima 0,94% Pendaftar!
Berdasarkan data SNBP 2025, dari sekitar 14 ribu siswa yang berada pada rentang peringkat 40–45 persen, sebanyak 2.929 siswa atau hampir 20 persen dinyatakan diterima.
“Ini yang ingin kami sampaikan ke para kepala sekolah dan guru BK. Kalau sebelumnya kuota sekolah 40 persen, lalu menjadi 45 persen, itu keuntungan besar. Peluang siswa di rentang ini hampir sama dengan peringkat di atasnya,” tegas Riza.
Ia menambahkan, kunci agar peluang tersebut optimal terletak pada ketepatan pemilihan program studi. Siswa perlu diarahkan memilih prodi yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta mempertimbangkan tingkat keketatan dan daya tampung di PTN tujuan.
“PTN tidak hanya punya prodi yang sangat kompetitif. Masih banyak prodi dengan daya tampung luas. Di sinilah peran sekolah, khususnya guru BK, untuk mengarahkan siswa secara tepat,” ujarnya.
Riza pun berharap pada SNBP tahun ini semakin banyak sekolah yang memanfaatkan e-Rapor dalam pengisian PDSS. Menurutnya, PDSS bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi instrumen penting untuk membuka peluang lebih besar bagi siswa eligible agar dapat diterima di perguruan tinggi negeri sesuai potensi dan minatnya.
“PDSS itu penting, e-Rapor itu penting. Ini salah satu cara nyata agar peluang siswa diterima SNBP semakin besar,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :