Inspiratif, 18 Dosen Perempuan Tuangkan Keprihatinan dalam 'Corpus Puisi Pandemi'
Selasa, 29 September 2020 - 16:15 WIB
loading...
A
A
A
Begitu pula dengan Yvonne de Fretes, mantan wartawan, penulis aktif antara lain di majalah Horizon dan pernah aktif dalam berbagai komunitas literasi dan sastra mengatakan, “Dunia sastra jarang dilirik orang. Tentu anda (para penulis) melalui proses kreatif yang luar biasa. Bisa dimana saja di tengah kesibukan sehari-hari.” terangnya.
Lebih jauh Yvonne de Fretes memberi contoh proses kreatif para perempuan penulis dunia. Sebelumnya Yvonne de Fretes dan Jose Rizal Manua telah menorehkan kesan-kesan di Antologi CORPUS ini setelah dikirimi naskahnya.
Selain diskusi, launching ini juga menampilkan cerita Novi Kurnia, Koordinator Japelidi, dari UGM saat proses menulis. Juga penampilan live baca puisi oleh Liliek Budiastuti Wiratmo dari Undip, Fitria W.Roosinda dari Ubhara Surabaya. Semakin menarik juga dengan pembacaan parade puisi secara daring oleh Lintang Ratri dari Undip, Roro Retno Wulan dari Telkom University Bandung, dan Gilang Desti Parahita dari UGM. (Baca juga: Pendidikan Vokasi Persiapkan SDM Handal Masuki Dunia Industri )
Acara semakin menarik dengan moderator Monika Sri Yuliarti dari UNS dan MC Made Dwi Adnjani dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Menariknya lagi, acara launching ini seluruh pelaksanaan IT juga dilakukan sendiri oleh para penulis dengan Koordinator Yenni Siswantini dari Binus Jakarta dan Soraya Fadhal dari Universitas Al Azhar Indonesia.
Sementara itu, Ketua Launching buku Eni Maryani mengatakan bahwa puisi memberi kebebasan mengungkapkan apa yang dipikirkan dan rasakan dalam beragam bentuk bahkan dalam bentuk yang paling imajinatif. Isunya dapat berasal dari kejadian yangs sederhana sampai dengan hal-hal luar biasa, seperti pandemi ini.
Lebih jauh Yvonne de Fretes memberi contoh proses kreatif para perempuan penulis dunia. Sebelumnya Yvonne de Fretes dan Jose Rizal Manua telah menorehkan kesan-kesan di Antologi CORPUS ini setelah dikirimi naskahnya.
Selain diskusi, launching ini juga menampilkan cerita Novi Kurnia, Koordinator Japelidi, dari UGM saat proses menulis. Juga penampilan live baca puisi oleh Liliek Budiastuti Wiratmo dari Undip, Fitria W.Roosinda dari Ubhara Surabaya. Semakin menarik juga dengan pembacaan parade puisi secara daring oleh Lintang Ratri dari Undip, Roro Retno Wulan dari Telkom University Bandung, dan Gilang Desti Parahita dari UGM. (Baca juga: Pendidikan Vokasi Persiapkan SDM Handal Masuki Dunia Industri )
Acara semakin menarik dengan moderator Monika Sri Yuliarti dari UNS dan MC Made Dwi Adnjani dari Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Menariknya lagi, acara launching ini seluruh pelaksanaan IT juga dilakukan sendiri oleh para penulis dengan Koordinator Yenni Siswantini dari Binus Jakarta dan Soraya Fadhal dari Universitas Al Azhar Indonesia.
Sementara itu, Ketua Launching buku Eni Maryani mengatakan bahwa puisi memberi kebebasan mengungkapkan apa yang dipikirkan dan rasakan dalam beragam bentuk bahkan dalam bentuk yang paling imajinatif. Isunya dapat berasal dari kejadian yangs sederhana sampai dengan hal-hal luar biasa, seperti pandemi ini.
Lihat Juga :