Cerita Mutiara, Anak Penjual Tahu Keliling yang Lolos ke ITB dan Raih KIP Kuliah
Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
Kabar kelulusan tersebut menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga. Mutiara mengaku tidak menyangka dapat diterima di ITB karena ketika mendaftar, ia hanya berusaha memberikan yang terbaik sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Saptono mengatakan bahwa sejak awal ia melihat potensi dan kemauan belajar yang besar dalam diri anaknya. Namun, keterbatasan penghasilan membuatnya belum mampu mengikutsertakan Mutiara dalam bimbingan belajar. Meski begitu, ia berupaya membelikan buku untuk belajar mandiri.
“Itikad dan kemauan Mutiara sangat kuat. Akhirnya, saya membelikannya buku panduan,” ujar Saptono.
Ia kerap melihat Mutiara belajar hingga malam. Ketika menemui materi yang belum dipahami, Mutiara berusaha mencari penjelasan melalui YouTube.
Di tengah kesibukannya belajar, Mutiara aktif dalam organisasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sekolah. Ia juga mengajar mengaji secara privat kepada anak-anak taman kanak-kanak setelah pulang sekolah.
Saptono mengatakan, pada Ramadan menjelang pengumuman seleksi, ia mengajak putrinya untuk terus berdoa dan memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan dengan sebaik-baiknya.
“Saya mengatakan kepada anak saya, ‘Manfaatkan malam Lailatulqadar dan mintalah petunjuk kepada Allah karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya’,” katanya.
Ketika pengumuman SNBP tiba, dan anaknya berhasil diterima di ITB. Saptono mengaku tidak mampu mengungkapkan kebahagiaannya.
“Saya hanya dapat mengucapkan syukur, lalu sujud syukur. Sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin, ketika Allah menentukan, ternyata dapat terjadi,” ujarnya.
Kebahagiaan tersebut sempat disertai kekhawatiran mengenai biaya pendidikan. Namun, Saptono memilih untuk terus berusaha dan meyakini bahwa akan ada jalan bagi pendidikan putrinya.
Mutiara kemudian memperoleh dukungan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Menurut Mutiara, dukungan tersebut sangat berarti karena membuatnya dapat lebih fokus belajar tanpa terus memikirkan biaya kuliah.
Belajar Mandiri lewat YouTube
Saptono mengatakan bahwa sejak awal ia melihat potensi dan kemauan belajar yang besar dalam diri anaknya. Namun, keterbatasan penghasilan membuatnya belum mampu mengikutsertakan Mutiara dalam bimbingan belajar. Meski begitu, ia berupaya membelikan buku untuk belajar mandiri.
“Itikad dan kemauan Mutiara sangat kuat. Akhirnya, saya membelikannya buku panduan,” ujar Saptono.
Ia kerap melihat Mutiara belajar hingga malam. Ketika menemui materi yang belum dipahami, Mutiara berusaha mencari penjelasan melalui YouTube.
Jadi Guru Mengaji Privat
Di tengah kesibukannya belajar, Mutiara aktif dalam organisasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di sekolah. Ia juga mengajar mengaji secara privat kepada anak-anak taman kanak-kanak setelah pulang sekolah.
Saptono mengatakan, pada Ramadan menjelang pengumuman seleksi, ia mengajak putrinya untuk terus berdoa dan memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan dengan sebaik-baiknya.
“Saya mengatakan kepada anak saya, ‘Manfaatkan malam Lailatulqadar dan mintalah petunjuk kepada Allah karena segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya’,” katanya.
Ketika pengumuman SNBP tiba, dan anaknya berhasil diterima di ITB. Saptono mengaku tidak mampu mengungkapkan kebahagiaannya.
“Saya hanya dapat mengucapkan syukur, lalu sujud syukur. Sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin, ketika Allah menentukan, ternyata dapat terjadi,” ujarnya.
Raih KIP Kuliah
Kebahagiaan tersebut sempat disertai kekhawatiran mengenai biaya pendidikan. Namun, Saptono memilih untuk terus berusaha dan meyakini bahwa akan ada jalan bagi pendidikan putrinya.
Mutiara kemudian memperoleh dukungan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Menurut Mutiara, dukungan tersebut sangat berarti karena membuatnya dapat lebih fokus belajar tanpa terus memikirkan biaya kuliah.
Lihat Juga :