Museum ITB Diresmikan, Ruang Baru Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan
Minggu, 05 Juli 2026 - 08:31 WIB
loading...
A
A
A
Rektor ITB Prof Tatacipta Dirgantara melihat museum ini dengan tekanan yang berbeda. Ia tidak menempatkan museum terutama sebagai gedung, melainkan sebagai wadah pengetahuan.
“Hari ini tanggal 3 Juli 2026 kita meresmikan Museum ITB. Sebagaimana tadi disampaikan Pak Menteri, ini adalah museum yang bukan hanya sekadar gedung museum saja. Yang lebih penting itu kontennya. Jadi kita bisa melihat sejarah, kemudian belajar di dalamnya, dan juga melihat masa depan,” katanya.
Bagi Tatacipta, Museum ITB harus dapat ditemui oleh berbagai lapisan usia. Anak-anak harus bisa berinteraksi. Orang tua harus bisa belajar. Para senior harus bisa bernostalgia. Museum itu, dengan demikian, menjadi semacam ruang perjumpaan.
“Kita mendesain museum ini untuk semua kalangan. Anak-anak bisa interaktif, orang tua juga bisa belajar, mungkin senior-senior ingin bernostalgia. Jadi ini sebetulnya ruang pertemuan lintas generasi yang juga merupakan ruang belajar,” ujarnya.
Museum ITB tidak lahir dari logika proyek semata. Ia berangkat dari kegelisahan bahwa institusi besar sering kali memiliki arsip besar, tetapi tidak selalu memiliki ruang publik yang mampu menjahit arsip itu menjadi cerita utuh. Tatacipta menyebut banyak pihak membantu, baik dalam bentuk donasi maupun informasi.
Salah satu agenda yang disebutnya ialah pengarsipan dan digitalisasi dokumen-dokumen ITB yang tersimpan di Belanda. “Kita ingin mengarsipkan, mendigitalkan arsip-arsip yang ada di Belanda,” jelasnya.
Ia mencontohkan, ITB telah memperoleh salinan disertasi awal dari masa lama institusi itu. Juga jejak-jejak akademik yang menunjukkan betapa panjang perjalanan pendidikan tinggi teknik dan sains di Bandung.
“Hari ini tanggal 3 Juli 2026 kita meresmikan Museum ITB. Sebagaimana tadi disampaikan Pak Menteri, ini adalah museum yang bukan hanya sekadar gedung museum saja. Yang lebih penting itu kontennya. Jadi kita bisa melihat sejarah, kemudian belajar di dalamnya, dan juga melihat masa depan,” katanya.
Bagi Tatacipta, Museum ITB harus dapat ditemui oleh berbagai lapisan usia. Anak-anak harus bisa berinteraksi. Orang tua harus bisa belajar. Para senior harus bisa bernostalgia. Museum itu, dengan demikian, menjadi semacam ruang perjumpaan.
“Kita mendesain museum ini untuk semua kalangan. Anak-anak bisa interaktif, orang tua juga bisa belajar, mungkin senior-senior ingin bernostalgia. Jadi ini sebetulnya ruang pertemuan lintas generasi yang juga merupakan ruang belajar,” ujarnya.
Museum ITB tidak lahir dari logika proyek semata. Ia berangkat dari kegelisahan bahwa institusi besar sering kali memiliki arsip besar, tetapi tidak selalu memiliki ruang publik yang mampu menjahit arsip itu menjadi cerita utuh. Tatacipta menyebut banyak pihak membantu, baik dalam bentuk donasi maupun informasi.
Salah satu agenda yang disebutnya ialah pengarsipan dan digitalisasi dokumen-dokumen ITB yang tersimpan di Belanda. “Kita ingin mengarsipkan, mendigitalkan arsip-arsip yang ada di Belanda,” jelasnya.
Ia mencontohkan, ITB telah memperoleh salinan disertasi awal dari masa lama institusi itu. Juga jejak-jejak akademik yang menunjukkan betapa panjang perjalanan pendidikan tinggi teknik dan sains di Bandung.
Lihat Juga :