Model United Nations Dinilai Masih Eksklusif, Peneliti HI Usul Diperluas ke Sekolah SMA
Jum'at, 23 Januari 2026 - 19:16 WIB
loading...
A
A
A
"Karena kenapa Model United Nation itu sendiri itu mengasah empat skill plus satu kalau bahasa Inggris. Yang pertama dia belajar ngomong depan umum. Yang kedua dia belajar tentang membaca secara analytical secara structured. Terus yang ketiga, dia harus tahu cara nulis secara terstruktur. Yang berikutnya adalah belajar apa seni negosiasi. Plus satunya itu networking,” ungkap dia.
Meski demikian, ia menyebut bahwa ada beberapa hambatan utama yang membuat siswa terkadang ragu untuk mengikuti MUN. Salah satunya adalah kendala Bahasa Inggris yang sering dianggap sebagai tembok pemisah.
Maka dari itu, ia mendorong agar penyelenggaraan MUN bisa lebih digalakan. Bahkan, harus bisa menyasar sekolah negeri dan swasta yang ada baik itu berbasis agama maupun non agama.
"Kalau buat saya kombinasinya harus 50/50 antara sekolah negeri dan sekolah internasional. Jadi saya tahu nih biasanya kalau MUN ini kan orang-orang enggak mau datang karena satu masalah bahasa Inggris, itu gap-nya. Tapi buat saya ini kesempatan juga untuk memperbanyak sekolah negeri untuk ikut,” ucap Calvin.
Selain itu, perluasan keterlibatan sekolah juga harus didukung dengan strategi outreach yang masif dan dapat mengubah stigma bahwa MUN adalah kegiatan yang membosankan atau terlalu rumit.
"Jadi saran saya konsisten. Terus outreach-nya atau penjangkauannya diperluas. Sekolah Katolik atau yang swasta muslim itu harus banyak diajakin supaya mereka bertanya ini apaan ya. Nanti dari sana mereka melihat, oh ini lebih menarik daripada hanya lomba debat atau lomba bahasa Inggris,” tambah dia.
Meski demikian, ia menyebut bahwa ada beberapa hambatan utama yang membuat siswa terkadang ragu untuk mengikuti MUN. Salah satunya adalah kendala Bahasa Inggris yang sering dianggap sebagai tembok pemisah.
Maka dari itu, ia mendorong agar penyelenggaraan MUN bisa lebih digalakan. Bahkan, harus bisa menyasar sekolah negeri dan swasta yang ada baik itu berbasis agama maupun non agama.
"Kalau buat saya kombinasinya harus 50/50 antara sekolah negeri dan sekolah internasional. Jadi saya tahu nih biasanya kalau MUN ini kan orang-orang enggak mau datang karena satu masalah bahasa Inggris, itu gap-nya. Tapi buat saya ini kesempatan juga untuk memperbanyak sekolah negeri untuk ikut,” ucap Calvin.
Selain itu, perluasan keterlibatan sekolah juga harus didukung dengan strategi outreach yang masif dan dapat mengubah stigma bahwa MUN adalah kegiatan yang membosankan atau terlalu rumit.
"Jadi saran saya konsisten. Terus outreach-nya atau penjangkauannya diperluas. Sekolah Katolik atau yang swasta muslim itu harus banyak diajakin supaya mereka bertanya ini apaan ya. Nanti dari sana mereka melihat, oh ini lebih menarik daripada hanya lomba debat atau lomba bahasa Inggris,” tambah dia.
Lihat Juga :