4.700 Perpustakaan Sekolah Direvitalisasi, Kemendikdasmen Dorong Literasi
Selasa, 12 Mei 2026 - 19:43 WIB
loading...
Kemendikdasmen akan merevitalisasi sebanyak 4.700 perpustakaan sekolah melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Foto/SINDOnews.
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ( Kemendikdasmen ) akan merevitalisasi sebanyak 4.700 perpustakaan sekolah melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan. Langkah ini menjadi bagian penting dalam penguatan literasi dan mendukung penerapan pembelajaran mendalam atau deep learning di sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin mengatakan, perhatian pemerintah terhadap pengembangan perpustakaan sekolah kini semakin besar meski pembangunan ruang praktik masih mendominasi program revitalisasi pendidikan.
Baca juga: Siswi SDN Cikini 01 Antusias Dapat Buku Bacaan Baru dari MNC Peduli: Petualangan Baru
“Berarti ada 4.700 perpustakaan yang dibangun. Jadi di samping memang masih lebih banyak ruang praktik, kalau ruang praktik lebih dari 7.500. Tapi karena ruang praktik itu satu sekolah bisa dua atau tiga, jadi memang agak berbeda dibanding perpustakaan,” ujar Tatang, saatBincang Santai Dampak Nyata Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Penguatan Literasi melalui Sarana Perpustakaan yang Nyaman, di Perpustakaan Nasional Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, perpustakaan memiliki peran strategis dalam mendukung model pembelajaran berbasis proyek atau project based learning. Dalam proses tersebut, siswa membutuhkan ruang diskusi dan referensi sebelum masuk ke tahap praktik di laboratorium atau ruang praktik sekolah.
Baca juga: Soroti Layanan Digital Perpustakaan, Bonnie PDIP: Sering Susah Diakses
“Dalam proses mempraktikkan pembelajaran mendalam dengan adanya project based learning, siswa itu ada waktunya untuk bersama mendiskusikan topik yang akan mereka pilih untuk sebuah proyek. Dan itu tentu membutuhkan referensi-referensi, sehingga perpustakaan menjadi penting,” jelasnya.
Tatang menambahkan, keberadaan perpustakaan di SMK bukan hanya untuk menyediakan buku teks, tetapi juga memperkuat literasi nonteks guna membangun imajinasi dan kreativitas siswa.
“Nanti mungkin juga perlu ada penyediaan buku bacaan nonteks. Tidak hanya lulusan SMK itu skillful di bidangnya, tapi juga harus punya literasi dalam arti nonteks. Karena ini bagian dari bagaimana mereka membangun imajinasi sehingga refleksinya nanti lebih kuat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz mengungkapkan bahwa dari total 219 ribu perpustakaan yang terdata di Indonesia, sekitar 78 persen di antaranya merupakan perpustakaan sekolah.
Namun, ia menyoroti masih banyak persoalan terkait validitas data perpustakaan sekolah di lapangan. Berdasarkan evaluasi Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), banyak sekolah yang tercatat memiliki perpustakaan tetapi tidak dapat mengirimkan data saat proses pendataan dilakukan.
Aminudin juga menekankan perlunya perubahan paradigma terhadap fungsi perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan harus menjadi ruang pengembangan kreativitas dan pusat lahirnya ide-ide baru bagi siswa.
“Perpustakaan harus dijadikan ruang untuk pengembangan kreativitas, pengembangan ilmu pengetahuan, dan untuk menumbuhkan pola pikir baru tentang kreativitas-kreativitas baru itu. Karena sumber-sumber belajar ada di perpustakaan,” pungkasnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin mengatakan, perhatian pemerintah terhadap pengembangan perpustakaan sekolah kini semakin besar meski pembangunan ruang praktik masih mendominasi program revitalisasi pendidikan.
Baca juga: Siswi SDN Cikini 01 Antusias Dapat Buku Bacaan Baru dari MNC Peduli: Petualangan Baru
“Berarti ada 4.700 perpustakaan yang dibangun. Jadi di samping memang masih lebih banyak ruang praktik, kalau ruang praktik lebih dari 7.500. Tapi karena ruang praktik itu satu sekolah bisa dua atau tiga, jadi memang agak berbeda dibanding perpustakaan,” ujar Tatang, saatBincang Santai Dampak Nyata Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Penguatan Literasi melalui Sarana Perpustakaan yang Nyaman, di Perpustakaan Nasional Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, perpustakaan memiliki peran strategis dalam mendukung model pembelajaran berbasis proyek atau project based learning. Dalam proses tersebut, siswa membutuhkan ruang diskusi dan referensi sebelum masuk ke tahap praktik di laboratorium atau ruang praktik sekolah.
Baca juga: Soroti Layanan Digital Perpustakaan, Bonnie PDIP: Sering Susah Diakses
“Dalam proses mempraktikkan pembelajaran mendalam dengan adanya project based learning, siswa itu ada waktunya untuk bersama mendiskusikan topik yang akan mereka pilih untuk sebuah proyek. Dan itu tentu membutuhkan referensi-referensi, sehingga perpustakaan menjadi penting,” jelasnya.
Tatang menambahkan, keberadaan perpustakaan di SMK bukan hanya untuk menyediakan buku teks, tetapi juga memperkuat literasi nonteks guna membangun imajinasi dan kreativitas siswa.
“Nanti mungkin juga perlu ada penyediaan buku bacaan nonteks. Tidak hanya lulusan SMK itu skillful di bidangnya, tapi juga harus punya literasi dalam arti nonteks. Karena ini bagian dari bagaimana mereka membangun imajinasi sehingga refleksinya nanti lebih kuat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, E. Aminudin Aziz mengungkapkan bahwa dari total 219 ribu perpustakaan yang terdata di Indonesia, sekitar 78 persen di antaranya merupakan perpustakaan sekolah.
Namun, ia menyoroti masih banyak persoalan terkait validitas data perpustakaan sekolah di lapangan. Berdasarkan evaluasi Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), banyak sekolah yang tercatat memiliki perpustakaan tetapi tidak dapat mengirimkan data saat proses pendataan dilakukan.
Aminudin juga menekankan perlunya perubahan paradigma terhadap fungsi perpustakaan. Menurutnya, perpustakaan harus menjadi ruang pengembangan kreativitas dan pusat lahirnya ide-ide baru bagi siswa.
“Perpustakaan harus dijadikan ruang untuk pengembangan kreativitas, pengembangan ilmu pengetahuan, dan untuk menumbuhkan pola pikir baru tentang kreativitas-kreativitas baru itu. Karena sumber-sumber belajar ada di perpustakaan,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :