FEB UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Fokus Bentuk Lulusan Siap Hadapi Dunia Kerja
Jum'at, 23 Januari 2026 - 18:01 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut Prof. Mohamad Rizan berharap melalui Employer Meeting FEB UNJ 2026, FEB UNJ menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya merespons perubahan, tetapi juga aktif membentuk masa depan. Transformasi akademik yang adaptif dan kolaboratif ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang FEB UNJ dalam mencetak lulusan yang tidak sekadar job-ready, tetapi juga future-ready—siap memimpin, berinovasi, dan berkontribusi dalam membangun ekonomi Indonesia yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global, tambahnya.
Berbagai masukan dari mitra industri dan sektor publik mengungkap adanya pergeseran paradigma kebutuhan tenaga kerja. Keunggulan akademik dan teknis dinilai belum cukup tanpa diiringi kedewasaan emosional, etos kerja, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan organisasi. Dalam diskusi tersebut, mengemuka tiga pilar kompetensi utama yang perlu segera diinternalisasikan dalam kurikulum dan pengembangan mahasiswa FEB UNJ.
Pilar pertama adalah ketangguhan mental dan karakter kepemimpinan. Sejumlah mitra, termasuk Baznas dan Dinas Pendidikan, menyoroti masih ditemukannya mentalitas mudah menyerah di kalangan mahasiswa dan lulusan. Dunia kerja menuntut individu yang mampu mengambil keputusan di bawah tekanan, bertanggung jawab, serta memiliki daya juang tinggi. Untuk itu, penguatan karakter melalui magang jangka panjang, simulasi situasi kerja nyata, dan program mentoring oleh praktisi dinilai penting untuk membentuk resiliensi dan profesionalisme sejak di bangku kuliah.
Pilar kedua berkaitan dengan penguasaan teknologi dan literasi digital yang mendalam. Digitalisasi telah menjadi kebutuhan dasar di hampir seluruh sektor. Mitra seperti PT BNI dan Primaya Hospital menekankan pentingnya pemahaman kecerdasan buatan (AI), analisis data, serta pemanfaatan teknologi dalam konteks bisnis dan layanan.
Integrasi mata kuliah seperti business intelligence, digital finance, automation in services, dan tech-driven marketing dinilai perlu diperkuat sejak jenjang sarjana. Selain itu, literasi keuangan digital dan investasi—termasuk program literasi emas yang dikembangkan Pegadaian—dipandang sebagai kompetensi praktis yang relevan bagi mahasiswa.
Berbagai masukan dari mitra industri dan sektor publik mengungkap adanya pergeseran paradigma kebutuhan tenaga kerja. Keunggulan akademik dan teknis dinilai belum cukup tanpa diiringi kedewasaan emosional, etos kerja, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan organisasi. Dalam diskusi tersebut, mengemuka tiga pilar kompetensi utama yang perlu segera diinternalisasikan dalam kurikulum dan pengembangan mahasiswa FEB UNJ.
Pilar pertama adalah ketangguhan mental dan karakter kepemimpinan. Sejumlah mitra, termasuk Baznas dan Dinas Pendidikan, menyoroti masih ditemukannya mentalitas mudah menyerah di kalangan mahasiswa dan lulusan. Dunia kerja menuntut individu yang mampu mengambil keputusan di bawah tekanan, bertanggung jawab, serta memiliki daya juang tinggi. Untuk itu, penguatan karakter melalui magang jangka panjang, simulasi situasi kerja nyata, dan program mentoring oleh praktisi dinilai penting untuk membentuk resiliensi dan profesionalisme sejak di bangku kuliah.
Pilar kedua berkaitan dengan penguasaan teknologi dan literasi digital yang mendalam. Digitalisasi telah menjadi kebutuhan dasar di hampir seluruh sektor. Mitra seperti PT BNI dan Primaya Hospital menekankan pentingnya pemahaman kecerdasan buatan (AI), analisis data, serta pemanfaatan teknologi dalam konteks bisnis dan layanan.
Integrasi mata kuliah seperti business intelligence, digital finance, automation in services, dan tech-driven marketing dinilai perlu diperkuat sejak jenjang sarjana. Selain itu, literasi keuangan digital dan investasi—termasuk program literasi emas yang dikembangkan Pegadaian—dipandang sebagai kompetensi praktis yang relevan bagi mahasiswa.
Lihat Juga :