Jago STEAM, Tim SMPK 4 PENABUR Raih Prestasi di Kompetisi Internasional
Kamis, 11 Juni 2026 - 13:30 WIB
loading...
A
A
A
“Awalnya tim beranggotakan dua orang yaitu saya dan Jeslyn, lalu dipilih empat anggota terbaik di bidang STEAM untuk bergabung dengan skill yang saling melengkapi tentunya.” cerita Hanna.
“Kami memiliki fungsi dan tugas yang berbeda-beda dalam tim. Samantha dan Bertrand bertugas melakukan penelitian masalah, Celine penelitian rumus, Joshua penelitian mekanik, saya yang menjadi desainer dan editor, serta Jesyln yang melakukan penelitian masalah sekaligus desainer.” lanjut Hanna bercerita.
Untuk membangun chemistry yang baik dalam tim, Hanna dan teman-teman satu tim kerap kali melakukan kerja kelompok yang sudah dijadwalkan sekolah agar bisa mengerjakan proyek dengan baik. Selain itu, komunikasi juga terbangun lewat grup WhatsApp, dimana masing-masing anggota selalu membagikan informasi selama persiapan, seperti bahan-bahan dan masalah nyata yang relevan.
“Pembagian tugas masing-masing anggota yang adil dan kerja sama yang baik, menjadi kunci tim kami bisa tampil kompak.” ungkap Hanna.
Hanna menjelaskan alasan Ia dan teman-teman satu tim memilih memperdalam STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics).
“Alasannya karena di setiap barang yang kita lihat ada proses fisika dan biologi, seperti mobil yang bergerak hingga yang tak bisa dilihat kasat mata, contohnya proses terbentuknya energi. Lewat penguasaan STEAM banyak manfaat yang dapat dirasakan, misalnya kita jadi tahu bahwa microchip bisa membuat HP dan teknik dalam membangun jembatan.” tutur Hanna.
Hanna menambahkan bahwa setiap siswa harus mengubah konotasi kalau STEAM itu bidang yang susah untuk dipelajari, karena nyatanya semua hal yang ada di STEAM sekedar pemahaman dan konsep. Tidak perlu menghafal rumus, tapi dapat divisualisasikan seolah-olah melakukan kegiatan tersebut, seperti pernapasan, reaksi kimia, dan lain sebagainya.
“Kami memiliki fungsi dan tugas yang berbeda-beda dalam tim. Samantha dan Bertrand bertugas melakukan penelitian masalah, Celine penelitian rumus, Joshua penelitian mekanik, saya yang menjadi desainer dan editor, serta Jesyln yang melakukan penelitian masalah sekaligus desainer.” lanjut Hanna bercerita.
Untuk membangun chemistry yang baik dalam tim, Hanna dan teman-teman satu tim kerap kali melakukan kerja kelompok yang sudah dijadwalkan sekolah agar bisa mengerjakan proyek dengan baik. Selain itu, komunikasi juga terbangun lewat grup WhatsApp, dimana masing-masing anggota selalu membagikan informasi selama persiapan, seperti bahan-bahan dan masalah nyata yang relevan.
“Pembagian tugas masing-masing anggota yang adil dan kerja sama yang baik, menjadi kunci tim kami bisa tampil kompak.” ungkap Hanna.
Hanna menjelaskan alasan Ia dan teman-teman satu tim memilih memperdalam STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics).
“Alasannya karena di setiap barang yang kita lihat ada proses fisika dan biologi, seperti mobil yang bergerak hingga yang tak bisa dilihat kasat mata, contohnya proses terbentuknya energi. Lewat penguasaan STEAM banyak manfaat yang dapat dirasakan, misalnya kita jadi tahu bahwa microchip bisa membuat HP dan teknik dalam membangun jembatan.” tutur Hanna.
Hanna menambahkan bahwa setiap siswa harus mengubah konotasi kalau STEAM itu bidang yang susah untuk dipelajari, karena nyatanya semua hal yang ada di STEAM sekedar pemahaman dan konsep. Tidak perlu menghafal rumus, tapi dapat divisualisasikan seolah-olah melakukan kegiatan tersebut, seperti pernapasan, reaksi kimia, dan lain sebagainya.
(nnz)
Lihat Juga :