Antusiasme Tinggi Jelang TKA SD–SMP April 2026, Persiapan Sarana dan SDM Diperkuat
Rabu, 18 Februari 2026 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Untuk mengantisipasi hambatan, Dinas Pendidikan Jateng melakukan inventarisasi kesiapan sarana dan prasarana, termasuk komputer, jaringan listrik, dan internet.
Pemantauan dilakukan secara menyeluruh mulai dari tahap pendataan, simulasi, gladi bersih, pelaksanaan utama dan susulan, hingga pengumuman hasil.
Verifikasi faktual kondisi sarana prasarana di setiap satuan pendidikan juga dilakukan guna memastikan kesiapan teknis dan SDM.
Dukungan TKA juga datang dari akademisi. Pengamat pendidikan Satria Dharma menilai TKA perlu dipahami sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan, bukan ujian penentu seperti Ujian Nasional.
“Secara teknis dan akademis TKA 2026 dirancang untuk membebaskan siswa dari beban kelulusan. Tapi tantangan implementasinya terletak pada aspek sosiologis di mana mentalitas Ujian Nasional telah mendarah daging selama puluhan tahun di masyarakat Indonesia,” kata dia.
Menurutnya, TKA dirancang untuk memperoleh data capaian akademik yang terstandar, objektif, dan berkualitas secara nasional.
Tes ini mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi , termasuk literasi, numerasi, dan pemecahan masalah.
TKA menyediakan standar penilaian yang sama di seluruh Indonesia, sehingga dapat mengatasi perbedaan standar nilai antar sekolah.
Hasilnya juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi ke jenjang pendidikan selanjutnya, sekaligus menjadi dasar pemetaan mutu pendidikan nasional.
Namun, Satria mengatakan, sosialisasi perlu dilakukan secara masif untuk TKA agar publik memahami bahwa hasil TKA tidak mempengaruhi kelulusan, melainkan menjadi alat diagnosis untuk memperbaiki pembelajaran.
“Hasil TKA harus dimanfaatkan sebagai assessment for learning, yaitu dasar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga agar TKA tidak berubah menjadi high stakes test yang mendorong siswa dan guru hanya berorientasi pada nilai.
Pemantauan dilakukan secara menyeluruh mulai dari tahap pendataan, simulasi, gladi bersih, pelaksanaan utama dan susulan, hingga pengumuman hasil.
Verifikasi faktual kondisi sarana prasarana di setiap satuan pendidikan juga dilakukan guna memastikan kesiapan teknis dan SDM.
Dukungan TKA juga datang dari akademisi. Pengamat pendidikan Satria Dharma menilai TKA perlu dipahami sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan, bukan ujian penentu seperti Ujian Nasional.
“Secara teknis dan akademis TKA 2026 dirancang untuk membebaskan siswa dari beban kelulusan. Tapi tantangan implementasinya terletak pada aspek sosiologis di mana mentalitas Ujian Nasional telah mendarah daging selama puluhan tahun di masyarakat Indonesia,” kata dia.
Menurutnya, TKA dirancang untuk memperoleh data capaian akademik yang terstandar, objektif, dan berkualitas secara nasional.
Tes ini mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi , termasuk literasi, numerasi, dan pemecahan masalah.
TKA menyediakan standar penilaian yang sama di seluruh Indonesia, sehingga dapat mengatasi perbedaan standar nilai antar sekolah.
Hasilnya juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi ke jenjang pendidikan selanjutnya, sekaligus menjadi dasar pemetaan mutu pendidikan nasional.
Namun, Satria mengatakan, sosialisasi perlu dilakukan secara masif untuk TKA agar publik memahami bahwa hasil TKA tidak mempengaruhi kelulusan, melainkan menjadi alat diagnosis untuk memperbaiki pembelajaran.
“Hasil TKA harus dimanfaatkan sebagai assessment for learning, yaitu dasar untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga agar TKA tidak berubah menjadi high stakes test yang mendorong siswa dan guru hanya berorientasi pada nilai.
Lihat Juga :