Wow, Dosen Muda ITS Ini Memiliki H-Index Scopus 21
Selasa, 06 Oktober 2020 - 13:42 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, Dhika juga tercatat memiliki nilai dari h-indeks-nya yang melampaui angka 20. Nilai h-indeks Dhika pada Scopus mencapai angka 21 dan pada Google Scholar mencapai angka 24. Indeks ini didasarkan pada jumlah karya ilmiah yang dihasilkan oleh seorang ilmuwan dan jumlah sitasi atau kutipan yang diterima dari publikasi lain.
“Semakin besar angka pada indeks artinya semakin banyak ilmuwan lain yang mengutip dan artinya impact dari jurnal kita juga semakin besar,” ucapnya.
Dhika juga menorehkan prestasi melalui proyek-proyeknya yang mendapatkan dana hibah dengan pendanaan yang sangat besar. Salah satu pendanaan yang masih aktif hingga 2022 nanti adalah penelitian bertajuk Semantic Visual Indoor Positioning System with Real-time Analytics, Co-Investigator yang mendapat dana sebesar USD 372.360 oleh Industry Alignment Fund - Industry Collaboration Projects (IAF-ICP).
Dengan pencapaiannya tersebut, tak heran Dhika mampu diterima menjadi dosen di ITS melalui jalur non pegawai negeri sipil (PNS). Selain kuota penerimaannya yang sangat sedikit, jalur non PNS ini merupakan jalur rekrutmen dosen yang memiliki persyaratan yang cukup rumit.
Setelah hampir dua bulan menjadi dosen di DTEO ITS, Dhika yakin bahwa dengan kepulangannya ke Indonesia, ia bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang. Dhika pun sangat merekomendasikan bagi rekan ilmuwan Indonesia untuk mengajar di Indonesia agar bisa membantu memajukan negeri.
“Semakin besar angka pada indeks artinya semakin banyak ilmuwan lain yang mengutip dan artinya impact dari jurnal kita juga semakin besar,” ucapnya.
Dhika juga menorehkan prestasi melalui proyek-proyeknya yang mendapatkan dana hibah dengan pendanaan yang sangat besar. Salah satu pendanaan yang masih aktif hingga 2022 nanti adalah penelitian bertajuk Semantic Visual Indoor Positioning System with Real-time Analytics, Co-Investigator yang mendapat dana sebesar USD 372.360 oleh Industry Alignment Fund - Industry Collaboration Projects (IAF-ICP).
Dengan pencapaiannya tersebut, tak heran Dhika mampu diterima menjadi dosen di ITS melalui jalur non pegawai negeri sipil (PNS). Selain kuota penerimaannya yang sangat sedikit, jalur non PNS ini merupakan jalur rekrutmen dosen yang memiliki persyaratan yang cukup rumit.
Setelah hampir dua bulan menjadi dosen di DTEO ITS, Dhika yakin bahwa dengan kepulangannya ke Indonesia, ia bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang. Dhika pun sangat merekomendasikan bagi rekan ilmuwan Indonesia untuk mengajar di Indonesia agar bisa membantu memajukan negeri.
Lihat Juga :