Hadapi Perubahan Dunia Kerja, Generasi Muda Perlu Dibekali Soft Skills Sejak Dini
Senin, 22 Juni 2026 - 15:19 WIB
loading...
A
A
A
“Ketika berbicara tentang masa depan anak, sebagian besar orang tua masih fokus pada satu pertanyaan yakni, bagaimana agar anak berprestasi secara akademik? Padahal dunia kerja hari ini berubah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya,” jelasnya.
Ia kemudian mengajak orang tua dan pendidik untuk mengubah sudut pandang. “Pertanyaan yang lebih relevan saat ini bukan hanya ‘Apakah anak saya pintar?’, tetapi ‘Apakah anak saya siap menghadapi perubahan?’ Karena kemampuan teknis dapat dipelajari kapan saja, tetapi kemampuan beradaptasi, bekerja sama, berkomunikasi, dan menghadapi ketidakpastian membutuhkan proses pembentukan yang panjang,” lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa sekolah dan perguruan tinggi memberikan bekal pengetahuan serta kompetensi akademik. Namun, terdapat kemampuan penting yang menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, yaitu soft skills.
Kemampuan seperti komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, manajemen diri, hingga kemampuan memecahkan masalah menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan seseorang dalam lingkungan profesional.
“Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang pintar. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu mengelola dirinya, bekerja dengan orang lain, dan menemukan solusi ketika menghadapi situasi yang tidak selalu memiliki jawaban pasti,”tambahnya.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pengalaman sehari-hari, interaksi sosial, serta pola pendampingan yang tepat.
Salah satu pendekatan yang dibahas dalam webinar adalah pentingnya pola mentoring dalam mendampingi anak.
Iamenjelaskan bahwa pola pendampingan tradisional sering kali membuat orang tua atau pendidik langsung memberikan solusi ketika anak menghadapi masalah. Padahal, dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, anak perlu dilatih untuk berpikir dan mengambil keputusan.
“Seorang mentor tidak selalu memberi jawaban. Mentor membantu anak berpikir. Mentor menciptakan ruang aman untuk mencoba, gagal, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Tujuannya bukan menciptakan anak yang selalu benar, tetapi anak yang mampu belajar dari kesalahan,” paparnya.
Ia kemudian mengajak orang tua dan pendidik untuk mengubah sudut pandang. “Pertanyaan yang lebih relevan saat ini bukan hanya ‘Apakah anak saya pintar?’, tetapi ‘Apakah anak saya siap menghadapi perubahan?’ Karena kemampuan teknis dapat dipelajari kapan saja, tetapi kemampuan beradaptasi, bekerja sama, berkomunikasi, dan menghadapi ketidakpastian membutuhkan proses pembentukan yang panjang,” lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa sekolah dan perguruan tinggi memberikan bekal pengetahuan serta kompetensi akademik. Namun, terdapat kemampuan penting yang menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, yaitu soft skills.
Kemampuan seperti komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, manajemen diri, hingga kemampuan memecahkan masalah menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan seseorang dalam lingkungan profesional.
“Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang pintar. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu mengelola dirinya, bekerja dengan orang lain, dan menemukan solusi ketika menghadapi situasi yang tidak selalu memiliki jawaban pasti,”tambahnya.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui pengalaman sehari-hari, interaksi sosial, serta pola pendampingan yang tepat.
Salah satu pendekatan yang dibahas dalam webinar adalah pentingnya pola mentoring dalam mendampingi anak.
Iamenjelaskan bahwa pola pendampingan tradisional sering kali membuat orang tua atau pendidik langsung memberikan solusi ketika anak menghadapi masalah. Padahal, dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks, anak perlu dilatih untuk berpikir dan mengambil keputusan.
“Seorang mentor tidak selalu memberi jawaban. Mentor membantu anak berpikir. Mentor menciptakan ruang aman untuk mencoba, gagal, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Tujuannya bukan menciptakan anak yang selalu benar, tetapi anak yang mampu belajar dari kesalahan,” paparnya.
Lihat Juga :