Anak Bukan Malas, Ini Penyebab Sebenarnya Mereka Kehilangan Semangat Belajar
Senin, 04 Mei 2026 - 14:00 WIB
loading...
Banyak perilaku anak yang kerap disalahartikan sebagai kemalasan sebenarnya merupakan tanda kelelahan sistem saraf. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Data global dan nasional menunjukkan bahwa beban pendidikan saat ini telah mencapai titik jenuh. Laporan dari WHO Europe tahun 2024 mengungkap tekanan sekolah meningkat drastis, di mana 63% remaja perempuan merasa tertekan oleh tugas sekolah.
Di Indonesia, tantangan ini semakin kompleks, terutama bagi anak-anak neurodivergent. Berdasarkan data UNICEF tahun 2023, sekitar 3,3% anak di Indonesia atau sekitar 2,6 juta anak termasuk dalam kategori neurodivergent, seperti autism, ADHD, dan dyslexia.
Sayangnya, sistem pendidikan yang ada masih sering memaksa anak untuk “cocok” ke dalam satu standar yang sama. Dampaknya cukup serius, lebih dari 80% orang tua dengan anak neurodivergent melaporkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang tinggi akibat kurangnya lingkungan yang suportif.
Menurut Ries Sansani, Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds, banyak perilaku anak yang kerap disalahartikan sebagai kemalasan sebenarnya merupakan tanda kelelahan sistem saraf.
"Anak bukan tidak mau belajar, melainkan tubuh dan otaknya sedang berada dalam kondisi tidak siap atau mengalami disregulasi," terangnya,melalui siaran pers, Senin (4/5/2026).
Pendekatan yang diterapkan di Atelier of Minds berfokus pada prinsip matching environment, yaitu menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan sensorik anak agar mereka dapat berkembang secara optimal.
Pendekatan konvensional yang mengutamakan koreksi perilaku dinilai kurang efektif. Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist dari Agape Psychology Singapore sekaligus penasihat strategis Atelier of Minds, menekankan pentingnya perspektif sains otak melalui workshop Neuroscience of Resilience.
"Anak tidak dapat belajar secara optimal jika berada dalam kondisi “otak bawah” atau mode bertahan hidup seperti melawan, lari, atau membeku," katanya.
Jeremy menambahkan bahwa pendekatan berbasis neuroplastisitas melalui siklus Regulate-Relate-Reflect menjadi kunci. Proses ini dimulai dengan menenangkan tubuh anak (regulate), membangun koneksi emosional (relate), dan kemudian masuk ke tahap pembelajaran atau refleksi (reflect). Ia menegaskan bahwa pendidikan tanpa rasa aman hanyalah investasi yang sia-sia.
Sebagai pusat student care dan enrichment inklusif di Jakarta Selatan, Atelier of Minds hadir untuk menjembatani kebutuhan klinis dengan realitas sekolah sehari-hari.
Berbagai program ditawarkan, mulai dari Atelier Minis untuk usia 2–5 tahun, Student Care untuk usia 6–12 tahun, hingga kegiatan ekstrakurikuler seperti coding, art therapy, angklung, dan gym. Seluruh program berfokus pada pembangunan identitas berbasis kekuatan atau strength-based, bukan sekadar memperbaiki kekurangan.
Pendekatan brain-body parenting yang diusung juga mengajak orang tua untuk mengubah pola pikir, dari sekadar mengontrol perilaku menjadi mendukung kerja otak anak.
Langkah sederhana seperti memberikan waktu transisi setelah sekolah, mengurangi stimulasi berlebih, serta membangun rutinitas yang konsisten menjadi upaya penting dalam mencegah burnout sejak dini.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, apakah sekolah telah menjadi tempat yang aman bagi semua jenis otak. Keberhasilan pendidikan tidak lagi semata diukur dari hasil akademik, melainkan dari kemampuan anak dalam mengelola emosi, membangun rasa percaya diri, serta mengembangkan ketangguhan sesuai dengan ritme unik masing-masing.
Di Indonesia, tantangan ini semakin kompleks, terutama bagi anak-anak neurodivergent. Berdasarkan data UNICEF tahun 2023, sekitar 3,3% anak di Indonesia atau sekitar 2,6 juta anak termasuk dalam kategori neurodivergent, seperti autism, ADHD, dan dyslexia.
Sayangnya, sistem pendidikan yang ada masih sering memaksa anak untuk “cocok” ke dalam satu standar yang sama. Dampaknya cukup serius, lebih dari 80% orang tua dengan anak neurodivergent melaporkan tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang tinggi akibat kurangnya lingkungan yang suportif.
Menurut Ries Sansani, Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds, banyak perilaku anak yang kerap disalahartikan sebagai kemalasan sebenarnya merupakan tanda kelelahan sistem saraf.
"Anak bukan tidak mau belajar, melainkan tubuh dan otaknya sedang berada dalam kondisi tidak siap atau mengalami disregulasi," terangnya,melalui siaran pers, Senin (4/5/2026).
Pendekatan yang diterapkan di Atelier of Minds berfokus pada prinsip matching environment, yaitu menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan sensorik anak agar mereka dapat berkembang secara optimal.
Pendekatan konvensional yang mengutamakan koreksi perilaku dinilai kurang efektif. Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist dari Agape Psychology Singapore sekaligus penasihat strategis Atelier of Minds, menekankan pentingnya perspektif sains otak melalui workshop Neuroscience of Resilience.
"Anak tidak dapat belajar secara optimal jika berada dalam kondisi “otak bawah” atau mode bertahan hidup seperti melawan, lari, atau membeku," katanya.
Jeremy menambahkan bahwa pendekatan berbasis neuroplastisitas melalui siklus Regulate-Relate-Reflect menjadi kunci. Proses ini dimulai dengan menenangkan tubuh anak (regulate), membangun koneksi emosional (relate), dan kemudian masuk ke tahap pembelajaran atau refleksi (reflect). Ia menegaskan bahwa pendidikan tanpa rasa aman hanyalah investasi yang sia-sia.
Sebagai pusat student care dan enrichment inklusif di Jakarta Selatan, Atelier of Minds hadir untuk menjembatani kebutuhan klinis dengan realitas sekolah sehari-hari.
Berbagai program ditawarkan, mulai dari Atelier Minis untuk usia 2–5 tahun, Student Care untuk usia 6–12 tahun, hingga kegiatan ekstrakurikuler seperti coding, art therapy, angklung, dan gym. Seluruh program berfokus pada pembangunan identitas berbasis kekuatan atau strength-based, bukan sekadar memperbaiki kekurangan.
Pendekatan brain-body parenting yang diusung juga mengajak orang tua untuk mengubah pola pikir, dari sekadar mengontrol perilaku menjadi mendukung kerja otak anak.
Langkah sederhana seperti memberikan waktu transisi setelah sekolah, mengurangi stimulasi berlebih, serta membangun rutinitas yang konsisten menjadi upaya penting dalam mencegah burnout sejak dini.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, apakah sekolah telah menjadi tempat yang aman bagi semua jenis otak. Keberhasilan pendidikan tidak lagi semata diukur dari hasil akademik, melainkan dari kemampuan anak dalam mengelola emosi, membangun rasa percaya diri, serta mengembangkan ketangguhan sesuai dengan ritme unik masing-masing.
(nnz)
Lihat Juga :