Sejarah dan Perkembangan KBBI: Dari Kamus Cetak hingga 210 Ribu Entri Digital
Jum'at, 23 Januari 2026 - 20:30 WIB
loading...
Sebelum dikenal dengan nama KBBI, kamus bahasa Indonesia lebih dahulu disusun dengan judul Kamus Bahasa Indonesia pada rentang 1974–1983. Foto/SINDOnews.
A
A
A
BOGOR - Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Bahasa Kemendikdasmen, Dora Amali, memaparkan perjalanan panjang penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang kini telah berkembang menjadi kamus digital dengan lebih dari 210 ribu entri.
Dora menjelaskan, sebelum dikenal dengan nama KBBI, kamus bahasa Indonesia lebih dahulu disusun dengan judul Kamus Bahasa Indonesia pada rentang 1974–1983. Kamus tersebut dipimpin oleh Sri Sukesi Adiwimarta dan menjadi fondasi utama lahirnya KBBI.
Baca juga: Bangga, Bahasa Indonesia Resmi Dipakai di Sidang Umum UNESCO 2025
“Pada tahun 1988, kamus ini resmi diluncurkan sebagai Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Pertama dengan jumlah sekitar 62 ribu entri,” ujar Dora,dalam Sosialisasi KBBI dan TKA di Kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Bogor, Jumat (23/1/2026).
Perkembangan KBBI terus berlanjut. Edisi Kedua terbit pada 1991 dengan 72 ribu entri, disusul Edisi Ketiga pada tahun 2000. Kemudian Edisi Keempat hadir pada 2008 dengan jumlah entri mencapai sekitar 90 ribu, di mana Dora mulai terlibat sebagai bagian dari tim redaksi.
Transformasi besar terjadi pada tahun 2016 saat Badan Bahasa meluncurkan KBBI Edisi Kelima sekaligus memperkenalkan KBBI Daring. Sejak saat itu, pengolahan data dilakukan sepenuhnya secara digital sehingga jumlah entri dapat dihitung secara presisi, yakni 108.857 entri.
Baca juga: Kenalkan Siswa dengan KBBI, Badan Bahasa Luncurkan Kamus Masuk Sekolah
Lonjakan signifikan kembali terjadi pada tahun 2023 dengan jumlah entri meningkat menjadi 112.036. Namun, peningkatan paling drastis terjadi pada tahun 2024 melalui program prioritas penambahan kosakata. Hingga Januari 2026, jumlah entri KBBI tercatat mencapai 210.595 entri.
“Data ini dapat diakses langsung oleh pengguna terdaftar melalui statistik KBBI daring,” jelas Dora.
Ia menambahkan, KBBI tidak disusun dari nol, melainkan merupakan kompilasi dari tiga kamus utama, yakni Kamus Indonesia karya Sutan Mohammad Zain (1942), Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh Poerwadarminta (1952), serta Kamus Moderen Bahasa Indonesia karya Sutan Mohammad Zain (1951). Dari sinilah muncul entri kata klasik dan arkais yang masih dipertahankan hingga kini.
Sejak 2016, proses penyuntingan KBBI telah dilakukan secara nirkertas (paperless) dan didukung berbagai fitur digital, termasuk penelusuran etimologi kata, seperti asal-usul kosakata dari bahasa Arab dan bahasa asing lainnya.
Selain versi daring dan cetak, Badan Bahasa juga menghadirkan KBBI Braille untuk penyandang tunanetra. KBBI Braille dicetak pada 2018 sebanyak 138 jilid, yang kini tersimpan di Perpustakaan Badan Bahasa dan Perpustakaan Nasional RI.
Dalam pengelolaannya, KBBI didukung oleh 14 editor, 4 redaktur, dan 7 validator, serta melibatkan jaringan 30 UPT Balai dan Kantor Bahasa di seluruh Indonesia dan tim eksternal. Saat ini, KBBI melayani lebih dari 325.380 pengguna terdaftar, termasuk wartawan, penulis, dan akademisi.
Hingga kini, jumlah usulan yang masuk ke KBBI mencapai 256.692 usulan, dengan sekitar 70 persen di antaranya telah disunting. Rata-rata, tim redaksi mampu menyunting 53,77 entri per hari, meskipun beberapa entri memerlukan diskusi dan penelusuran sumber yang mendalam.
Dora menegaskan, setiap usulan baik penambahan, perbaikan makna, maupun penonaktifan entri diputuskan melalui rapat redaksi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan akurasi KBBI sebagai rujukan utama bahasa Indonesia.
“KBBI adalah kamus yang hidup dan terus berkembang mengikuti dinamika bahasa masyarakat,” pungkasnya.
Dora menjelaskan, sebelum dikenal dengan nama KBBI, kamus bahasa Indonesia lebih dahulu disusun dengan judul Kamus Bahasa Indonesia pada rentang 1974–1983. Kamus tersebut dipimpin oleh Sri Sukesi Adiwimarta dan menjadi fondasi utama lahirnya KBBI.
Baca juga: Bangga, Bahasa Indonesia Resmi Dipakai di Sidang Umum UNESCO 2025
“Pada tahun 1988, kamus ini resmi diluncurkan sebagai Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Pertama dengan jumlah sekitar 62 ribu entri,” ujar Dora,dalam Sosialisasi KBBI dan TKA di Kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Bogor, Jumat (23/1/2026).
Perkembangan KBBI terus berlanjut. Edisi Kedua terbit pada 1991 dengan 72 ribu entri, disusul Edisi Ketiga pada tahun 2000. Kemudian Edisi Keempat hadir pada 2008 dengan jumlah entri mencapai sekitar 90 ribu, di mana Dora mulai terlibat sebagai bagian dari tim redaksi.
Transformasi besar terjadi pada tahun 2016 saat Badan Bahasa meluncurkan KBBI Edisi Kelima sekaligus memperkenalkan KBBI Daring. Sejak saat itu, pengolahan data dilakukan sepenuhnya secara digital sehingga jumlah entri dapat dihitung secara presisi, yakni 108.857 entri.
Baca juga: Kenalkan Siswa dengan KBBI, Badan Bahasa Luncurkan Kamus Masuk Sekolah
Lonjakan signifikan kembali terjadi pada tahun 2023 dengan jumlah entri meningkat menjadi 112.036. Namun, peningkatan paling drastis terjadi pada tahun 2024 melalui program prioritas penambahan kosakata. Hingga Januari 2026, jumlah entri KBBI tercatat mencapai 210.595 entri.
“Data ini dapat diakses langsung oleh pengguna terdaftar melalui statistik KBBI daring,” jelas Dora.
Ia menambahkan, KBBI tidak disusun dari nol, melainkan merupakan kompilasi dari tiga kamus utama, yakni Kamus Indonesia karya Sutan Mohammad Zain (1942), Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh Poerwadarminta (1952), serta Kamus Moderen Bahasa Indonesia karya Sutan Mohammad Zain (1951). Dari sinilah muncul entri kata klasik dan arkais yang masih dipertahankan hingga kini.
Sejak 2016, proses penyuntingan KBBI telah dilakukan secara nirkertas (paperless) dan didukung berbagai fitur digital, termasuk penelusuran etimologi kata, seperti asal-usul kosakata dari bahasa Arab dan bahasa asing lainnya.
Selain versi daring dan cetak, Badan Bahasa juga menghadirkan KBBI Braille untuk penyandang tunanetra. KBBI Braille dicetak pada 2018 sebanyak 138 jilid, yang kini tersimpan di Perpustakaan Badan Bahasa dan Perpustakaan Nasional RI.
Dalam pengelolaannya, KBBI didukung oleh 14 editor, 4 redaktur, dan 7 validator, serta melibatkan jaringan 30 UPT Balai dan Kantor Bahasa di seluruh Indonesia dan tim eksternal. Saat ini, KBBI melayani lebih dari 325.380 pengguna terdaftar, termasuk wartawan, penulis, dan akademisi.
Hingga kini, jumlah usulan yang masuk ke KBBI mencapai 256.692 usulan, dengan sekitar 70 persen di antaranya telah disunting. Rata-rata, tim redaksi mampu menyunting 53,77 entri per hari, meskipun beberapa entri memerlukan diskusi dan penelusuran sumber yang mendalam.
Dora menegaskan, setiap usulan baik penambahan, perbaikan makna, maupun penonaktifan entri diputuskan melalui rapat redaksi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan akurasi KBBI sebagai rujukan utama bahasa Indonesia.
“KBBI adalah kamus yang hidup dan terus berkembang mengikuti dinamika bahasa masyarakat,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :