MBG Dinilai Perkuat Solidaritas dan Semangat Belajar Siswa, Ini Hasil Risetnya
Kamis, 12 Maret 2026 - 14:44 WIB
loading...
A
A
A
“Secara sosiologis, di masa depan akan tumbuh tunas-tunas bangsa yang sehat, cerdas dan memiliki solidaritas tinggi terhadap sesama karena kedekatan satu sama lain sewaktu makan bersama,” jelas Musni Umar. Ia pun mendorong pemerintah untuk memperbaiki berbagai persoalan yang selama ini mendera program ini.
Pernyataan Musni sejalan dengan Kepala Badan Standar, Kurikulum , dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Toni Toharudin. Menurut Toni, Program MBG yang digagas pemerintah menjadi pondasi baru dalam menciptakan pendidikan bermutu di Indonesia.
Toni menjelaskan, MBG tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada budaya sekolah. Praktik makan bersama menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih inklusif dan memperkuat kebersamaan diantara siswa.
“Kegiatan makan bersama menjadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna,” tegas Toni.
Pengalaman sosial ini menjadi penting untuk membangun empati, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. MBG membuka peluang bagi sekolah untuk membangun budaya belajar yang sehat dan positif. MBG juga berpotensi membentuk ulang relasi pedagogis di sekolah. Aktivitas makan bersama menciptakan momen non-formal yang mempertemukan siswa dan guru dalam suasana yang lebih setara dan humanis. Interaksi semacam ini memperkuat rasa aman psikologis (psychological safety) yang menjadi pondasi penting bagi pembelajaran mendalam.
“Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Toni.
Pernyataan Musni sejalan dengan Kepala Badan Standar, Kurikulum , dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Toni Toharudin. Menurut Toni, Program MBG yang digagas pemerintah menjadi pondasi baru dalam menciptakan pendidikan bermutu di Indonesia.
Toni menjelaskan, MBG tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada budaya sekolah. Praktik makan bersama menciptakan ruang interaksi sosial yang lebih inklusif dan memperkuat kebersamaan diantara siswa.
“Kegiatan makan bersama menjadi sarana pembelajaran karakter yang alami. Siswa belajar disiplin, menjaga kebersihan, dan menghargai makanan. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus melalui pendekatan formal, tetapi dapat tumbuh melalui pengalaman keseharian yang dirancang secara bermakna,” tegas Toni.
Pengalaman sosial ini menjadi penting untuk membangun empati, kolaborasi, dan tanggung jawab sosial. MBG membuka peluang bagi sekolah untuk membangun budaya belajar yang sehat dan positif. MBG juga berpotensi membentuk ulang relasi pedagogis di sekolah. Aktivitas makan bersama menciptakan momen non-formal yang mempertemukan siswa dan guru dalam suasana yang lebih setara dan humanis. Interaksi semacam ini memperkuat rasa aman psikologis (psychological safety) yang menjadi pondasi penting bagi pembelajaran mendalam.
“Ketika siswa merasa dihargai dan terhubung secara sosial, mereka cenderung lebih berani bertanya, bereksplorasi, dan terlibat aktif dalam proses belajar,” kata Toni.
Lihat Juga :