Cerita Nadya Jadi Lulusan Tercepat UGM Berkat Teliti Tren Live Commerce
Sabtu, 23 Mei 2026 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Pengalaman tersebut membuat Nadya semakin memahami tantangan yang dihadapi penyandang autisme serta pentingnya dukungan sosial dan aksesibilitas bagi mereka. Ia mengaku sangat terinspirasi oleh dedikasi para guru yang tetap bertahan mendampingi para siswa meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
“Aku sangat kagum terhadap sama di sana yang walaupun pekerjaannya sangat menantang, terlalu banyak bekerja, underpaid, dan kadang berbahaya, mereka tetap di sana karena besar hati mereka,” ungkapnya.
Selain itu, Nadya juga pernah menjalani magang di Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Dalam program tersebut, ia meneliti kondisi psikologis awak kapal dan mendengarkan langsung berbagai keresahan yang mereka alami selama bekerja di laut dalam waktu lama.
“Di situ aku menemukan tantangan tersembunyi yang awak kapal hadapi. Meskipun mereka terlihat kuat secara jasmani dan mental, ternyata mereka juga punya ketakutan, kegelisahan, dan kesedihan yang jarang terlihat,” katanya.
Tak hanya aktif dalam akademik dan pengalaman profesional, Nadya juga mempersiapkan langkah selanjutnya untuk melanjutkan studi. Di tengah proses pengerjaan skripsi, ia mengaku mendaftar ke berbagai program magister sebagai bentuk motivasi untuk terus berkembang.
Usahanya tersebut membuahkan hasil setelah dirinya diterima pada program Master of Educational Psychology di Victoria University of Wellington.
Bagi Nadya, kehidupan kampus telah memberinya ruang untuk bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, suku, hingga disiplin ilmu yang berbeda. Pengalaman itu membuatnya belajar menjadi pribadi yang lebih terbuka, empatik, dan memahami banyak perspektif baru.
“Aku dulu selalu merasa nyaman hanya dengan orang-orang yang mirip sama aku. Tapi ternyata ketemu banyak orang dari berbagai latar belakang benar-benar mengubah cara pandang aku jadi lebih considerate, empathetic, dan open minded,” tuturnya.
Nadya berpesan kepada mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada bidang studinya saja, tetapi juga berani mengeksplorasi banyak pengalaman baru selama masa perkuliahan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental dan memberi waktu istirahat bagi diri sendiri di tengah berbagai tuntutan akademik.
“Istirahat itu lebih penting dari yang kalian bayangkan. Otak kita bekerja secara lebih baik dan lebih jelas kalau udah istirahat. Jadi ketika lagi stres karena revisi atau banyak tanggung jawab, coba beri dirimu waktu menenangkan diri. Itu bukan berhenti, tapi mulai ulang atau restart,” pungkasnya.
“Aku sangat kagum terhadap sama di sana yang walaupun pekerjaannya sangat menantang, terlalu banyak bekerja, underpaid, dan kadang berbahaya, mereka tetap di sana karena besar hati mereka,” ungkapnya.
Selain itu, Nadya juga pernah menjalani magang di Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Dalam program tersebut, ia meneliti kondisi psikologis awak kapal dan mendengarkan langsung berbagai keresahan yang mereka alami selama bekerja di laut dalam waktu lama.
“Di situ aku menemukan tantangan tersembunyi yang awak kapal hadapi. Meskipun mereka terlihat kuat secara jasmani dan mental, ternyata mereka juga punya ketakutan, kegelisahan, dan kesedihan yang jarang terlihat,” katanya.
Tak hanya aktif dalam akademik dan pengalaman profesional, Nadya juga mempersiapkan langkah selanjutnya untuk melanjutkan studi. Di tengah proses pengerjaan skripsi, ia mengaku mendaftar ke berbagai program magister sebagai bentuk motivasi untuk terus berkembang.
Usahanya tersebut membuahkan hasil setelah dirinya diterima pada program Master of Educational Psychology di Victoria University of Wellington.
Pesan Nadya untuk Mahasiswa soal Mental Health dan Pengalaman Kuliah
Bagi Nadya, kehidupan kampus telah memberinya ruang untuk bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, suku, hingga disiplin ilmu yang berbeda. Pengalaman itu membuatnya belajar menjadi pribadi yang lebih terbuka, empatik, dan memahami banyak perspektif baru.
“Aku dulu selalu merasa nyaman hanya dengan orang-orang yang mirip sama aku. Tapi ternyata ketemu banyak orang dari berbagai latar belakang benar-benar mengubah cara pandang aku jadi lebih considerate, empathetic, dan open minded,” tuturnya.
Nadya berpesan kepada mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada bidang studinya saja, tetapi juga berani mengeksplorasi banyak pengalaman baru selama masa perkuliahan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental dan memberi waktu istirahat bagi diri sendiri di tengah berbagai tuntutan akademik.
“Istirahat itu lebih penting dari yang kalian bayangkan. Otak kita bekerja secara lebih baik dan lebih jelas kalau udah istirahat. Jadi ketika lagi stres karena revisi atau banyak tanggung jawab, coba beri dirimu waktu menenangkan diri. Itu bukan berhenti, tapi mulai ulang atau restart,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :