Dulu Wartawan Kini Dekan, Prof Eighty Usung Konsep BRIGHT Pimpin Fakultas Kedokteran Unair
Rabu, 22 April 2026 - 13:00 WIB
loading...
A
A
A
Rutinitas ini berjalan bertahun-tahun. Hingga kemudian, peran ini bertambah karena harus sekolah konsultan uroginekologi rekonstruksi di FK Universitas Indonesia/RSCM pada 2011-2013, dan menjadi mahasiswa program Doktor yang berhasil membuatnya menyandang gelar Doktor pada 2020.
Perjalanan dosennya menempuh dunia baru saat diminta menjadi Ketua Humas di FK Unair pada 2015-2020. Rekam jejak di dunia jurnalistik membuatnya menikmati tugas tersebut. Dan ini berlanjut dengan tugasnya sebagai Staf Khusus Dekanat pada masa Covid kurun 2020-2023.
Masa Covid tidak memungkinkan Prof Eighty melakukan rutinitas seperti biasanya. Ada pembatasan praktik dan pendidikan. Tapi ini tak membuatnya kehilangan kreativitas. "Saat Covid ini justru banyak publikasi dan inovasi bersama tim. Termasuk membuat berbagai manekin pembelajaran untuk PPDS Obgin. Mulai manekin untuk robekan jalan rahim, bedah sesar hingga pengangkatan rahim yang dibuat bersama dr Riska Wahyuningtyas SpOG, dr Citra Aulia SpOG, dan dr Dara SpOG.
Masa "diam" di era COVID ternyata juga memungkinkan Prof Eighty untuk menyiapkan persyaratan pengajuan Guru Besar atau Profesor. Pada 2023 ia dikukuhkan sebagai Guru besar di bidang Uroginekologi Rekonstruksi, Stem Cell dan Gangguan Fungsi Seksual Perempuan. Ia menjadi guru besar termuda di dunia Obgin di Indonesia.
Juga guru besar perempuan pertama di bidang Uroginekologi Rekonstruksi. Pidato pengukuhannya tentang Stem Cell atau Sel Punca di bidang Uroginekologi Rekonstruksi atau Gangguan Dasar Panggul. Ini sesuai dengan penelitian disertasinya saat S3 yang melakukan uji pemanfaatan sel punca untuk tata laksana fistula vesicovagina.
Pidato pengukuhan ini mendapat perhatian dan dampak luas. Karena kemudian banyak yang menyadari bahwa kesehatan perempuan bukan hanya tentang kehamilan dan melahirkan. Tapi juga pentingnya menjaga kesehatan dasar panggul agar tidak terjadi rahim turun, gangguan berkemih, gangguan buang air besar dan buang angin serta gangguan fungsi seksual.
Termasuk juga mengenali gejala awal, melakukan penanganan yang sesuai serta memanfaatkan kemajuan teknologi untuk penanganannya termasuk pemanfaatan sel punca.
Humas, Manekin, dan Stem Cell
Perjalanan dosennya menempuh dunia baru saat diminta menjadi Ketua Humas di FK Unair pada 2015-2020. Rekam jejak di dunia jurnalistik membuatnya menikmati tugas tersebut. Dan ini berlanjut dengan tugasnya sebagai Staf Khusus Dekanat pada masa Covid kurun 2020-2023.
Masa Covid tidak memungkinkan Prof Eighty melakukan rutinitas seperti biasanya. Ada pembatasan praktik dan pendidikan. Tapi ini tak membuatnya kehilangan kreativitas. "Saat Covid ini justru banyak publikasi dan inovasi bersama tim. Termasuk membuat berbagai manekin pembelajaran untuk PPDS Obgin. Mulai manekin untuk robekan jalan rahim, bedah sesar hingga pengangkatan rahim yang dibuat bersama dr Riska Wahyuningtyas SpOG, dr Citra Aulia SpOG, dan dr Dara SpOG.
Masa "diam" di era COVID ternyata juga memungkinkan Prof Eighty untuk menyiapkan persyaratan pengajuan Guru Besar atau Profesor. Pada 2023 ia dikukuhkan sebagai Guru besar di bidang Uroginekologi Rekonstruksi, Stem Cell dan Gangguan Fungsi Seksual Perempuan. Ia menjadi guru besar termuda di dunia Obgin di Indonesia.
Juga guru besar perempuan pertama di bidang Uroginekologi Rekonstruksi. Pidato pengukuhannya tentang Stem Cell atau Sel Punca di bidang Uroginekologi Rekonstruksi atau Gangguan Dasar Panggul. Ini sesuai dengan penelitian disertasinya saat S3 yang melakukan uji pemanfaatan sel punca untuk tata laksana fistula vesicovagina.
Pidato pengukuhan ini mendapat perhatian dan dampak luas. Karena kemudian banyak yang menyadari bahwa kesehatan perempuan bukan hanya tentang kehamilan dan melahirkan. Tapi juga pentingnya menjaga kesehatan dasar panggul agar tidak terjadi rahim turun, gangguan berkemih, gangguan buang air besar dan buang angin serta gangguan fungsi seksual.
Termasuk juga mengenali gejala awal, melakukan penanganan yang sesuai serta memanfaatkan kemajuan teknologi untuk penanganannya termasuk pemanfaatan sel punca.
(nnz)
Lihat Juga :