Sejarah dan Perkembangan KBBI: Dari Kamus Cetak hingga 210 Ribu Entri Digital
Jum'at, 23 Januari 2026 - 20:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kenalkan Siswa dengan KBBI, Badan Bahasa Luncurkan Kamus Masuk Sekolah
Lonjakan signifikan kembali terjadi pada tahun 2023 dengan jumlah entri meningkat menjadi 112.036. Namun, peningkatan paling drastis terjadi pada tahun 2024 melalui program prioritas penambahan kosakata. Hingga Januari 2026, jumlah entri KBBI tercatat mencapai 210.595 entri.
“Data ini dapat diakses langsung oleh pengguna terdaftar melalui statistik KBBI daring,” jelas Dora.
Ia menambahkan, KBBI tidak disusun dari nol, melainkan merupakan kompilasi dari tiga kamus utama, yakni Kamus Indonesia karya Sutan Mohammad Zain (1942), Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh Poerwadarminta (1952), serta Kamus Moderen Bahasa Indonesia karya Sutan Mohammad Zain (1951). Dari sinilah muncul entri kata klasik dan arkais yang masih dipertahankan hingga kini.
Sejak 2016, proses penyuntingan KBBI telah dilakukan secara nirkertas (paperless) dan didukung berbagai fitur digital, termasuk penelusuran etimologi kata, seperti asal-usul kosakata dari bahasa Arab dan bahasa asing lainnya.
Selain versi daring dan cetak, Badan Bahasa juga menghadirkan KBBI Braille untuk penyandang tunanetra. KBBI Braille dicetak pada 2018 sebanyak 138 jilid, yang kini tersimpan di Perpustakaan Badan Bahasa dan Perpustakaan Nasional RI.
Lonjakan signifikan kembali terjadi pada tahun 2023 dengan jumlah entri meningkat menjadi 112.036. Namun, peningkatan paling drastis terjadi pada tahun 2024 melalui program prioritas penambahan kosakata. Hingga Januari 2026, jumlah entri KBBI tercatat mencapai 210.595 entri.
“Data ini dapat diakses langsung oleh pengguna terdaftar melalui statistik KBBI daring,” jelas Dora.
Ia menambahkan, KBBI tidak disusun dari nol, melainkan merupakan kompilasi dari tiga kamus utama, yakni Kamus Indonesia karya Sutan Mohammad Zain (1942), Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh Poerwadarminta (1952), serta Kamus Moderen Bahasa Indonesia karya Sutan Mohammad Zain (1951). Dari sinilah muncul entri kata klasik dan arkais yang masih dipertahankan hingga kini.
Sejak 2016, proses penyuntingan KBBI telah dilakukan secara nirkertas (paperless) dan didukung berbagai fitur digital, termasuk penelusuran etimologi kata, seperti asal-usul kosakata dari bahasa Arab dan bahasa asing lainnya.
Selain versi daring dan cetak, Badan Bahasa juga menghadirkan KBBI Braille untuk penyandang tunanetra. KBBI Braille dicetak pada 2018 sebanyak 138 jilid, yang kini tersimpan di Perpustakaan Badan Bahasa dan Perpustakaan Nasional RI.
Lihat Juga :