Cerita Nadya Jadi Lulusan Tercepat UGM Berkat Teliti Tren Live Commerce
Sabtu, 23 Mei 2026 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Ravidho, Pria Asal Riau Peraih Gelar Doktor Termuda dan Tercepat UGM
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh sosial berkontribusi terhadap perilaku compulsive buying. Sementara itu, kontrol diri tidak terbukti memperkuat maupun memperlemah hubungan tersebut, tetapi tetap memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku pembelian kompulsif.
“Yang menarik dari hasil penelitian saya, kontrol diri tetap dapat menjadi prediktor negatif terhadap perilaku compulsive buying secara langsung,” jelasnya.
Di balik keberhasilannya menyelesaikan studi lebih cepat, Nadya mengaku proses pengerjaan skripsi bukanlah perjalanan yang mudah. Ia menyebut revisi sebagai tantangan terbesar yang kerap membuat mahasiswa kehilangan motivasi untuk melanjutkan pengerjaan skripsi.
Menurutnya, banyak mahasiswa merasa lelah secara mental setelah menghadapi revisi berulang, hingga akhirnya merasa tidak percaya diri untuk kembali melakukan bimbingan. “Banyak teman-teman aku juga stuck karena setelah revisi mereka merasa capek duluan, self-esteemnya rendah, percaya dirinya kurang, dan akhirnya jadi malas lanjut lagi,” tuturnya.
Meski demikian, Nadya memilih untuk mengubah cara pandangnya terhadap proses revisi dan bimbingan. Alih-alih melihat revisi sebagai hambatan, ia justru menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berkembang. Ia juga berusaha membangun komunikasi yang aktif dengan dosen pembimbing agar memiliki timeline pengerjaan yang jelas.
“Aku mengganti perspektif aku dan mengatur ulang hambatan itu jadi sesuatu yang bisa membantu aku. Aku menganggap dosen itu pemandu yang membantu aku berkembang,” katanya.
Menurut Nadya, keberadaan tenggat waktu atau deadline menjadi faktor penting dalam menyelesaikan skripsi tepat waktu. Ia merasa salah satu alasan skripsi terasa sulit dikerjakan adalah karena tidak adanya timeline yang benar-benar mengikat mahasiswa.
“Salah satu alasan kenapa skripsi itu susah dikerjain karena rasanya selalu bisa ‘besok lagi’. Jadi punya deadline dan timeline itu penting banget supaya kita terus bergerak,” ujarnya.
Selama menjalani perkuliahan, Nadya juga aktif mengikuti berbagai program magang yang memperkaya pengalaman dan sudut pandangnya sebagai mahasiswa psikologi. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika magang di SLA Fredios, sekolah autisme lanjut di Seturan, Yogyakarta.
Di tempat tersebut, ia membantu aktivitas keseharian para siswa yang berusia antara 12 hingga 54 tahun untuk belajar hidup lebih mandiri melalui kegiatan sederhana seperti menyapu, bermain musik, hingga senam bersama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh sosial berkontribusi terhadap perilaku compulsive buying. Sementara itu, kontrol diri tidak terbukti memperkuat maupun memperlemah hubungan tersebut, tetapi tetap memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku pembelian kompulsif.
“Yang menarik dari hasil penelitian saya, kontrol diri tetap dapat menjadi prediktor negatif terhadap perilaku compulsive buying secara langsung,” jelasnya.
Kisah Nadya Menyelesaikan Skripsi dan Menghadapi Revisi
Di balik keberhasilannya menyelesaikan studi lebih cepat, Nadya mengaku proses pengerjaan skripsi bukanlah perjalanan yang mudah. Ia menyebut revisi sebagai tantangan terbesar yang kerap membuat mahasiswa kehilangan motivasi untuk melanjutkan pengerjaan skripsi.
Menurutnya, banyak mahasiswa merasa lelah secara mental setelah menghadapi revisi berulang, hingga akhirnya merasa tidak percaya diri untuk kembali melakukan bimbingan. “Banyak teman-teman aku juga stuck karena setelah revisi mereka merasa capek duluan, self-esteemnya rendah, percaya dirinya kurang, dan akhirnya jadi malas lanjut lagi,” tuturnya.
Meski demikian, Nadya memilih untuk mengubah cara pandangnya terhadap proses revisi dan bimbingan. Alih-alih melihat revisi sebagai hambatan, ia justru menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berkembang. Ia juga berusaha membangun komunikasi yang aktif dengan dosen pembimbing agar memiliki timeline pengerjaan yang jelas.
“Aku mengganti perspektif aku dan mengatur ulang hambatan itu jadi sesuatu yang bisa membantu aku. Aku menganggap dosen itu pemandu yang membantu aku berkembang,” katanya.
Menurut Nadya, keberadaan tenggat waktu atau deadline menjadi faktor penting dalam menyelesaikan skripsi tepat waktu. Ia merasa salah satu alasan skripsi terasa sulit dikerjakan adalah karena tidak adanya timeline yang benar-benar mengikat mahasiswa.
“Salah satu alasan kenapa skripsi itu susah dikerjain karena rasanya selalu bisa ‘besok lagi’. Jadi punya deadline dan timeline itu penting banget supaya kita terus bergerak,” ujarnya.
Pengalaman Magang Nadya dari Sekolah Autisme hingga KKP
Selama menjalani perkuliahan, Nadya juga aktif mengikuti berbagai program magang yang memperkaya pengalaman dan sudut pandangnya sebagai mahasiswa psikologi. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika magang di SLA Fredios, sekolah autisme lanjut di Seturan, Yogyakarta.
Di tempat tersebut, ia membantu aktivitas keseharian para siswa yang berusia antara 12 hingga 54 tahun untuk belajar hidup lebih mandiri melalui kegiatan sederhana seperti menyapu, bermain musik, hingga senam bersama.
Lihat Juga :