Dulu Wartawan Kini Dekan, Prof Eighty Usung Konsep BRIGHT Pimpin Fakultas Kedokteran Unair
Rabu, 22 April 2026 - 13:00 WIB
loading...
A
A
A
Hal menarik lainnya, ia aktif dalam penelitian ilmiah sejak mahasiswa, juara Pimnas, aktif dalam dunia organisasi dan menjadi wartawan di dua media ternama ini. Sebagai mahasiswa, saat itu ia tak bisa menolak. Dan akhirnya menjadi staf dosen sekaligus menjalani program PPDS Obstetri dan Ginekologi.
Menjadi pemimpin perempuan bukan sekadar kebanggaan. Tapi juga sebuah amanah yang harus dilakukan dengan tanggung jawab dan diselesaikan dengan baik.
Pada 2023, Prof Eighty mendapatkan tugas sebagai Wakil Dekan II di Fakultas Vokasi. Kaget. Karena harus mengemban jabatan struktural bukan di rumah sendiri. Tapi justru ini menjadi tantangan. "Seorang pemimpin harus bisa beradaptasi di mana pun tempatnya," ungkap ibu dari Nawwaf, Nabil, dan Nafis ini.
Saat ini, sejak 1 September 2025, ia menjadi pimpinan nomer satu di Fakultas Kedokteran Unair Kembali ke rumah yang sudah membesarkannya.
Dalam proses pendidikan, ia ingin mewujudkan FK Unair sebagai Fakultas Kedokteran yang dapat menghasilkan dokter bintang tujuh. Yakni dokter sebagai penyedia layanan kesehatan, pengambil keputusan, komunikator, pemimpin masyarakat, manajer, pembelajar seumur hidup, dan peneliti, yang mempunyai nilai iman dan akhlak baik.
Dalam ruang besar, konsep BRIGHT yang diusungnya, diharapkan mampu mewujudkan visi dan misi Fakultas Kedokteran Unair serta mendukung Visi dan Misi Unair. Yaitu Menjadi Fakultas Kedokteran yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, entrepreneurship serta humaniora berdasarkan moral agama.
Menjadi dosen yang sekaligus dokter obgyn menjadi tantangan tersendiri. Setelah lulus sejak 2008, ia pun mulai praktik dan mengabdikan diri di Fakultas Kedokteran. "Pagi sampai siang bersama mahasiswa dan PPDS. Sore hingga malam ganti bersama pasien dan ibu hamil," cerita Prof Eighty.
Bukan hal yang mudah. Apalagi saat pasien mulai semakin banyak. Di sisi lain, peran sebagai pendamping suami dan ibu 3 orang putra, juga menuntut kehadirannya.
"Supaya tidak kehilangan momen, saat anak-anak masih kecil, saya sering mengajak mereka bertiga ke RS. Menemani saya menolong persalinan atau operasi. Meskipun kadang hanya menunggu di mobil atau di kantin. Ini sekaligus mengajarkan mereka bahwa dokter adalah tugas mulia. Kehadiran dan ilmunya ditunggu oleh pasien, " jelas istri dr Abdul Haris SpBS, MTrOpsla ini.
Pemimpin Perempuan
Menjadi pemimpin perempuan bukan sekadar kebanggaan. Tapi juga sebuah amanah yang harus dilakukan dengan tanggung jawab dan diselesaikan dengan baik.
Pada 2023, Prof Eighty mendapatkan tugas sebagai Wakil Dekan II di Fakultas Vokasi. Kaget. Karena harus mengemban jabatan struktural bukan di rumah sendiri. Tapi justru ini menjadi tantangan. "Seorang pemimpin harus bisa beradaptasi di mana pun tempatnya," ungkap ibu dari Nawwaf, Nabil, dan Nafis ini.
Saat ini, sejak 1 September 2025, ia menjadi pimpinan nomer satu di Fakultas Kedokteran Unair Kembali ke rumah yang sudah membesarkannya.
Dalam proses pendidikan, ia ingin mewujudkan FK Unair sebagai Fakultas Kedokteran yang dapat menghasilkan dokter bintang tujuh. Yakni dokter sebagai penyedia layanan kesehatan, pengambil keputusan, komunikator, pemimpin masyarakat, manajer, pembelajar seumur hidup, dan peneliti, yang mempunyai nilai iman dan akhlak baik.
Dalam ruang besar, konsep BRIGHT yang diusungnya, diharapkan mampu mewujudkan visi dan misi Fakultas Kedokteran Unair serta mendukung Visi dan Misi Unair. Yaitu Menjadi Fakultas Kedokteran yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, entrepreneurship serta humaniora berdasarkan moral agama.
Dosen Inovasi
Menjadi dosen yang sekaligus dokter obgyn menjadi tantangan tersendiri. Setelah lulus sejak 2008, ia pun mulai praktik dan mengabdikan diri di Fakultas Kedokteran. "Pagi sampai siang bersama mahasiswa dan PPDS. Sore hingga malam ganti bersama pasien dan ibu hamil," cerita Prof Eighty.
Bukan hal yang mudah. Apalagi saat pasien mulai semakin banyak. Di sisi lain, peran sebagai pendamping suami dan ibu 3 orang putra, juga menuntut kehadirannya.
"Supaya tidak kehilangan momen, saat anak-anak masih kecil, saya sering mengajak mereka bertiga ke RS. Menemani saya menolong persalinan atau operasi. Meskipun kadang hanya menunggu di mobil atau di kantin. Ini sekaligus mengajarkan mereka bahwa dokter adalah tugas mulia. Kehadiran dan ilmunya ditunggu oleh pasien, " jelas istri dr Abdul Haris SpBS, MTrOpsla ini.
Lihat Juga :