Kisah Launa Silky, Wisudawan Terbaik Magister Unpad dengan Deretan Publikasi Jurnal Q1
Senin, 11 Mei 2026 - 20:30 WIB
loading...
A
A
A
Meski demikian, perjalanan menjalani program fast track tidak selalu mudah. Launa harus beradaptasi cepat dari jenjang sarjana menuju magister sambil menjaga progres penelitiannya tetap berjalan sesuai target. Salah satu tantangan terberat muncul saat meneliti pengembangan material Molecularly Imprinted Polymers untuk sensor HbA1c sebagai biomarker diabetes.
Baca juga: Wisuda ITS ke-133, Dalang Muda Penerima KIP Kuliah Jadi Wisudawan Terbaik
Ia mengaku eksperimen yang dilakukan harus diulang berkali-kali karena material yang disintesis belum mampu memberikan respons sensor sesuai harapan. Dari pengalaman tersebut, Launa belajar bahwa penelitian membutuhkan proses panjang, evaluasi, dan ketekunan tinggi.
Selain aktif melakukan riset, Launa juga sukses menerbitkan artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi Q1. Menurutnya, proses publikasi dimulai dari menentukan topik penelitian yang relevan dan memiliki unsur kebaruan. Tantangan terbesar dalam publikasi ilmiah adalah memastikan data penelitian kuat dan konsisten, termasuk saat menghadapi revisi dari reviewer yang membutuhkan argumentasi berbasis data.
“Kadang kami juga perlu mengecek ulang hasil penelitian atau menambahkan data analisis tertentu agar penjelasannya lebih lengkap,” jelasnya.
Launa juga menilai dukungan Universitas Padjadjaran dalam bentuk fasilitas riset dan bantuan publikasi ilmiah sangat membantu selama proses studinya. Ia berharap ke depan kampus dapat terus meningkatkan fasilitas penelitian, akses jurnal internasional, ruang belajar nyaman, hingga pelatihan penulisan artikel ilmiah dan konferensi akademik bagi mahasiswa.
Di akhir, Launa berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak takut mencoba hal baru dan tetap konsisten menjalani proses belajar tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.
Baca juga: Wisuda ITS ke-133, Dalang Muda Penerima KIP Kuliah Jadi Wisudawan Terbaik
Ia mengaku eksperimen yang dilakukan harus diulang berkali-kali karena material yang disintesis belum mampu memberikan respons sensor sesuai harapan. Dari pengalaman tersebut, Launa belajar bahwa penelitian membutuhkan proses panjang, evaluasi, dan ketekunan tinggi.
Selain aktif melakukan riset, Launa juga sukses menerbitkan artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi Q1. Menurutnya, proses publikasi dimulai dari menentukan topik penelitian yang relevan dan memiliki unsur kebaruan. Tantangan terbesar dalam publikasi ilmiah adalah memastikan data penelitian kuat dan konsisten, termasuk saat menghadapi revisi dari reviewer yang membutuhkan argumentasi berbasis data.
“Kadang kami juga perlu mengecek ulang hasil penelitian atau menambahkan data analisis tertentu agar penjelasannya lebih lengkap,” jelasnya.
Launa juga menilai dukungan Universitas Padjadjaran dalam bentuk fasilitas riset dan bantuan publikasi ilmiah sangat membantu selama proses studinya. Ia berharap ke depan kampus dapat terus meningkatkan fasilitas penelitian, akses jurnal internasional, ruang belajar nyaman, hingga pelatihan penulisan artikel ilmiah dan konferensi akademik bagi mahasiswa.
Di akhir, Launa berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak takut mencoba hal baru dan tetap konsisten menjalani proses belajar tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.
Lihat Juga :